sakit mentari

172 21 4
                                        



Dari kejauhan geo melihat anak dari sahabatnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Dari kejauhan geo melihat anak dari sahabatnya.membuatnya menghela nafas sejenak dan melangkah mendekati acha ."eh, ada acha"sambut geo dengan senyuman sebisanya. Walaupun hati nya sedang kesal dengan kejadian barusan.

"Om? Ada raga nya ngk" Tanya acha. "Ada, kok di dalem" acha mengangguk. "Om geo bisa ngk besok kita makan malam sambil liat senja gitu om" Geo mengeyir"besok?"acha mengangguk.

"Iya, om besok ada yang mau acha bicarakan. Tentang perjodohan acha dan raga om" Geo tersenyum dan mengelus puncak kepala acha dengan lembut"iya, tunguin yah besok jam nanti om, tante sama raga raka datang"

"Wah, makasih yah om"
"Yaudah, acha nemuin raga dulu yah om" Geo mengangguk.

"Om pergi keluar sebentar yah"
"Iyaaaa om"Acha melanjutkan Jalan nya. Tiba tiba langkah nya sedikit terhambat, melihat raga yang Sunday babak blur.

"raga" Guman acha. Ia berlarian, dan langsung memeriksa wajah raga yang penuh dengan lebam kebiruan"kamu kenapa? Pasti gara gara nilai kamu yan--"belum sempat acha melanjutkan ucapannya. Raga langsung menutup mulu nya dengan jari"mending diem, dari pada gue usir"

Acha, menopang tangan , sambil memayunkan bibirnya. Sambil menatap luka luka di wajah ragam

"Eh, ada acha" Vivi datang membawakan, kompres dan obar p3k. "biar acha aja tan"Vivi berikan nya. Acha menghela nafas duduk di sofa.dan membersihkan luka di wajah raga Dengan sangat hati hati dan telaten.

" Memang yah kalian itu serasi  banget jadi pasangan . Jadi ngk sabar nikahin kalian"guman vivi, Acha hanya tersenyum tipis.

Kini acha dan raga sedang berjalan berdua

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kini acha dan raga sedang berjalan berdua. Acha yang tadi nya ingin pulang cepat tidak jadi. Di karena kan Vivi menyuruh mereka untuk memberi susu formula untuk Raka yang sudah menangis.

" Gimana? Hubungan nya dengan mentari?"raga menoleh menatap acha. "Gpp, baik banget nambah romantis malahan"

"Oh"

"Katanya, kamu cinta sama  aku? Kenapa kamu ngk pernah marah aku sama yang lain cha" Acha tersenyum miris mendengar pertanyaan itu.

"Cinta,itu tidak harus untuk   memiliki" Acha mantap raga "jika pilihan mu bersama nya adalah bahagia aku ikut senang"

"Walaupun sulit" Batin acha.

Raga terdiam mendengar jawaban dari acha. Ia menatap mata manik acha dengan sunguh sunguh mencari jika ada tetesan atau ketidak ikhlasan dari acha.

Take butuh waktu lama mereka berdua sudah sampai ke mini market tedekat. Acha langsung masuk dan raga hanya menungu di luar tak ikut masuk. "Kok, ngk rela yah"batin raga.


Kini semua sudah datang di restoran bintang lima, tepat dengan yang acha dan raga rencana kan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kini semua sudah datang di restoran bintang lima, tepat dengan yang acha dan raga rencana kan. Sudah ada irene, nana, geo,vivi dan juga satria.

Acha, raga rak dan mentari disana.

"Apa? Maksud kalian, ngundang kami kesini?" Tanya satria. Acha dan raga saling melirik. Acha menghela nafas. "Acha mau, perjodohan acha sama raga di batalkan"

Geo dan satria saling melirik "apaa! Maksud! Kalian, perjodohan tetap tidak bisa di batalkan seenak itu"

"Om,pah mah bunda"
"Acha sama raga ngk bisa jalin hubungan kek gini kami tidak sama sekali saling mencintai. Raga mencintai mentari dan acha juga bagitu mencintai raka. Kami tidak bisa membohongi perasaan kami masing masing. Itu sangat tidak baik nantinya" Jelas acha.

Irene tersenyum tipis , mengelus punggung suaminya "mas, sebaiknya kita batalkan saja. Mereka juga sudah cukup dewasa untuk mencari pasangan yang baik. Pernikahan tampa ada rasa cinta dan kasih sayang akan berakhir dengan perpisahan yang tragis" Ujar Irene.

"Aku, setuju perkataan Irene mas. Biarkan mereka bahagia dengan pilihan mereka masing masing" Lanjut vivi.

Gio menatap satria sejenak. "Iya aku setuju untuk membatalkan perjodohan ini? Apa kau kau begitu. Satria" Satria tersenyum. "Kalo di pikir pikir tidak baik untuk memaksakan kehendak jadi perjodohan ini di batalkan"

Acha menatap raka yang berada di samping nya dan tersenyum gembira. Memeluk raka dengan haru. Sedangkan raga mantap mentari dengan senyuman sambil mencium pungung tanggan mentari.

"Makasih pah, mah bunda om dan tante "

"Sama sama, cha"

"Acha ayoo nanyi bareng" Teriak raka berlarian, menuju panggung. Acha tersenyum dan ikut naik ke atas panggung.

Mereka beryanyi bersama dengan penuh canda dan tawa. Irene melihat anak kandung nya sekarang terlihat sangat bahagia bersama raka. Membuat nya sangat bahagia dan tenang. Dulu jika di ingat ingat acha jauh dari kata bahagia. Mencintai raga yang selalu mengingankan mentari. Membuat acha menahan cemburu dan sakit hati.

"Semoga, kamu selalu bahagia yah cha" Batin Irene.

"Tenang bila dekat dengan mu"
"Kamu yang aku tuju"
"Yang lain nya ku tidak mau"raka sambil memebernarkan rambut kecil acha yang terurai menutupi wajahnya.

Raka tidak pernah bosan menatap wajah kekasihnya. Yang terlihat sangat manis dengan lesung pipi cerihasnya. Apa lagi dandanan natural di wajah Acha sangat menambah nilai cantik untuk Acha.

Mentari, dan raga hanya bertepuk tangan sambil mendegar nyayian dari raka dan Acha. Di pangung Sana.

" Kok, perut ku nyari banget yah"batin mentari megelus ngelus perut nya. Dengan perlahan"plis, jangan nyerii berlebihan kek gini nanti ketahuan mati aku"batin mentari. Ia menungakan air Putih di cangkir yang sudsh di Siapkan. "Aduh, awhh"

Semua orang mendegar ringisan mentari menoleh dan mendekati mentari. Acha dan raka pun turun dari pangung. "Tari? Kamu kenapa" Tanya raga.

"Ngk, aku ngk gpp awhh ah sakit"

"GA gendong mentari kita bawa dia kedokter"

"Ngk, pah palingan sakit biasa" Sela mentari.

"Ayo, ga Papa ngk mau kamu kenapa kenapa" Mentari hanya bisa diam sulit untuk nya Mengelak sakit perut nya sudau meradang.

"Astagfirulah, darah" Ujar irene melihat darah yang mentes di kaki mentari.

Raga memasukan mentari ke mobil dan mulai mencapkan gas"Mantari, kamu yang kuat sebentar lagi sampe"

unconditionalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang