(18+)
🦋Novel by LsnaaLuna_🦋
PLAGIAT PERGI JAUH-JAUH! HARGAI KARYA YANG SUSAH PAYAH SAYA BUAT⚠️
"Gue gak janji gue bisa nahan diri gue kalau posisi lo gini Violence, gue udah mati-matian nahan diri gue biar gak kurang ajar sama lo."ucap Brayen bera...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Arghh."Brayen menggeram pelan sambil mengacak-acak rambutnya. Berguling-guling diatas matras seperti anak kecil yang tengah merajuk pada ibunya.
Sejak balasan Violence masuk dan mengatakan jika ia tengah sibuk membuat Brayen gusar setengah mati, tak tahu kah wanita itu jika Brayen sudah merindu setengah mati. Persetan dengan pendapat orang lain tentang itu, Brayen hanya merindukan wanitanya, itu saja.
Banyak hal berusaha ia lakukan, berlatih hingga larut malam, namun nyatanya semua itu tak mampu menghilangkan Violence dari pikirannya.
Disinilah Brayen sekarang, terus berguling-guling gusar. "Ini gejala awalnya apa woy, si bos kena pelet gak tuh? kita bawa ke ustadz aja apa gimana ini Vid?"tanya Farhan yang menatap heran kearah Brayen.
Keempat anggota inti itu dibuat bingung oleh sikap ketua mereka. Sedangkan anggota Raystrack lainnya disuruh pulang untuk istirahat. Hanya tersisa Brayen dan anggota inti Raystrack.
Alex menepuk bahu Farhan cukup keras membuat Farhan tersedak karenanya. Bagaimana tidak, Farhan tengah sibuk memakan cemilan saat ini, "Sembarangan lo kalau ngomong, gini-gini ketua kita tuh, asal ngomong aja lo."sewot Alex.
Farhan susah payah meraih air didepannya, menelannya hingga tandas, "Sialan lo, untung gue gak kenapa-kenapa."jawab Farhan kesal setengah mati. Sedangkan David masih fokus merekam kelakuan Brayen yang seperti anak-anak.
Rifki tertawa terbahak-bahak, entahlah ia suka melihat Farhan menderita seperti itu. "Kita harus laporan nih woy sama bu bos. Melaporkan keadaan pak ketua yang sedikit mengenaskan."usul David tiba-tiba.
"Gue gak punya nomor bu bos, cuman pak ketua yang punya."peringat Alex.
"Ah gue punya rencana nih."ucap Rifki tiba-tiba sambil melirik ke arah ponsel Brayen yang tergeletak dilantai, sedangkan Brayen masih sibuk berbaring diatas matras sambil sesekali menutup matanya dengan tangannya.
"Gue gak percaya sama lo Ki, diem lo, biasanya lo nyiksa gue kalau udah beginian."jawab Farhan, firasat nya tak enak kali ini.
"Buruan gimana?"tanya David penasaran, sama halnya dengan Alex yang fokus mendengarkan.
"Gini nih, Farhan lo alihin perhatian bos, ajak ngobrol aja. Nanti gue sama yang lainnya ngambil tuh hp buat foto nomor bu bos."ucap Rifki tenang.
"Tuh kan, perasaan gue emang udah gak enak dari awal. Lo ada dendam apa Ki sama gue? Lo mau gue ngomong sama pak ketua sama aja kaya gue bicara sama singa yang lagi laper! Salah dikit dimakan gue Ki!"kesal Farhan tak terima.
Alex dan David tertawa kencang mendengar keluhan Farhan. "Kenapa harus gue bego? Yang lain aja, lo gak ada akhlaknya emang. Benci banget ni gue sama lo. Gue sebenarnya udah lama juga marah sama lo nih, cuman gue diem aja!"jawab Farhan sewot.
Alex tertawa sampai terbatuk-batuk karenanya, "Tapi usul Rifki ada benernya woy, ayo kita lakuin sekarang."ajak Alex tanpa rasa bersalah.
"Buruan ah keburu tuh ponsel diambil pak ketua!"kesal David.