28. marah

10 1 22
                                        

Happy reading 📍



.             .            .        .            .

Revan bingung dengan Rara belakangan ini. Rara terlihat menjauhinya ditanya kenapa? Tapi Rara tak pernah menjawabnya. Revan mencoba bersabar dan terus bertanya ada salah apa dirinya sampai sampai Rara menjauhinya. Seperti saat ini. Revan pergi kerumah Rara.

"Umm. Maaf tan saya mau ijin bawa Rara jalan boleh?" tanya Revan mencoba berbicara sesopan mungkin.

"Boleh kok, bentar tante bilang dulu sama Raranya ya?" ucap Rere dan bergegas memanggil putrinya.

Tok tok tok

"Sayang?. Ada Revan dibawah. Katanya mau ngajak kamu jalan" ucap Rere karna tak ada jawaban dari Rara.

Tak lama kemudian Rara keluar dengan penampilan yang cukup berantakan.

"Bilang aja aku tidur" ucap Rara malas

"Sayang. Kamu gak kasian sama dia? Dia udah lama nunggu kamu tuh. Mau ya?. Hargai perjuangan orang lain sayang" nasihat Rere

"Perjuangan apa sih mah?" tanya Rara heran

"Pokoknya mama gak mau tau. Kamu cepet siap siap kasian tuh"

"Iya iya. Ck, bawel"

.   .    .    .    .    .

Rara menuruni tangga dengan setelan pakaian yang membuat mamanya geleng geleng.
Bagaimana tidak geleng geleng. Gadis itu hanya mengenakan kaos oblong yang sangat kebesaran ditubuh mungilnya dengan celana diatas lututnya.

"Kamu gak punya baju lain?" tanya Rere heran

"Nggak" jawab Rara malas

"Ganti!" suruh Rere.

"Udah untung aku mau jalan" gerutu Rara yang masih terdengar oleh Rere.

"Ganti sayang" ucap Rere

"Iya iya. Ck"

Rara pun kembali menaiki tangga untuk mengganti bajunya.

Kali ini Rara berjalan dengan mengenakan drees warna pinknya.

"Nah. Gini kan cantikk. Masa mau jalan pake kolor sih?" ucap Rere

"Males. Aku berangkat" Rara berbicara dengan malasnya dan berjalan mendahului Revan.

"Saya pamit ya tan" ucap Revan dan menyalami tangan Rere.

"Iya hati hati. Sebelum magrib udah harus pulang"

"Siap tan"

.     .     .      .     .     .

Didalam mobil keadaan sangatlah hening. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Rara yang tak mau berbicara dengan Revan akibat peristiwa beberapa hari kebelakang.

Hingga akhirnya Revan memulai pembicaraan.

"Ra"

"Hm"

"Pengen kemana?"

"Terserah" jawab Rara acuh.

Keadaan dimobil kembali menjadi hening.
Sampai akhirnya Revan memulai kembali pembicaraanya.

"Apa aku ada salah?" tanya Revan memulai pembicaraan

"Pikir tu dipake!"

"Ra?. Aku ada salah apa sama kamu?. Ngomong dong jangan bikin aku pusing sama sikap kamu?"

Rara masih saja terdiam dengan memandang Revan datar.

"Ra. Ayo ngomong dong!, salah aku apa?" tanya Revan

"Pura pura gak tau apa gimana?" tanya Rara dengan datarnya.

"Pliiiis Ra. Aku bener bener gak tau apa salah aku" ucap Revan frustasi

"Gue siapa?"

"Ya kamu tau sendiri. Kamu itu pacar aku" jawab Revan

"Bullshit"

"Siapa cewe itu?"tanya Rara the dhe point

"Cewe mana sih?" tanya Revan.

"Hebat banget ya. Gak usah acting lah. Gue tau lo punya cewe"

"Iya emang. Kan-"

Omongan Revan terpotong oleh omongan Rara.

"Jadi bener?"

"Jangan potong!" ucap Revan

" iya aku punya pacar. Pacar aku  itu kamu. Dan. Cuman. Kamu!" ucap Revan menekankan setiap katanya.

"Bohong!. Gue liat sama mata kepala gue sindiri. Lo jalan kan sama cewe itu?!" ucap Rara.

Revan menghentikan mobilnya dan menatap Rara dengan intens.

"Aku gak punya pacar selain kamu Ra. Sumpah!" ucap Revan.

"Terus?" tanya Rara acuh

"Itu bukan aku!"

"Kalo bukan lo. Emang siapa lagi?!" tanya Rara emosi.

"Kamu kenapa? Cemburu?" tanya Revan menggoda

" ish. Apaan sih. Gue gak cemburu ya"

"Sekarang kamu sebutin ciri ciri cewe itu" ucap Revan

"Tingginya sebatas dada kamu. Rambut panjang agak pirang. Mata bulat. Pokoknya cantik deh" ucap Rara. Dan tanpa sadar rara menggunakan kata 'kamu' di sebagian ucapanya.

'Raihan' batin Revan tersenyum kecil.

"Oke. Nanti kamu ikut aku ya" ucap Revan.

"Kemana?" tanya Rara

"Ketemu camer" ucap Revan

"Hah?. Maksudnya?" tanya Rara

"Kerumah aku sayang"

"Mau apa?" tanya Rara sedikit salting karna ucapan sayang dari Revan.

"Pokoknya ikut aja" ucap Revan

"Nggak!"

"Harus!"

"pokoknya gak mau!. Kenapa maksa sih?!" ucap Rara kesal.

"Kamu bakalan tau nanti. Pokoknya ikut aja!" ucap Revan tak terbantahkan.

.    .    .    .    .  .   .   .    .


Bersambung

Maaf pendek

Semangatin aku dengan cara komen 'next' sebanyak banyaknya.

Komen kalian itu buat aku semangat buat lanjutin nulis ceritanya. Walaupun cuman 'next' doang. Itu berarti banget ygy.

Salam manis😊

ALICA [Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang