# 6

1.2K 82 3
                                    

Arabela meregangkan tubuhnya. Udara pagi di halaman mansion mewah ini sangat segar membuat Arabela tergugah untuk melakukan jogging sebentar. Semalam, setelah percakapan gila itu, Arabela memutuskan untuk mengiyakannya saja berharap Aldebran tidak serius dengan ucapannya. Dan setelahnya Arabela tertidur tanpa memikirkan perkataan Aldebran sebelumnya.

Arabela akan menjadi pihak yang sangat dirugikan jika Aldebran serius dengan perkataannya semalam. Membelikan pria itu sebuah pulau? Gila saja! Untuk beli satu unit mobil saja Arabela belum mampu apalagi beli pulau yang harganya bisa triliunan! Dan jika Arabela menang ia akan mendapatkan seluruh hidup dari seorang Aldebran, pria arogan, diktaktor dan songong itu? Astaga, rasanya darah tinggi Arabela akan kumat terus-terusan.

Arabela mendengus, mencoba menghilangkan segala sesuatu tentang Aldebran di pikirannya. Hari ini ia ingin pikirannya jadi lebih jernih agar ia bisa menjadi manusia yang berkualitas. Arabela mulai melakukan lari kecil di halaman luas kerajaan keluarganya Aldebran. Di samping kanannya terdapat taman dengan bunga indah yang tengah mekar. Arabela yakin yang mengusulkan tanaman ini adalah Keisha, ibu dari Aldebran. Terlihat sekali bunga yang berwarna putih itu menggambarkan sosok Keisha yang ramah, damai, dan tenang.

Arabela tersenyum melihat bunga itu hingga tak sadar di sebelahnya sudah terdapat Aldebran yang ikutan berlari kecil.

"Suka sama bunganya?"

Suara Aldebran mengagetkan Arabela hingga Arabela berhenti mendadak. Ia menoleh pada Aldebran. "Ngapain kamu di sini?" Tanya Arabela.

"Olahraga. As you can see." Jawab Aldebran.

Arabela mendengus. "Di dalam ada ruangan gym. Kamu mau dekat-dekat dengan saya terus ya?"

Aldebran menggeleng. "Nggak. Saya mau ketemu seseorang di sini."

Arabela melirik kanan kiri. "Mana?"

Aldebran memutar badan Arabela membuat Arabela dapat melihat sosok Morana, adiknya Aldebran, melangkah dengan anggun dari dalam rumah ke arahnya.

"Itu Morana bukan?" Tanya Arabela.

Aldebran mengangguk.

"Kenapa bertemu di sini? Kalian bisa bertemu di dalam?" Tanya Arabela heran.

"Tidak semudah itu. Kita dilarang berinteraksi dari dekat."

Kening Arabela mengkerut. "Kenapa?"

"Kamu tahu siapa wanita yang ada di hati saya?" Tanya Aldebran tanpa menjawab pertanyaan Arabela.

Arabela melirik Aldebran yang menatap Morana begitu intens, begitu pula senyum merekah Morana yang menatap Aldebran.

"D-dia?" Jawab Arabela ragu.

Tetapi anggukan Aldebran membuat Arabela terkejut. Jadi...... Aldebran jatuh cinta dengan adiknya sendiri?

"Bagaimana bisa?" Ucap Arabela dengan nada terkejutnya.

"Tapi kami tidak bisa bersama. Makanya saya bawa kamu ke sini."

Belum sempat Arabela merespon, Morana sudah berada di depannya. Tersenyum sangat manis entah ke arahnya atau ke arah Aldebran. Dan ternyata Morana beranjak ke arah Aldebran, berdiri di depan pria itu tanpa peduli ada Arabela di sampingnya.

Arabela yang masih belum bisa memahami sepenuhnya hanya bisa terdiam bagai patung. Melihat bagaimana cara pandang Aldebran pada Morana yang begitu lembut, pun sebaliknya.

"Ale, aku kangen." Suara lembut Morana terdengar.

Arabela dapat melihat ekspresi Aldebran yang terlihat gusar tetapi matanya tidak bisa berbohong, ia merindukan Morana juga.

INTO YOU [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang