Quality time yang diminta Reynold tidak berjalan dengan lancar setelah Eci datang dan menghajarnya, ia tentu tak mau melawan dan hanya membiarkan wajahnya menjadi sasaran mantan adik iparnya, dunia begitu sempit, mantan adik iparnya ternyata adalah sahabat dari mantan tunangannya, huh.
Tapi Reynold juga harus berterima kasih pada Eci yang sudah menghajarnya karna dengan begitu Thana jadi mau mengobatinya dan ikut kembali ke apartment-nya, yah Thana dan Eva berada di apartment-nya sekarang, begitu juga dengan Eci dan Rafael. Eci enggan meninggalkan kakaknya sendirian bersama Reynold, meskipun Thana sudah mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja.
"Manja sekali, untuk apa sih kakak masih mengurus pria ini?" Eci tak terima karna Thana masih menunjukkan rasa khawatirnya pada Reynold.
"Ia tidak bisa mengobati wajahnya sendiri Eci." Jawab Thana sambil mengobati luka-luka pada wajah Reynold.
"Dia kaya kak, dia bisa ke dokter atau bisa panggil dokter pribadinya sendiri, tapi aku lebih memilih ia mati kesakitan." Ujar Eci dengan pedas.
Thana hanya diam tak menanggapi adiknya sementara Rafael hanya garuk-garuk kepalanya yang tak gatal melihat kelakuan kekasihnya.
"Kak, daripada ngobatin dia mending kakak balik sama aku." Saran Eci.
"Eci, aku udah nggak bisa balik, mama sama papa nggak mau ketemu aku lagi, mereka udah usir aku." Jawab Thana dengan pelan sambil menggigit bibir bawahnya sendiri dan tentu hal itu tak luput dari pandangan Reynold karna Thana sedang mengobati wajahnya yang berarti ia bisa melihat dengan jelas raut wajah mantan istrinya yang masih ia cintai.
"Okay, kalo gitu Eci aja yang keluar dari rumah itu, tinggal sama kakak dan Eva." Eci masih tak menyerah.
"Nggak bisa Eci, mama papa bakal sendirian kalo kau tinggal sama kakak." Sahut Thana dengan pelan, bukannya ia tak mau tapi ia tak mungkin membiarkan orangtuanya sendirian.
"Biarin aja, toh papa sama mama nggak pernah peduliin perasaan kakak sama aku."
"Mereka peduli kok denganmu." Cicit Thana.
"Nggak, kalau mereka peduli mereka nggak bakal mau jodohin aku sama pria tua yang bahkan bisa jadi kakek aku, disaat aku baru nginjak 17 tahun." Penyataan Eci membuat Thana terdiam membeku, bahkan kapas yang sudah ia lumuri alkohol terlepas begitu saja dari tangannya.
"Apa maksudmu Eci?" Thana menghadap adiknya langsung, melupakan Reynold begitu saja.
"Aku tak sengaja mendengarkan percakapan papa dan mama waktu itu, mereka sedang berbicara dengan seorang pria tua dan seorang pria seumuran mereka. Mereka ingin menjodohkan kakak dengan pria tua itu, karna pria tua itu bisa memberikan uang yang banyak pada papa dan mama, tapi pria tua itu ingin menikahiku, bukan kau kak, dan kakak tau apa yang papa dan mama katakan, mereka setuju asal pria tua itu memberikan uang lebih banyak lagi. Mereka bahkan sudah menandatangangi surat perjanjiannya. Untuk itu aku memaksamu untuk putus dengan Rafael, dan merebut Rafael darimu, aku tak ingin menikahi pria tua itu. Papa mama setuju, karna sebenarnya mereka juga enggan menikahiku pada pria tua itu, dengan mengatakan bahwa Rafael dan aku sudah berpacaran lama pasti pria tua itu akan mengerti dan akan menikahimu, pikir mereka." Jelas Eci sambil menatap wajah Thana.
Thana menatap adiknya dengan wajah yang menunjukkan ekspresi tak percaya, ia benar-benar tak tau akan hal ini.
"Aku hendak menjelaskannya padamu tapi kau tak mau berbicara padaku dan malah menjauh. Aku tak tau bagaimana papa dan mama bisa menjelaskan pada pria tua itu, tapi pria tua itu sepertinya marah dan tak terima, kakak masih ingat hari dimana papa dan mama hampir membunuhmu dengan mencekikmu saat mereka mabuk? Sepertinya disaat itu perjanjian pernikahanmu dengan pria tua itu batal yang berarti mereka tak mendapatkan uang yang mereka idam-idamkan. Percayalah kak, aku dan Rafael waktu itu tak ada apa-apa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Never be mine - Vrene Lokal (END)
Fiksi PenggemarI saw happiness in your eyes but it's not for me or because of me and never be me, never. Not even in the past, now or in the future, it never will cause you aren't mine, and I lost something that I never had.
