#21

1K 82 12
                                    

"Moya, kamu pesan apa?"

Kini Arabela, Aldebran, Morana dan Damian sudah berada di Restoran milik resort tempat mereka bermalam. Tadinya Aldebran memilih tempat di luar resort tetapi karena cuaca tidak mendukung, hujan mengguyur sangat deras, membuat Aldebran mengurungkan niatnya.

Morana tersenyum. "Carbonara Fettucini, please."

Aldebran mengangguk. Kemudian pria itu beralih ke Arabela yang terdiam membaca menu. Sempat beberapa kali kening Arabela mengerut menandakan wanita itu bingung mau memilih menu apa. Aldebran tersenyum kecil. "Mau steak yang kemarin?"

Merasa ada yang mengajaknya bicara, Arabela pun mendongakkan kepalanya. Arabela melihat Aldebran menatapnya, kemudian ia menggeleng. "Dari sekian banyak menu masa steak terus?"

"How about Pan Seared Atlantic Salmon?" saran Aldebran membuat Arabela mencari foto dari menu yang disebutkan oleh pria tersebut.

Sebenarnya dari nama saja sudah tertebak makanan seperti apa itu. Tetapi dikarenakan selera makan Arabela bisa terpengaruh oleh foto makanan tersebut membuat ia harus melihat bentuk dari makanan itu terlebih dahulu. Apalagi Arabela belum pernah memesan menu itu sebelumnya. Setelah mendapatkan fotonya, Arabela tersenyum kemudian mengangguk antusias. Salmon segar itu membuat Arabela tergugah.

Setelah selesai menyebutkan semua pesanan, waitress tersebut meninggalkan meja Arabela dan lain-lain. Mata Arabela menatap lurus laut yang terbentang luas tidak jauh dari restoran ini. Sebenarnya Arabela ingin kembali menginjakkan kaki di pantai tetapi sekali lagi, hujan deras membuat semua rencana berubah.

"Nona, ponselmu mau jatuh."

Suara Damian yang duduk di hadapan Arabela terdengar membuat Arabela mengalihkan pandangannya. Arabela mengangkat alisnya dan melihat Damian menunjuk ponsel Arabela yang berada di ujung meja. Arabela mengangguk. "Thanks." begitu Arabela tersadar dengan panggilan Damian, kening Arabela mengerut tidak suka. "Kayaknya saya harus memberlakukan denda kalau kamu tetap panggil saya Nona, Mian."

Perkataan Arabela membuat Aldebran yang tengah berbicara dengan Morana pun menoleh. "Mian?" tanyanya bingung.

Arabela menatap Aldebran yang berada di sampingnya pun mendengus. "Damian, Al."

"Call him Ian. Gak cocok Mian." protes Aldebran.

"Damian aja nggak protes, kok kamu protes?" seru Arabela.

Aldebran mendengus kemudian menatap Damian. "Mian atau Ian?" tanya Aldebran membuat mata Damian melebar. Ia berdeham karena bosnya itu menatapnya tajam.

"Damian." sahut Damian membuat Arabela mendecak.

Damian terdiam di tempatnya. Astaga, kenapa Damian berasa menjadi pelampiasan dari emosi kedua orang di hadapannya itu? Terlihat sekali ada hawa tidak enak dari keduanya. Bahkan sedaritadi dapat dilihat bahwa Arabela menghindari kontak mata dengan Aldebran. Damian meneguk salivanya susah payah, ia kemudian melirik Morana yang terlihat tenang. Apakah disini hanya ia yang merasakan hawa tidak enak dari dua orang di hadapannya?

"Dua minggu lagi cabang beauty clinic ku dibuka di dekat kantormu, Le. Jangan lupa dateng ya?" suara Morana terdengar memecah keheningan.

Aldebran beralih ke Arabela. "Dua minggu ke depan jadwalku apa?"

Arabela yang ditanyapun mengedikkan bahu. "Nggak tau." sahutnya jutek membuat Aldebran mengangkat alisnya.

Aldebran tidak tahu kenapa hari ini Arabela sangat jutek kepadanya. Padahal mereka belum berbicara sedikitpun. Apakah Aldebran melakukan kesalahan? Seingatnya tadi malam Arabela mengizinkan Aldebran untuk tidur bersamanya. Apa karena Aldebran pergi tanpa pamit jadi wanita itu marah kepadanya? Andai saja jika mereka berdua saat ini maka Aldebran bisa dengan leluasa berbicara dengan Arabela.

INTO YOU [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang