"Terimakasih. Ditunggu kabar baiknya." ujar Aldebran begitu selesai membahas kerja sama yang hendak dibangun oleh dua perusahaan berpengaruh di masing-masing negaranya.
Moris mengangguk. Ia kemudian mengangkat gelas berisi alkohol itu. "Sampai kapan di Jerman?" tanya Moris.
Bahu Aldebran perlahan rileks. Walau dirinya dikenal dengan pria yang memiliki aura mematikan, Moris lebih parah. Pria itu penuh intimidasi dan kadar ketampanannya bisa dibilang di atas Aldebran. Aldebran mengakui itu, sedari mereka berada di bangku kuliah, Moris sudah menjadi incaran wanita-wanita bahkan hingga ke tingkat yang berada di atas mereka.
"Lusa sepertinya." jawab Aldebran.
Moris dan Aldebran berada di sebuah ruangan khusus yang memiliki kaca transparan. Tetapi tenang, hanya yang di dalam ruangan saja yang bisa melihat ke luar. Yang berada di luar ruangan tidak bisa melihat ke dalam. Sedangkan Priska dan sekretaris Moris berada di meja yang berbeda membuat Moris dan Aldebran bisa mengobrol secara bebas.
"Kirain nunggu Teddy datang. Tadinya mau gue ajak golf."
Aldebran sempat mendengar kabar bahwa Teddy akan bertemu Moris pekan ini. Sebenarnya Aldebran, Moris dan juga Teddy berteman cukup dekat. Namun setelah ketiganya sibuk dengan perusahaan masing-masing, mereka jadi tidak sempat menghabiskan waktu bersama. Jadilah mereka agak canggung. Tetapi tidak dengan Aldebran dan Teddy. Teddy mengenal baik keluarganya jadi di beberapa acara keluarga mereka sempat bertemu.
"Next time. Teddy sekalian mau bulan madu katanya jadi ke Jerman."
Moris mengangguk. Keharmonisan rumah tangga Teddy dan istrinya memang patut diacungi jempol. "Lo kapan nyusul?"
Pertanyaan Moris mengundang dengusan Aldebran. "Perbaiki dulu rumah tangga lo baru nyuruh gue nyusul."
Bukannya tersinggung, Moris malah terkekeh. Hubungan Moris dengan istrinya memang tidak baik-baik saja. Bahkan hingga saat ini panggilan mereka masih seformal rekan kerja. Ya, Moris terpaksa menikah dengan Sandara karena simbiosis mutualisme. Moris yang harus menikah untuk mendapatkan seluruh saham perusahaannya, dan Sandara yang harus menikah agar tidak menjadi ahli waris dari warisan ayahnya. Dua manusia konglomerat itu akhirnya terjebak dalam ikatan pernikahan untuk keuntungan bersama. Aldebran dan Teddy mengetahuinya dan merasa Moris sinting karena menyetujui ajakan Sandara untuk menikah.
"Adeeva apa kabar?" tanya Moris.
Aldebran membulatkan matanya, secara perlahan retinanya menatap tajam Moris. "Jangan bawa-bawa kembaran gue lagi ke rumah tangga lo."
Moris tertawa kecil. "Santai, Kakak. Gue cuma nanya."
Aldebran mendengus. "Dee udah punya kekasih."
"Oh ya? Siapa?" tanya Moris penasaran.
Dulu saat Aldebran, Moris dan Teddy masih kuliah, Moris menargetkan Adeeva untuk jadi incerannya. Awalnya Aldebran biasa saja karena wajar jika temannya itu tertarik pada kembarannya. Adeeva itu cantik, sangat cantik. Belum lagi jiwa keibuannya sangat kental membuat auranya menenangkan. Tetapi ternyata Adeeva tidak menyukai Moris membuat pria itu harus gigit jari meratapi penolakan Adeeva.
Aldebran mengedikkan bahunya. "Gue belum ngobrol banyak sama Dee."
"Alay sih lo pake kabur ke negara orang." sindir Moris. "Sampe sekarang gue gak tau alesan lo tiba-tiba ambil alih perusaahn di NY. Serius cuma karena putus sama pacar lo?"
Aldebran mengangguk. "Emang ada alasan apa lagi?"
Moris mendecak. "Siapa sih pacar lo itu sampe bisa bikin lo patah hati sebegitunya? Dari SMA sampe kuliah lo gak pernah ngenalin cewek lo."

KAMU SEDANG MEMBACA
INTO YOU [ON GOING]
Romance[SEQUEL DARI SECOND WIFE] ALDEBRAN & ARABELA ____________________________________________________________________ "Kamu pernah bilang, "I'm so into you.". Tapi satu hal yang lupa kamu jelaskan, kata "You" di kalimat kamu itu mengarah pada siapa? Aku...