Fighting for blessing.

35.2K 2.2K 115
                                        

30 menit berlalu begitu cepat dari biasanya, Brayen masih terus berdiri didepan cermin sambil sesekali menghela nafasnya gugup

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

30 menit berlalu begitu cepat dari biasanya, Brayen masih terus berdiri didepan cermin sambil sesekali menghela nafasnya gugup. Merapikan penampilannya jadi lebih sopan dari biasanya. Jika biasanya ia memakai celana jeans yang sobek di bagian lututnya, sekarang ia mengenakan celana jeans yang jauh lebih layak.
"Aduh gue kok gugup ya anjir."lirih Brayen sambil memegangi dadanya, rasanya jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

Brayen mengenakan celana jeans berwarna abu-abu kehitaman, tidak ketat seperti biasanya. Ia juga mengenakan kemeja berwarna navy dengan jam tangan hitam yang melingkar di tangan kirinya.

Kepercayaan diri yang biasanya selalu ia pegang erat, kini seolah musnah dalam sekejap mata. Mendengar akan makan malam dengan Johannes membuat Brayen gugup setengah mati, bagaimana ia harus menghadapi ayah dari kekasihnya itu.

Setelah dirasa cukup, Brayen bergegas menuju garasi mobilnya. Ada 4 buah mobil yang berjejer rapi disana, jika biasanya Brayen akan naik motor sport saja. Kini ia bingung memilih mobil apa yang akan ia bawa ke rumah Violence nanti. Ia harus tampil sempurna dan harus keliatan lebih mewah. Brayen takut Johannes akan mengusirnya, itulah yang Brayen pikirkan sekarang.

Mengingat mobil sport yang biasanya Violence kendarai termasuk mobil yang tergolong sangat mahal membuat Brayen tentunya tak mau kalah juga. Johannes bisa saja membandingkan mobilnya dengan mobil Violence nanti.

Banyak sekali pikiran-pikiran Brayen yang membuatnya semakin pusing. Ia menakutkan segala hal, bagaimana jika Johannes mempertanyakan soal kekayaan yang ia miliki? Bagaimana jika Johannes ingin tau tentang prestasi atau yang lainnya. Brayen dibuat pusing tujuh keliling karenanya.

Setelah bergulat cukup lama dengan beberapa pilihan mobil itu, akhirnya Brayen memutuskan untuk memakai mobil Rolls-Royce Sweptail yang ia beli dengan kisaran harga 13 juta dolar AS atau setara dengan 184,8 miliar rupiah.

Ia rasa mobil itu cukup pantas untuk ia bawa kesana malam ini. Ia tidak akan malu jika Johannes melihat salah satu mobilnya itu.

Tak ingin terlambat di hari pertemuan pertamanya atau bahkan memberi kesan buruk nantinya, akhirnya Brayen melajukan mobilnya dengan cepat menuju lokasi rumah Violence yang baru saja ia dapatkan.

Tak perlu waktu lama, mobil Brayen sudah berhenti tepat didepan gerbang rumah bak istana. Brayen sedikit kaget melihat rumah Violence. Rasanya ini tak layak di sebut rumah, ini seperti istana yang begitu luas.

Brayen menghela nafasnya berkali-kali sebelum turun dari mobil. Dari sini saja Brayen sudah bisa melihat ratusan bodyguard yang berjaga di sekeliling gerbang masuk juga didepan pintu rumahnya.

Perasaan Brayen jadi tidak enak, sepertinya ini tak semudah yang ia kira. Tak mungkin para bodyguard ini akan membiarkannya masuk begitu saja. Semuanya seolah sudah direncanakan.

Benar saja baru saja Brayen melangkahkan kakinya mendekati gerbang masuk itu, puluhan bodyguard Violence langsung menyerangnya secara bersamaan.

Brayen tentu tak akan tinggal diam, meski dengan lawan yang tak sebanding, namun Brayen cukup mampu untuk ini. Gelarnya sebagai ketua geng motor benar-benar berguna saat ini. Ia harus menghadapi ratusan bodyguard ini sendiri, yang benar saja.

VIOLENCE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang