KAU pikir aku makan siang bersamamu karena menyukainya?
Lingga tertawa terbahak-bahak dalam hati saat melihat senyum lebar si bodoh Rafandra Devan Alexander setelah mereka selesai makan siang bersama. Sepertinya laki-laki itu merasa bisa menyentuh hati seseorang dengan belaga bersikap baik. Ya, ia mungkin berhasil melakukan itu pada orang lain. Sayangnya itu tidak akan mempan bagi Lingga Paramitha. Pria itu tidak akan bisa mendapatkan apa yang dirinya mau.
"Kayaknya dia ngerasa bisa mainin hati semua cewek karena mukanya ganteng. Nih ya, Lif, Icha tuh gak bakal sampe kelepek-kelepek gitu sama Direktur Marketing yang baru kalau kagak dipancing."
Lingga masih tetap bersemangat untuk menghasut orang-orang kantor agar ikut tidak menyukai Rafandra. Seperti saat ini, ia dan beberapa lelaki dari berbagai divisi tengah berada di atap kantor sambil menggosipkan Direktur Marketing yang baru.
"Lo ada benernya sih, Li," sungut Alif mengiyakan. "Dia tukang tebar pesona sama cewek-cewek di kantor kita. Najis banget jadi cowok," tambah Alif dongkol.
"Emang iya begitu?" tanya Tarsidi anak Divisi Humas.
"Bener, Di. Dia aja sempet ngegodain gue, untung aja gue gak bego kayak yang lain," sahut Lingga sampai bergidik ngeri.
Kalau pada bagian karyawan pria, Lingga akan mengatakan kalau Rafandra playboy, ia justru melakukan sebaliknya pada karyawan perempuan.
"Masa sih dia gay?"
"Bener," tandas Lingga. "Waktu itu gue gak sengaja mergokin Pak Rafandra lagi liat IG cowok-cowok yang berotot. Normal gak, kata lo?"
"Seriusan lo?" tanya Anggun pegawai dari Divisi Produksi. Matanya terbelalak tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Lingga.
Lingga mengangkat bahunya. "Gue sih gak peduli ya sama orientasi seksual dia, cuma kek dia sengaja gitu pake tameng cewek buat nutupin jati dirinya. Sayang banget sebenernya, dia kan ganteng," ujar Lingga pura-pura bersimpati.
"Sayang banget sih," gumam Dewi ikut menyayangkan. "Tapi gue benci sama cowok belok yang manfaatin cewek buat nutupin jati dirinya. Jatohnya double, berengsek iya, homo juga iya. Gue jadi gak bisa ngeliat dia kayak sebelumnya."
"Speechless sih gue. Cowok ganteng ada aja ya kekurangannya," tambah yang lain.
"Iya ih kenapa ya..."
Bukan hanya itu saja...
"Awalnya gue kira dia kalem ya, ternyata suka ngejelekin orang. Masa dia pernah ngatain si Siska Kiel itu content creator gak jelas. Lo bayangin, seorang Siska Kiel digituin. Padahal kan dia aslinya baik, ramah, dan gak sombong. Jahat banget sih Pak Rafandra," ujar Lingga merengut kesal.
"Kata siapa lo dia ngomong gitu?" tanya Sarah anak Divisi Personalia ingin tahu.
Lingga memutar matanya jengkel. "Dia ngomong langsung pas rapat, Sar. Beneran deh, tuh saksinya juga si Alif," serunya mengebu-ngebu dan membumbui sedikit kebohongan agar sang objek bisa lebih percaya. Apalagi Sarah masih memiliki setitik perasaan untuk Alif, membuat semuanya menjadi lebih mudah.
"Masa sih dia kayak gitu? Gak nyangka banget."
"Iya, makanya, kan."
"Gue jadi gak suka deh sama dia. Masa cowok ngegosip?"
Lingga berusaha menahan tawa mati-matian. Meskipun caranya cukup jahat, tapi lumayan berhasil. Tunggu saja, rumor buruk Rafandra akan segera menyebar ke seluruh penjuru perusahaan. Begitu citranya dikenal buruk, Rafandra akan frustrasi, menderita, dan akhirnya memutuskan mengundurkan diri. Hahaha, Lingga tidak sabar menunggu momen itu terjadi di depan matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Spring Romance (END)
सामान्य साहित्यLingga Paramitha dikenal sebagai biang gosip paling top di bagian divisi pemasaran. Semua gosip dari golongan A sampai golongan Z, ia tahu sepenuhnya. Meskipun begitu, ia sangat menyukai kehidupannya. Kalau bisa dibilang, ia memang suka mendengar ki...
