Reynold melangkahkan kakinya mencari keberadaan Thana yang menurut sang supir Thana berjalan menuju arah taman, Reynold merasa kesal kenapa tak seorang pun punya inisiatif untuk mengikuti atau menemani Thana pergi, kenapa harus membiarkan wanita hamil itu pergi sendirian, tapi sepertinya marah pun tidak bisa mengubah apapun, daripada ia membuang tenaga untuk itu lebih baik jika ia sendiri langsung menyusul Thana.
Reynold melangkahkan kaki panjangnya dengan mata yang melihat kesana-sini untuk mencari keberadaan Thana, begitu khawatir apalagi ia tidak melihat Thana dimana pun, matanya menajam melihat kesekeliling begitu ia sampai ditaman, bisa ia lihat seorang wanita yang memakai baju yang sama seperti Thana sedang duduk sendirian, ia pun langsung melangkahkan kakinya menghampiri wanita itu.
Langkah Reynold berhenti saat ia mendengar pembicaraan Thana seorang diri, "Oh Tuhan, tenang Thana, tenang, kau harus tenang, jangan biarkan orang-orang seperti mereka membahayakan dirimu dan anakmu. Jangan pikirkan orang lain, tarik napas, buang, tarik napas, buang, Thana kau harus kuat karna hanya kau satu-satunya orang yang dimiliki anakmu. Ayo Thana, kau pasti bisa, kau tidak lemah, hal seperti tadi tidak akan menghancurkanmu. Sayang, maafin mama yah, mama janji ini yang terakhir kita mendengar perkataan itu, jangan dengarkan apapun soal tadi, lupakan okay, mama mencintaimu dan hanya kamu yang mama punya, bertahan sama mama okay, mama janji bahkan jika satu dunia ini berpikiran buruk tentangmu, mama tak akan membiarkanmu sendiri, kau dunia mama satu-satunya. Mama cinta kamu, sangat mencintaimu, jadi mari kita bertahan bersama okay." Thana berujar sendiri sambil mengelus perut buncitnya dengan napas tak karuan juga airmata yang selalu berjatuhan tak peduli seberapa kuat Thana menahannya.
Apa yang Reynold rasakan saat mendengar perkataan Thana? Sakit? Reynold benci mengakuinya tapi benar ia merasa sakit mendengar perkataan Thana, padahal dulu memang ia tidak peduli bahkan tak mengakui bahwa Thana sedang hamil anaknya tapi sekarang ada rasa sayang yang tumbuh dihatinya setelah merasakan pergerakan diperut Thana.
Reynold diam memandang Thana yang masih mencoba untuk menetralkan emosinya, bisa dilihat dari napas wanita hamil itu yang menderu juga bahunya yang naik turun. Pelan-pelan Reynold mendekati wanita itu, duduk diam disamping Thana yang sepertinya belum menyadari kehadirannya.
Keduanya sama-sama diam, Thana diam karna masih berusaha menetralkan tensi tapi sepertinya tidak berhasil karna ia terus-menerus merasa sesak sementara Reynold diam untuk memberikan space pada Thana.
Reynold merasa panik saat Thana semakin sesak dan napasnya semakin tak teratur.
"Thana, Thana, hey, dengarkan aku, tarik napasmu dalam-dalam dan buang secara perlahan." Reynold berujar sembari menggenggam tangan Thana yang hal itu membuat Thana kaget tapi detik berikutnya ia mengikuti saran Reynold, persetan dengan rasa amarah dan emosinya, yang penting sekarang ia harus menormalkan semuanya dulu, ia harus fokus pada kandungannya.
Tapi semakin lama malah Thana merasa semakin sesak dan pada akhirnya penglihatannya semakin kabur, Reynold disampingnya bahkan bukannya membantu tapi malah berubah menjadi panik, dengan gerakan cepat pria itu menggendong Thana untuk dibawa kerumah sakit, lagi.
———
Dokter Elora memandang sinis Reynold saat ia tau bahwa Thana kembali dilarikan kerumahsakit bahkan kurang dari 30 jam keluar dari sana, ia tau saat seorang suster terburu-buru datang ke ruangannya, memang Elora memberitahu pihak rumah sakit, jika semua yang berhubungan dengan Elora harus melaluinya dan hanya ia yang boleh turun tangan.
Dokter Elora tak perlu tau apa yang terjadi pada Thana sampai kembali masuk ke rumah sakit karna pastinya berhubungan dengan Reynold maupun keluarga pria itu, pasti, tak perlu diragukan lagi. Baru 2 malam yang lalu Elora dan suaminya, Alvaro menghadiri acara formal salah satu rekan bisnis Alpha Group, dan ia bertemu dengan Darius serta Shirleen Atalaric, kedua orang baya itu selalu menceritakan tentang Reynold yang akan segera menikah dengan Jenneta dan persiapan mereka sudah hampir 75% selesai, Elora dan Alvaro bahkan harus memasang wajah palsu mereka mendengar celotehan Shirleen, bagaimana mungkin mereka mengumbar pernikahan Reynold disaat menantu mereka sedang berjuang dirumah sakit.
"Thana harus dirawat dirumah sakit lagi dan pastinya perawatannya kali ini lebih memakan waktu dari yang sebelumnya karna yang kali ini lebih parah. Jika tidak ada perkembangan yang baik kami terpaksa harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya."
Perkataan Dokter Elora bagaikan sebuah sambaran petir bagi Reynold, oh Tuhan, separah itukah?
"Lakukan apapun yang terbaik untuknya." Ujar Reynold setelah terdiam beberapa saat.
"Kami selalu melakukan yang terbaik untuknya, kalian saja yang tidak mendukung." Sinis Elora dengan tatapan tajam dan menusuk, untuk hal ini Reynold tidak mengelak, karna memang begitu adanya, Thana kembali dilarikan kerumah sakit karna mamanya.
"Jika kalian tidak bisa men-support dan menjaga Thana dengan benar lebih baik kalian menjauh darinya, ia sedang tidak baik-baik saja, bersama dengan kalian justru membuat keadaannya semakin parah dan itu tidak membantu sama sekali."
Reynold kembali diam sedangkan Elora sudah kesal rasanya ia ingin menyuntikkan racun ke nadi pria itu tapi tentunya ia masih waras sehingga yang bisa ia lakukan hanya lanjut memeriksa Thana dan memastikan bahwa wanita hamil itu sudah stabil tensinya.
———
Thana terbangun tengah malam dengan kepalanya yang cukup pusing, Thana tak perlu tau ia dimana karna ia sudah familiar dengan aromanya, rumah sakit. Huh jadi pada akhirnya ia kembali ke rumah sakit lagi yah.
Ruangan yang sudah remang-remang membuat Thana tidak bisa melihat sekitarnya dengan baik ditambah lagi pandangannya yang memang sudah kabur sejak kehamilannya.
Thana haus dan ingin minum namun ia tidak bisa melihat dengan baik hingga akhirnya ia hanya meringus pelan karna berusaha untuk duduk agar bisa melihat dengan jelas.
Ringisan Thana membangunkan seorang pria yang tengah tidur diruangan yang sama dengan Thana.
"Thana? Kau mau sesuatu?" Tanya Reynold dengan suara serak karna baru bangun, pria itu dengan sigap menyalakan lampu.
Thana diam, ia merasa bersyukur bahwa ada orang didalam ruangan yang bisa membantunya tapi ia juga tak ingin jika orang itu adalah Reynold, mengingat semua yang terjadi padanya sekarang adalah ulah Reynold membuat Thana enggan berdekatan dengan pria itu, tapi lagi-lagi keadaan dan situasi membuat Thana mau tak mau harus menerima keberadaan Reynold.
"Aku mau minum." Ujar Thana pelan dan dengan sigap Reynold mengambilkan air minum untuk Thana dan membantu istrinya itu minum.
"Mau aku panggilkan dokter?" Tanya Reynold saat Thana sudah selesai minum.
"Tak perlu, aku hanya ingin tidur."
Reynold membantu Thana berbaring dan terjaga memastikan wanita hamil itu bisa tidur dengan lelap namun Reynold merasa aneh karna Thana berulang kali mengatur posisinya, seolah tak nyaman dan tak bisa tidur.
"Kenapa belum tidur?" Pertanyaan Reynold mengagetkan Thana.
"Entahlah, aku tak bisa tidur." Jujur Thana, "Mungkin karna tadi sudah tidur terlalu lama." Lanjutnya lagi.
"Hm, jadi mau melakukan hal lain?" Reynold berinisiatif untuk melakukan pembicaraan, ia jelas tau bahwa Thana tak suka akan keberadaannya, tapi bukannya menjauh Reynold justru ingin mendekatkan diri.
Thana mengangkat bahunya tanda bahwa ia tidak tau apa yang harus ia lakukan.
"Mau mendengarkan lagu? Kau masih menyukai lagu Keshi kan?" Tanya Reynold hingga membuat Thana memandang pria itu terkejut.
"Kau tau?" Tanya Thana tanpa sadar.
"Dulu kau sering mendengarkannya, saat dimobil maupun di hotel." Ujar Reynold dengan mudah tanpa menyadari jika Thana merasa aneh pada hatinya, ia merasa tersanjung karna Reynold mengingatnya tapi juga sakit karna pria itu mengatakan hubungan mereka dimulai dengan rasa bosan pria itu yang berarti tidak ada artinya, tapi kenapa Reynold masih mengingat hal-hal seperti ini.
Tanpa menunggu respon dari Thana, Reynold sudah mengeluarkan ponselnya dan memutarkan lagu Keshi - beside you.
Thana hanya diam sembari menatap langit-langit ruang inapnya, sedangkan Reynold duduk disamping brankar Thana dan dengan perlahan mengelus perut buncit Thana.
Jujur saja Reynold suka, ia suka mengelus perut Thana seperti ini, hatinya menghangat, mood-nya baik, ia merasa bahagia dan tenang. Sedangkan Thana semakin terlena dengan elusan Reynold ditambah dengan suara merdu dari Keshi yang langsung mengantarkan Thana ke alam mimpi dengan mudah.
TBC
Nah kan masuk rs lagi.
AeilsyIr
KAMU SEDANG MEMBACA
Never be mine - Vrene Lokal (END)
FanfictionI saw happiness in your eyes but it's not for me or because of me and never be me, never. Not even in the past, now or in the future, it never will cause you aren't mine, and I lost something that I never had.
