Dan ternyata kepulangan mereka dipercepat. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Arabela dan Aldebran sampai di kotanya, New York. Saat ini jam menunjukan pukul 22.30 P.M di mana langit sudah sangat gelap. Tetapi berbeda di kota ini, walau sudah mau tengah malam keramaian di kota ini tetap terlihat seakan-akan kota ini tidak pernah tidur. Pasalnya Arabela dan Aldebran bahkan terjebak macet di waktu yang hampir tengah malam ini.
Arabela mendecak, sungguh kepalanya pusing karena jet lag dan ia butuh merebahkan dirinya di kasur sekarang. Sedaritadi yang Arabela lakukan adalah berdecak, menggerutu, dan bahkan sempat memaki jalanan yang macet. Astaga, kapan Arabela akan tiba di Apartemen jika begini caranya?
Berbeda dengan Aldebran, pria itu menyikapi jet lag nya dengan santai. Ia bahkan masih bisa memainkan ponselnya dengan waktu yang lama. Ketika Arabela mendecak, menggerutu, ia melirik sekilas untuk melihat ekspresi Arabela. Dan ketika wajah wanita itu mulai pucat, Aldebran menghela napas. Ia memijit nomor orang kepercayaannya lalu menempelkan ponselnya ke kupingnya.
"Saya terjebak macet. Bawa petugas untuk kawal mobil saya."
klik
sambungan terputus
Arabela di sebelahnya menatap Aldebran tidak percaya. Apakah pria itu benar-benar minta dikawal?
"Apa?" Ucap Aldebran saat melihat Arabela yang menatapnya tanpa kedip.
"Sepenting apa kamu sampe petugas kepolisian mau kawal kamu?" Tanya Arabela.
Aldebran mengangkat salah satu sudut bibirnya. "Lebih penting dari yang kamu bayangkan."
Arabela mendecih. "Percaya diri sekali."
"Silakan searching pengaruh aku terhadap perekonomian negara ini." Ujar Aldebran.
"Males. Ngapain juga harus cari tahu tentang kamu?"
"Supaya misi kamu lancar."
Arabela mendelik. "Bisa gak, gak usah bawa-bawa tentang misi itu?" Ujarnya garang.
"Kenapa?"
"Make it all natural. Okay?"
Aldebran mengangguk. "Oke. Jadi anggap saja kita sedang masa pendekatan?"
Arabela memutar bola matanya. "Terserah."
Dan tak lama suara sirine khas kepolisian terdengar. Arabela melihat di luar kaca mobil, seseorang dengan motor besar menggunakan pakaian serba hitam berhenti di samping kacanya. Arabela kemudian melirik Aldebran yang mengangguk kepada orang tersebut dan motor itu melesat ke depan mobil mewah ini diiringi dengan beberapa motor polisi di belakangnya. Arabela takjub, seumur-umur ia baru merasakan yang namanya dikawal. Seperti orang penting. Dan walau ia malas untuk mengakuinya, tetapi Aldebran memang benar sepenting itu.
Sebenarnya dikawal seperti ini terdengar egois tetapi untuk kalangan seperti Aldebran di mana tiap detiknya menghasilkan uang jika macet seperti ini akan sangat merugikan. Arabela yakin yang terjebak macet seperti dirinya akan merasakan jengkel karena diharuskan minggir terlebih dahulu agar yang dikawal lewat terlebih dahulu. Tapi apa boleh buat, Arabela sendiri juga sudah terlalu mabuk udara untuk memusingkan apa yang orang lain katakan.
Hingga tak sampai 10 menit mobil yang ditumpanginya sudah sampai di depan Apartemen Arabela. Arabela melirik Aldebran dengan kesal.
"Harus banget ya dikawal sampe depan apartemen?" Tanya Arabela.
Bagaimana Arabela tidak kesal jika proses 'pengawalan'nnya sampai ke lobby depan apartemennya. Bahkan petugas apartemen yang berada di dalam berhambur keluar untuk melihat apa yang terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
INTO YOU [ON GOING]
Romance[SEQUEL DARI SECOND WIFE] ALDEBRAN & ARABELA ____________________________________________________________________ "Kamu pernah bilang, "I'm so into you.". Tapi satu hal yang lupa kamu jelaskan, kata "You" di kalimat kamu itu mengarah pada siapa? Aku...
![INTO YOU [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/207223544-64-k568573.jpg)