Lima

4.8K 248 2
                                        

Catherine mengetuk pintu besar yang ada di hadapannya itu dengan perasaan ragu. Oh, sepertinya ini merupakan suatu ide yang buruk ketika ia memutuskan untuk datang kemari. Seharusnya ia menunggu hingga esok hari untuk datang ke tempat ini. Tentu sangatlah tidak sopan bukan jika kalian bertamu malam-malam ke rumah seseorang seperti ini?

Catherine sebenarnya merasa begitu kelelahan, tetapi pikirannya  terus saja menuntunnya untuk pergi ke sini, membuatnya kemudian memutuskan untuk datang ke tempat ini. Bagimana tidak kelelahan jika dirinya baru saja sampai setelah penerbangannya dari Amsterdam, kemudian menyempatkan dirinya untuk datang ke rumah calon ibu mertuanya itu. Jujur saja, ia tidak dapat menghentikan pikirannya sendiri yang sejak keberangkatannya dari Amsterdam sampai ke sini terus saja memikirkan Alex. Pikirannya ini memanglah aneh, pikiran dimana dirinya begitu ingin berjumpa dengan Alex dan memberinya hadiah yang sebelumnya dipilihkannya itu.

"Selamat malam, Nona Catherine, ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita paruh baya yang dikenalnya sebagai Elizabeth itu membukakan pintu rumah yang semula diketuknya itu.

Catherine sebelumnya memang pernah bertemu dengan Elizabeth. Ia bertemu Elizabeth ketika dirinya berada di rumah ini untuk makan malam bersama dengan Alex dan Mrs. Dornan saat itu. Namun, segera setelah kedatangannya, Mrs. Dornan mengambil alih semua urusan dapur dan meminta Elizabeth untuk mengerjakan hal lainnya. Oh, Catherine masih ingat akan alasan Elizabeth yang memilih melakukan hal itu, alasannya adalah karena ia ingin memiliki waktu berduaan saja dengan calon menantunya, mengingat kata calon menantu yang diucapkan Mrs. Dornan padanya, membuat pipinya seketika memanas.

Tersadar jika Elizabeth menunggu jawabannya, Catherine segera berujar, "apa Mrs.Dornan sedang ada di rumah?"

"Ya, Nona. Mrs. Dornan sedang berada di rumah, beliau saat ini sedang berada di perpustakaannya. Silahkan masuk terlebih dahulu, Nona," Elizabeth mempersilahkan Catherine masuk ke dalam rumah Mrs. Dornan itu.

"Silahkan duduk Nona, saya akan memanggilkan Mrs. Dornan terlebih dahulu," setelah mengatakannya, Elizabeth beranjak pergi untuk memanggil Mrs. Dornan, meninggalkan Catherine yang terduduk sendirian di atas sofa ruang tamu milik Mrs. Dornan, sembari mengamati keindahan rumah indahnya itu.

Catherine tidak pernah bisa berhenti mengaggumi ornamen-ornamen dan segala hiasan yang ada di rumah ini. Rumah ini terlihat seperti rumah impiannya. Catherine bahkan berharap, jika suatu saat nanti ia akan memiliki rumah yang tidak jauh berbeda dengan rumah ini. Rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya bersama dengan Alex dan tentu saja... anak-anak mereka.

Lagi-lagi, apapun yang berhubungan dengan Alex selalu saja berhasil membuat wajahnya memerah. Catherine tidak mengerti mengapa efek Alex begitu besar kepadanya.

"Oh, sayangku, ada apa malam-malam begini datang kemari, apa semuanya baik-baik saja?" Mrs. Dornan berjalan dari dalam rumahnya, kemudian dengan segera menghampiri Catherine dan memeluknya erat serta mengusap rambut Catherine dengan lembut, takut terjadi sesuatu dengan calon menantunya itu.

Perhatian inilah yang selalu disukainya dari Mrs. Dornan. Ibu Alex itu selalu bersikap lembut dan perhatian padannya, ia memperlakukan Catherine seperti putrinya sendiri.

"Tidak ada apa-apa, Mrs. Dornan, semuanya baik-baik saja. Saya hanya ingin menemui Anda," Mrs. Dornan melepaskan pelukannya pada Catherine, kemudian membimbing Catherine untuk kembali mendudukkan diri di atas sofa.

"Jangan lagi memanggilku Mrs. Dornan, okay? Lebih baik kau memanggilku Ibu, bagaimana?" Catherine tersenyum mengangguk. Tentu saja ia sangat ingin melakukannya. Ia terlalu mengaggumi sosok Mrs. Dornan yang keibuan, membuatnya sudah menganggap Mrs. Dornan seperti Ibunya sendiri.

Unexpected Wife [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang