"Jika orang menjadi baik karena mereka takut mendapat hukuman atau mengharapkan hadiah, maka meraka berada dalam penyesalan yang besar."
Kedua pasang remaja berbeda jenis kelamin itu duduk bersebelahan di depan wanita paruh baya yang tengah menatap mereka. Keduanya memilih diam sembari mendengarkan ceramah dari di depan mereka. Bu Danti guru BK SMA Rajawali yang terkenal killernya serta lipstik merah meronanya. Bu Danti menatap kedua pasang remaja itu sambil menggelengkan kepalanya terheran-heran. Terutama pada cowok di hadapannya itu. Alglara Keaniarga, cowok yang memiliki banyak kasus sehingga buku sakunya sudah penuh dengan nama Alglara.
"Apa sopan melakukan adegan kurang senonoh begitu di area sekolah?"
"Bu, kan sudah saya bilang. Kalau dia dorong saya. Mana mungkin saya melakukan begitu di sekolah. Apalagi di hadapan orang ramai." kata Amora membela dirinya. Bu Danti menuduhnya melakukan adegan kurang pantas di sekolah karena ulah Alglara tadi.
"Tetap saja itu kurang pantas kalian lakukan di sekolah. Nanti banyak yang berasumsi tidak-tidak tentang kalian." kata Bu Danti. "Kamu juga Alglara. Apa tidak bisa sehari saja tidak berulah di sekolah. Saya heran kenapa kamu suka sekali membuat keributan."
"Saya membela apa yang harus saya bela." kata Alglara sambil memainkan bolpoin di meja Bu Danti.
"Apa yang kamu bela? Malahan kau mau menutup kasus Nathan dengan Revano."
"Kebiasan orang yang tidak mau mengakui kesalahan." ujar Amora pelan namun dapat di dengar oleh Alglara yang duduk di sebelahnya.
"Bagi yang punya temen gak solid, diem lo gak di ajak." balas Alglara.
"Apaansih!"
"Gak terima?"
"Alglara! Kamu ini emang gak ada habis-habisnya kalau cari keributan." Bu Danti melotot ke arahnya. Alglara berdecih kesal setengah mati dengan makhluk segender di ruangan ini.
"Saya tidak akan memulai kalau tidak di pancing, Bu. Ibu tau saya bagaimana."
"Udah saya capek sama kamu. Sekarang kalian berdua saya hukum untuk membersihkan lapangan upacara." perintah Ibu Danti tegas.
"Bu, saya juga?" tanya Amora tidak percaya bahwa dirinya ikut di hukum. Sepanjang sejarah baru kali ini Amora mendapatkan hukuman.
"Kamu juga salah, Amora."
"Tapi kan, Bu–"
"Pilih menjalankan hukuman atau saya beri kamu surat pemanggilan orang tua?"
"Kasih keringan dong, Bu. Saya nggak pernah dihukum sebelumnya, masak karena kesalahan yang bukan saya penyebabnya juga ikutan kena."
"GAK ADA!!" jawab Bu Danti frustasi. "SILAHKAN KE LAPANGAN SEKARANG!"
Amora menghembuskan napas pasrah. Matanya tidak sengaja bertemu dengan mata elang milik Alglara yang juga menatapnya tajam. Tatapan itu seakan menjelaskan betapa kesalnya cowok itu padanya.
°°°°
Keduanya sudah membawa alat kebersihan. Amora membawa sapu dan Alglara mendorong tempat sampah. Sinar matahari yang terik sangat menyengat di kulit mereka. Apalagi sekarang sudah memasuki jam pelajaran kedua. Sudah siang jika dikatakam matahari pagi. Amora sedikit mencuri pandang melihat Alglara yang tidak banyak bicara melakukan tugasnya. Pikir Amora mungkin cowok itu malas kembali ribut.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALGLARA
Ficção AdolescenteALGLARA || [ON GOING] Alglara Keaniarga. Si sarkastis yang pandai menjatuhkan mental lawan bicaranya. Petarung handal dengan jiwa bebas. Morenza geng berpengaruh dalam pimpinannya. Pemilik iris cokelat terang menyerupai predator. Kapten tim futsal S...
