Tiga hari setelah keberangkatan Aldebran ke Jerman, kondisi kesehatan Arabela semakin memburuk. Seperti pagi ini, di saat jarum jam menunjukkan pukul 4.30 pagi, Arabela masih belum bisa memejamkan matanya. Hidungnya yang terasa gatal, temperatur suhu badannya yang tinggi, serta kepalanya yang terasa memutar menghalanginya untuk memejamkan mata.
Arabela bergelung dalam selimut, walau pendingin ruangannya ia biarkan mati tetapi tetap saja tubuhnya terasa menggigil. Tengah malam tadi ia sudah meminum obat yang sempat ia beli kemarin setelah pulang bekerja. Tetapi ternyata obat itu belum mampu menangani flu berat yang dideritanya. Arabela kira ia hanya flu biasa yang akan hilang dalam 3 hari tetapi ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama dan gejalanya memburuk seiring bertambahnya waktu.
Dengan lesu Arabela mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Ia sebenarnya ingin pergi ke dokter dan mengobati flu yang menyiksanya ini. Tetapi selama Arabela berada di New York, ia belum pernah sekalipun datang ke rumah sakit membuat dirinya ragu untuk datang ke sana karena alur pendaftaran yang belum Arabela kuasai. Maka dari itu Arabela membuka ponselnya dan mencari tahu alur pendaftaran untuk berobat ke rumah sakit terdekat di mesin pencarian canggih di ponselnya.
Setelah berselancar selama lima menit di mesin pencarian tersebut akhirnya Arabela sudah memahami tata cara pendaftaran berobat di kota yang tidak pernah mati ini. Arabela memutuskan untuk ke rumah sakit setelah pulang dari kantor nanti.
Kemudian Arabela membuka aplikasi chatting berwarna hijau dan membuka pesan mamanya yang ternyata sudah dikirim dua jam yang lalu.
Uap hidungmu, Bel. Air panas ditetesin minyak kayu putih. Atau mau mama kirim obat cina biar cepat sembuh?
Arabela tersenyum. Saat sakit seperti ini ia jadi merindukan mamanya. Menjadi anak rantau apalagi jarak perbedaan ribuan kilometer itu tidak mudah. Terkadang ia merasa homesick apalagi jika itu terkait mamanya. Jika Arabela masih tinggal bersama orangtuanya itu maka Papa dan Mama Arabela akan memaksa tidur di satu kamar yang sama agar bisa memantau kondisi Arabela. Tetapi sayang, Arabela sudah dewasa dan masa itu sudah lewat belasan tahun yang lalu. Tetapi walau umur Arabela sudah lebih dari 25 tahun, sisi dirinya yang ingin dimanja oleh orangtuanya itu masih ada. Tak heran jika mamanya memberi perhatian kecil walau berupa pesan online, ia akan merasa senang bukan main.
Arabela kemudian mengetikkan balasan pesan untuk mamanya.
To: Super Mama.
Nanti setelah dari kantor, Abel mau ke rumah sakit, Ma. Obat yang tadi malem ternyata gak mempan :(
Abel merupakan panggilan masa kecilnya yang hanya segelintir orang mengetahui panggilan tersebut. Mama, papa beserta teman terdekatnya yang mengetahui panggilan tersebut. Awalnya Arabela tidak suka dipanggil Abel, ia lebih suka dipanggil Bela. Tetapi karena menurut mamanya panggilan Abel lebih modern jadi mau tidak mau Arabela berdamai dengan panggilannya tersebut. Dan sekarang ia merindukan orang memanggilnya dengan nama tersebut.
Sebuah pesan masuk membuat Arabela kembali melihat ponselnya. Bukan mamanya, melainkan nama Aldebran muncul di kolom teratas. Sudut bibir Arabela kembali naik.
From : Aldebran.
Udah bangun apa belum tidur?
To: Aldebran.
Menurut kamu?
From: Aldebran.
Sakit?
To : Aldebran.
Apanya?
From : Aldebran.

KAMU SEDANG MEMBACA
INTO YOU [ON GOING]
Romance[SEQUEL DARI SECOND WIFE] ALDEBRAN & ARABELA ____________________________________________________________________ "Kamu pernah bilang, "I'm so into you.". Tapi satu hal yang lupa kamu jelaskan, kata "You" di kalimat kamu itu mengarah pada siapa? Aku...