#29

1.3K 61 19
                                        

Arabela menatap ponselnya dengan terkejut. Pemberitaan tentang Aldebran yang tertangkap basah membawa wanita yang sedang digendongnya ke dalam kamar yang terdapat di pub itu menjadi trending. Berita yang baru tersebar satu jam yang lalu beserta bukti berupa beberapa foto kini sudah menjadi hot topic yang membuat telepon di meja Priska terus berdering.

Ia tidak mengenal siapa wanita yang digendong Aldebran dan dibawa masuk ke dalam kamar oleh pria itu. Tetapi tanpa bisa Arabela sadari ia merasa sesak. Arabela tahu ia tidak boleh percaya langsung pada media tetapi entah mengapa keberadaan foto-foto tersebut tidak terlihat dimanipulasi. Tanpa mau menereka-nerka, Arabela menghubungi Priska. Ia sebelumnya sudah mencoba menghubungi Aldebran tetapi pria itu tidak menjawabnya.

"Halo." jawab Priska begitu panggilannya tersambung.

Arabela menggigit bibir bawahnya. Ia sebenarnya ragu untuk menanyakannya pada Priska.

"Tentang berita pak Al, ya, Mba?" tanya Priska tepat sasaran.

"Iya. Saya belum berani jawab telepon yang masuk. Nunggu konfirmasi." kilah Arabela. Tujuan sebenarnya yaitu untuk dirinya sendiri. Arabela butuh konfirmasi untuk kepentingan dirinya sendiri tetapi tidak mungkin ia berkata jujur pada Priska.

Terdengar helaan napas Priska. "Saya udah hubungi team PR, Mba. Gak usah dijawab teleponnya, nanti perusahaan rilis konfirmasi sendiri."

Arabela mengangguk. "Jadi benar beritanya?"

"Wanita yang ada di foto itu Diana, Mba. Mantan sekretarisnya pak Al. Tapi saya nggak tau gimana mereka ketemunya. Pak Al pergi gitu aja dan nggak ada instruksi untuk saya ngikutin. Jadi saya belum bisa konfirmasi, Mba."

Jadi wanita yang digendong dan dibawa masuk ke dalam kamar itu Diana?

Oh, Arabela merasakan hatinya kembali berdenyut. Tidak seperti yang Arabela pikirkan, kan?

"Itu kejadiannya waktu pak Al ketemu sama pak Moris." jelas Priska lagi membuat Arabela mengangguk-anggukan kepalanya. Berarti Aldebran tidak berbohong saat tadi malam ia berkata bahwa dirinya menghabiskan waktu di hotel.

Setelah mengucapkan terimakasih, Arabela menutup panggilannya. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi yang sedang didudukinya. Tak bisa Arabela pungkiri, ia merasa gelisah dengan pemberitaan tersebut. Salahkah jika Arabela menginginkan konfirmasi dari Aldebran langsung? Pasalnya pria itu tidak ada kabar sama sekali membuat Arabela semakin gelisah.

Arabela tahu di antara keduanya tidak ada hubungan apapun. Tetapi setelah semua kedekatan yang terjadi, bukankah Arabela berhak menanyakan tentang berita tersebut? Jika memang dikatakan Arabela cemburu, maka Arabela tidak mengelaknya.

i'm all ears if you want to explain about the news.

pesan singkat itu menjadi pesan terakhir yang Arabela kirimkan pada Aldebran.

***

"Bel, dalam sebuah hubungan kuncinya itu saling percaya."

Ucapan Adeeva memecah lamunan Arabela. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore dan sampai saat ini Aldebran tidak membalas satupun pesan Arabela. Efek dari pemberitaan pria itu berhasil membuat Arabela jadi sering melamun sepanjang hari. Beruntung Adeeva mengajaknya keluar sehingga ia bisa sedikit menyingkirkan pemikiran negatifnya tentang Aldebran.

"Kamu percaya kalau kembaranku itu bakal semudah itu tertarik sama cewek lain?" tanya Adeeva.

Arabela tidak mempercayai berita itu seutuhnya. Tetapi konfirmasi Priska yang mengatakan bahwa wanita itu adalah Diana dan memang benar mereka berada di club itu yang membuat Arabela gelisah. Untuk apa Aldebran membawa wanita itu ke dalam kamar? Dan mengapa Aldebran menggendongnya seperti itu?

INTO YOU [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang