Close relationship!

66.4K 3.2K 6
                                        

Brayen terus menatap layar ponselnya yang tak kunjung menyala, menandakan Violence tidak membalas pesan-pesan yang ia kirimkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Brayen terus menatap layar ponselnya yang tak kunjung menyala, menandakan Violence tidak membalas pesan-pesan yang ia kirimkan. Sebelum Violence pulang, gadis itu memberikan nomor ponselnya pada Brayen, hal itu membuat Brayen begitu bahagia. Merasa bahwa Violence memberikan lampu hijau padanya.

Merasa gusar karena tak kunjung mendapat balasan, akhirnya Brayen memutuskan untuk menelpon Violence saja.

Panggilan pertama, tidak diangkat. Brayen tak menyerah, ia mencoba menghubungi Violence lagi.
"Iya, kenapa Brayen?"suara Violence terdengar indah ditelinga Brayen.

"Gak papa sih, gue khawatir aja, lo lagi dimana sekarang?"tanya Brayen basa basi.

"Cepetan ngomong lo perlu apa? gue sibuk!"jawab Violence kesal, random sekali pria ini. Menelponnya hanya untuk menanyakan keberadaannya.

"Lo lagi dimana sih? Ribut banget suara motor?"heran Brayen.

"Gue mau balapan Brayen, udah dulu ya. Telponnya nanti lagi aja, jangan sekarang."kesal Violence yang merasa dirinya terganggu.

Mata Brayen melotot mendengar Violence akan balapan, wanita itu baru saja jatuh dari motornya kemarin dan sekarang ia nekat balapan? Wanita gila.
"Sharelok sekarang, gue kesana."putus Brayen tegas.

Tak ingin buang-buang waktu, Violence memutuskan teleponnya. Tak lama setelahnya Violence mengirim lokasi ia balapan pada Brayen. Brayen dengan cepat melajukan motornya ke area balapan itu.

Sedikit terlambat, bahkan bisa dibilang sangat terlambat. Bersamaan dengan kedatangan Brayen, balapan itu sudah dimulai. Brayen bisa melihat jelas Violence berada ditengah lintasan itu.
"Shit, gue telat sialan."Brayen memukul setang motornya karena kesal.

Tak ada pilihan lain, ia hanya bisa menunggu digaris finish, menunggu balapan itu benar-benar selesai.

Sorakan heboh penonton memenuhi area itu, hingga selang beberapa menit motor Violence sudah berhenti tepat digaris finish, seperti biasa wanita itu sangat handal dalam balapan. Bukan hal yang baru lagi baginya dalam memenangkan setiap balapan yang ia ikuti. Semuanya mudah saja bagi Violence.

Violence menuruni motornya dengan senyum sumringah, menjabat tangan lawan balapannya hari ini.
"Nanti gue transfer seratus jutanya ya Violence, lo jago banget tadi balapannya."puji seorang pria tampan yang kini tengah berjabat tangan dengan Violence.

"Ah thank you ya Vin, kapan-kapan kita balapan lagi."ucap Violence senang.

Tanpa mereka sadari Brayen memasang muka malas menatap kedua sejoli yang terlihat begitu akrab itu. Ia cemburu? Ah ia gengsi mengakui itu, tapi ia benar-benar cemburu sekarang.

Brayen mendekat meraih tangan kiri Violence untuk menjauhi pria itu, Violence sempat kaget karena kedatangan Brayen yang tidak ia sadari.
"Lo baru jatuh dari motor kemarin Violence, kenapa lo balapan? Kalau lo perlu uang, gue bisa kasih! Berapapun yang lo mau. Bisa gak sih gak bikin gue khawatir kaya gini?"ucap Brayen frustasi.

VIOLENCE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang