Tiga Puluh

2.3K 143 9
                                        

Catherine terus berusaha untuk menampilkan senyuman terbaiknya di hadapan orang-orang ketika beberapa di antara mereka mulai menghampirinya dan memuji kecantikannya dan kepiawaiannya di atas catwalk. Namun, tidak dapat dipungkiri jika hatinya merasa resah sekarang.

Pria itu benar-benar tidak datang, dan sepertinya Alex benar-benar sudah tidak peduli lagi padanya. Ugh, apa yang merasukimu, Catherine? Bukankah memang sudah sejak lama Alex tidak pernah peduli padamu? Ia tidak menginginkanmu, ia begitu membenci keberadaanmu sebagai istrinya sekarang.

Miris. Tentu saja sangat miris, mengetahui kenyataan jika satu-satunya pria yang kau inginkan tidak merasakan hal yang sama dengan apa yang kau rasakan.

"Hei! Sangat tidak cocok untuk menangis dengan riasan sempurna juga gaun indah seperti apa yang kau kenakan itu."

Catherine tidak tahu sejak kapan ia sudah menangis, tetapi ia tidak peduli. Ia mengadahkan kepalanya, kemudian menemukan Samuel yang berdiri tidak jauh dari posisinya, dengan membawa sebuah buket bunga mawar putih indah di tangannya, membuat Catherine tersenyum dibuatnya.

Setidaknya, sekarang ini ada sahabatnya yang datang dan mendukungnya, menunjukkan kepeduliannya pada Catherine.

"Siapa yang sedang menangis?" Tanya Catherine berpura-pura tidak tahu, kemudian menghampiri Samuel, sembari menyeka air mata yang sebelumnya sudah keluar dari sudut matanya.

"Kau tahu jika kau tidak pernah bisa berbohong padaku," Catherine memutar matanya kesal, kemudian meraih buket bunga dari Samuel dan mendekatkannya pada wajahnya, mencoba menutupi wajah menangisnya dengan menghirup aroma bunga itu.

"Apa yang kau lakukan di sini? Tidakkah seharusnya kau bekerja mengelola toko Ayahmu? Dan bagaimana dengan Niall yang membutuhkanmu?" Tanya Catherine mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.

"Oh, ia bahkan ikut datang kemari, sekarang ia bersama Sandra," Catherine mengangguk mengerti.

"Hei! Apa kau baik-baik saja?" Tanya Samuel kembali.

Catherine, tidakkah kau melihat bagaimana pria ini begitu peduli padamu dan memperlakukanmu dengan sangat baik? Mungkin dengan melepaskan Alex, nantinya kau akan mendapatkan pria yang lebih baik darinya.

Apa ini berarti Catherine memiliki rencana untuk menerima Samuel? Tidak... Tidak mungkin ia menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri. Lagi pula, sampai saat ini, hanya Alex, hanya pria itu yang selalu berhasil menggetarkan hatinya.

"Aku hanya sedang sangat lelah," sekali pun Samuel sudah mengatakan padanya jika ia tidak pandai berbohong, tetapi ia kembali melakukan kebohongan.

"Dia tidak datang bukan?" Samuel kembali bertanya untuk mencaritahu kebenaran di balik pikiran Catherine saat ini.

"Apa ia kembali menyakitimu?" Tidak mengerti mengapa, tetapi kali ini Catherine tidak dapat lagi membendung perasaannya. Di dalam keramaian orang-orang yang saling berbaur setelah pertunjukan fashion show itu selesai, ia menangis dalam diam.

Sekali itu Alex menyakitinya, sekali itu pula ia akan berusaha untuk memperbaiki semuanya. Namun, mengapa kali ini ia tidak yakin untuk bisa berjuang lagi? Rasanya ia masih begitu terluka mengingat niatan Alex untuk berpisah darinya.

"Aku tahu sejak awal jika pria itu akan menyakitimu. Dan sekarang, ia kembali melakukannya," Samuel berujar sembari mengusap lembut air mata yang menuruni pipi Catherine, sebelum kemudian merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Berharap dengan memberi Catherine pelukan, wanita itu dapat merasakan jika ada orang lain yang masih peduli padanya.

Catherine termenung. Jika situasinya seperti ini, apa benar Alex menyakitinya?

Tidak. Alex tidak menyakitinya. Catherine saja yang sejak awal terlalu percaya diri dan memaksakan semua hal yang hanya berujung pada kesakitan ini.

Unexpected Wife [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang