Like a farewell sentence.

34.5K 2.1K 78
                                        

Jam sudah menunjukkan pukul 1 tengah malam, bersamaan dengan Naura yang baru saja memasuki kamar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jam sudah menunjukkan pukul 1 tengah malam, bersamaan dengan Naura yang baru saja memasuki kamar. Violence masih terus bergulat dengan beberapa berkas ditangannya.
"Violence, lo kok belum tidur sih? Ini udah jam 1 malam loh."heran Naura sambil meraih kursi dan duduk di dekat Violence.

Violence tersenyum getir, sebenarnya ia lelah sekali, matanya juga terasa berat, tapi berkas-berkas ini harus ia selesaikan secepatnya.
"Ini hukuman buat gue, gue harus selesaiin beberapa berkas penting yang akan bokap gue bawa ke luar negeri besok."jawab Violence sambil terus mengotak-atik komputer didepannya.

"Sebanyak ini Violence? Kapan lo bisa tidur kalau kaya gini?"protes Naura.

Violence terkekeh pelan, "Ya gak usah tidur, gue bisa tidur besok pas pulang sekolah."jawab Violence santai.

Naura dibuat kaget dengan jawaban yang keluar dari mulut Violence barusan.
"Apa? Gak tidur? Violence lo itu bukan robot, lo gak bisa kaya gini, gue bantuin deh biar cepet."usul Naura.

Violence menahan tangan Naura yang berusaha meraih berkas itu, ia menggeleng pelan.
"Kenapa Violence? Gue tau gue emang gak menguasai bisnis kaya lo, tapi gue bisa kok bantuin lo."ucap Naura penuh penekanan.

"Bukan gitu Ra, kalau bokap gue tau lo bantuin gue, hukuman gue akan jauh lebih berat dari ini, gue bisa sendiri kok. Ini konsekuensi yang harus gue terima karena gue nekat pacaran sama Brayen, gue mohon jangan kasih tau Brayen soal ini, gue gak mau dia khawatir sama gue. Gue rela ngelakuin semua ini asalkan bokap gue gak nyalahin Brayen soal ini. Gue siap dengan hukuman seberat apapun asalkan Brayen tetap di samping gue."lirih Violence penuh keyakinan.

Naura menatap sendu kearah Violence, "Gue tau Brayen berharga banget buat lo Violence, dan gue akan ngertiin lo soal itu. Yaudah kalau gitu gue temenin aja gimana?"usul Naura lagi.

"Jangan Ra, lo pasti capek seharian di rumah sakit, sekarang lo tidur aja. Kalau ini udah selesai gue tidur kok. Tenang aja."jawab Violence dengan senyuman manisnya.

"Yaudah deh kalau gitu, tapi janji ya, kalau selesai langsung tidur."tegas Naura.

Violence mengangguk pelan, "Janji deh, lo tidur dulu aja. Nanti gue nyusul."ucap Violence.

"Oh iya, gue gak enak sebenarnya nanya soal ini, tapi kalau boleh tau, kenapa lo di panggil nyonya? Lo kan bukan istri bokap lo? Kenapa harus nyonya, kenapa gak Nona aja?"tanya Naura beruntun.

"Oh soal itu, panggilan nyonya itu sebenarnya buat nyokap gue kan, tapi karena bokap gue gak mau panggilan itu hilang, jadi bokap gue pengen semuanya panggil gue nyonya buat gantiin posisi nyokap gue."jelas Violence.

Naura mengangguk mengerti, "Yaudah deh, gue tidur duluan ya."pamit Naura.

Naura akhirnya memutuskan untuk tidur lebih dulu. Meninggalkan Violence yang masih sibuk dengan berkas sebanyak itu.

Violence menghela nafas berat, rasanya ini tak akan selesai jika ia tidur, ini mungkin saja selesai 4 jam lagi. Violence tak punya waktu untuk sekedar beristirahat.

VIOLENCE Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang