Keesokan paginya
Waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi. Seharusnya Arabela sudah berada di perjalanan menuju bandara mengingat bos songong kemarin itu menyuruhnya ke sana. Tetapi Arabela tidak pergi, ia masih bergelung di kasur dengan boneka kesayangan berada di pelukannya.
Persetan dengan pria angkuh yang suka berkehendak semaunya. Ia tidak peduli. Mau pria itu marah-marah sekalipun ia tidak akan peduli. Arabela sudah mengunci seluruh jendela, pintu, bahkan lotengnya sekalipun jaga-jaga jika pria itu benar mengirim anak buahnya untuk menyeret paksa Arabela.
Kemudian tepat pukul 7 pagi alarm Arabela bunyi membuat wanita itu bangun dari tidurnya. Arabela masih mengumpulkan nyawanya ketika sinar matahari berusaha menerobos retinanya melalui celah gorden kamarnya. Setelah kekumpul, Arabela bangkit menjadi duduk.
Ia meregangkan tubuhnya—rutinitas setelah bangun tidur kemudian mengucak matanya pelan. Setelah itu matanya menangkap bayangan seorang lelaki duduk dengan kaki ditumpu satu di atas kursi rias yang biasanya ada di depan meja riasnya. Matanya melotot kaget, sepenuhnya ia terbangun.
"WHAT THE—" suaranya tertahan karena ia lamgsung terduduk kembali ke tempat tidur dengan mulut ditutup oleh tangannya.
Terdengar kekehan sinis dari lelaki tersebut, kemudian ia bangkit dan melemparkan sebuah arloji ke atas tempat tidur dekat Arabela.
"Waktumu 15 menit untuk siap-siap. Ready or not, i'll take you out." suara mengintimidasi itu membuat emosi Arabela terangkat. Ia menatap tidak percaya lelaki yang membuat ulah padanya.
"How the fuck you get in here?! Who allowed you here?!" Kesal Arabela.
Aldeberan mengangkat sebelah alisnya. "15 menit atau kau akan ke Makau dengan baju tidurmu itu."
Kemudian Arabela teringat akan baju tidurnya yang super tipis, ia dengan segera mengambil selimutnya dan menutupi tubuhnya. Kemudian kembali menatap Aldebran tajam.
"Keluar dari apartemen saya!" bentak Arabela.
Aldebran tersenyum miring. "15 menit. I'll start counting now." kemudian lelaki itu beranjak dari kamarnya membuat Arabela menghela napas lega.
Bagaimana bisa lelaki itu masuk ke Apartemennya?! Lelaki itu sungguh gila!
Arabela menyentak selimut dengan kasar, amarahnya memuncak di ubun-ubun. Ia bangkit dari kasurnya, mengambil jaket lalu memakainya dan kemudian keluar dari kamarnya dengan berapi-api.
Kemudian ia menemukan Aldebran tengah memainkan tabletnya di ruang tengah Apartemen Arabela. Arabela mendengus kasar, menghampiri Aldebran dengan langkah besarnya.
"Anda sungguh tidak sopan masuk ke Apartemen orang tanpa izin!" serbu Arabela langsung.
Aldebran mendongak dari tabletnya, manatap Arabela yang masih dengan baju tidurnya namun kini ditutupi oleh jaket kebesaran. "Sudah siap?" tanya Aldebran tanpa mengidahkan amarah Arabela.
Arabela mendesis. "Saya laporkan kamu ke polisi. Mau?!" tantang Arabela.
Aldebran mendengus. "Sudahlah jangan buang-buang waktu. Ayo, kita berangkat."
"You are psycho!" maki Arabela.
"Saya tidak pernah menyetujui untuk menjadi asisten pribadimu dan saya tidak pernah menandatangani kontrak apapun dengan kamu! Kamu memanipulasi kontrak itu!" kata Arabela dengan nada penuh protes.
"So what? Jika kamu ke polisi, saya yakin polisi akan lebih percaya sama saya daripada kamu." ujar Aldebran santai.
Arabela mengepalkan tangannya. "Sebenarnya apa mau kamu?! Kenapa kamu bertindak seenaknya sama saya?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
INTO YOU [ON GOING]
Lãng mạn[SEQUEL DARI SECOND WIFE] ALDEBRAN & ARABELA ____________________________________________________________________ "Kamu pernah bilang, "I'm so into you.". Tapi satu hal yang lupa kamu jelaskan, kata "You" di kalimat kamu itu mengarah pada siapa? Aku...
![INTO YOU [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/207223544-64-k568573.jpg)