38. meninggal? [EnD]

21 0 18
                                        

Happy reading ygy

.     .      .     .     .      .      .      .       .     .

Revan beserta keluarga dari Rara menunggu didepan ruangan menunggu dokter keluar dari ruangan tersebut.

Tak lama dokter keluar dari ruangan membuat orang tua Rara dan juga Revan menghampiri dokter tersebut.

"Gimana keadaan anak saya dok?" tanya Rere.

"Sebelumnya saya minta maaf--" ucapan dokter terhenti ketika Revan yang menonjok pipi sebelah kirinya.

"Maksud lo apa hah?!" tanya Revan tajam.

"Ma-maksud dokter. Putri saya??." tanya Putra dengan suara bergetar.

"Saya mohon maaf sebesar besarnya dan saya juga turut berduka cita atas meninggalnya putri bapak dan ibu. Tapi saya sudah berusaha sebisa mungkin. Tapi saya mohon maaf" ucap Dokter tersebut sambil menunduk tak berani menatap orang tua Rara dan juga Revan yang ada dihadapanya.

Lebih tepatnya dokter tersebut tak berani menatap mata tuanya.

Bug

Bug

Plak

Plak

Plak

Bug

Revan terus saja membabi buta dokter tersebut hingga dokter tersebut tak berdaya tergeletak dilantai rumah sakit.

"LO GAK BECUS!!. LO HARUSNYA GAK DIKERJAIN DIRUMAH SAKIT INI. LO GAK BECUUS!. LO UDAH BUAT ORANG YANG GUE CINTA MENINGGAL. NINGGALIN GUE BUAT SELAMA LAMANYA!." teriak Revan.

"REVAN STOOP!!. DIA BISA MATI BODOH!!" teriak Ciko menatahan Revan yang akan kembali memukuli Dokter revian.

"LO GAK USAH IKUT CAMPUUR. LO GAK TAU GIMANA PERASAAN GUE SEKARANG. ORANG YANG GUE SAYANG MENINGGAL GARA GARA DIA" Ucap Revan menunjuk dokter revian yang sudah tak berdaya.

"REVAN!!. SADAR!!!. Rara meninggal bukan salah dia. Tapi kayla yang udah bunuh dia. Pliiis. Stop salahin orang yang gak ada kaitanya sama matinya Rara!" ucap Ciko.

Tubuh Revan melorot kelantai. Revan berkali kali memukuli tembok dengan tanganya.

"Cik. Rara gak bener bener ninggalin gue kan?" tanya Revan.

"Gue aja belum ngobrol sama dia sebagai Al. Gue belum baikan sama dia. Pasti dia marah kan tau kalo sebenernya gue itu Al?"

"Ini semua salah gue kan?. Gara gara gue Rara meninggal. Iya kan?" tanya Revan.

"Stop salahin diri lo sendiri. Ini udah takdir van. Ini udah takdir" ucap Ciko.

Revan bangkit lalu berjalan dengan srmpoyongan menghampiri mayat Rara. Kemudian Revan memeluk Rara dengan Eratnya.

"Kamu gak bener bener ninggalin aku kan?. Ini semua cuman mimpi kan?. Aku percaya kamu itu perempuan yang kuat. Pliiis. Bangun sayang. Aku mohon"

"Tuhan kalo ini mimpi. Tolong bangunkan aku secepatnya"

"Ra?. Bangun sayang. Kamu mau ketemu sama Al kan?. Ini aku disini sayang. Aku disini" ucap Revan mengecupi tangan Rara yang begitu dingin.

"RARA BANGUUUN!!" Teriak Revan sambil mengguncang tubuh Rara.

"Maaf tuan. Tapi dia telah tiada. Kami dari pihak rumah sakit akan mencabut semua peralatan medis" ucap seorang perawat.

"LO SIAPA?!. BERANI BERANINYA LO MAU NYABUT PERALATANYA?!. LO MAU BUNUH DIA?!. DIA MASIH HIDUP ANJING!!" teriak Revan yang tak terima bahwa mereka akan mencabut semua alat medis yang tertempel dibadan Rara.

"Van. Ikhlasin ya?. Biar Rara gak ngerasa sakit lagi dengan ini semua" ucap Alfian.

"Iya. Rara gak sakit. Tapi gue yang sakit" ucap Revan parau.

"Ikhlasin van. Ikhlasin. Kasihan Rara. Pasti dia sedih banget liat lo yang kayak gini. Biarin dia tenang disana. Ikhkasin van. Ikhlasin" ucap Alfian sekali lagi.

"ENGGGAKK!!!. RARAAAAA.........."

.     .      .      .     .     .      .      .     .

END

Akhirnya tamat juga ni cerita
Huhuuuuy

Maaf pendek

Ketikkk langsung fublish

Papaaay


Ada yang mau epilog gak?? Kalo ada aku buatin deh.

Komen yaaaa

ALICA [Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang