22. Aqua Mediocris

54 15 8
                                        

Selama ini, Jiho berusaha sebisa mungkin untuk tidak datang ke permukaan Bumi. Lebih dari siapapun, Jiho sangat tahu bahwa dirinya sendiri tidak akan mampu mengatasi berbagai hal yang ada di Bumi. Di antara sekian banyaknya alasan Jiho tidak ingin berkunjung ke Bumi adalah, Jiho tidak dapat bersikap tidak acuh. Dan meski sudah memberi sugesti pada dirinya sendiri, untuk tidak terlalu mengikut campuri urusan manusia, tetap saja pada akhirnya Jiho akan melanggar sugesti tersebut.

Terlebih lagi, jika Jiho melihat adanya tenebris navitas yang tertanam pada manusia. Jiho benar-benar tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

Mengenai tenebris navitas, itu dapat timbul karena adanya tenebris mediocris yang menanamkan tenebris navitas ke dalam diri manusia. Selain itu, tenebris navitas juga dapat muncul dan berkembang dengan sendirinya, tanpa campur tangan para tenebris mediocris. Ya, manusia dapat memunculkannya sendiri. Paling sering, tenebris navitas akan muncul sewaktu manusia sedang mengalami titik terendah dalam hidupnya. Jika tenebris navitas tersebut sudah menjalar ke dalam jiwa manusia, maka akan terasa sulit bagi Jiho untuk menyerap tenebris navitas tersebut.

Karena itu, Jiho sering menyerap tenebris navitas yang ada pada Miyeon. Sebab, baik ia ataupun Eunwoo ... keduanya sama-sama tahu bahwa tenebris navitas yang dimunculkan oleh Miyeon sendiri itu nyaris menjalar ke dalam jiwa.

Pada dasarnya, Jiho pun tidak tahu-menahu tentang hal apa yang membuat Miyeon jadi seperti itu. Bahkan meski ia bertanya pada Eunwoo, tenebris mediocris itu sama sekali tidak memberitahukannya pada Jiho.

"Satu-satunya teman yang bisa kuandalkan cuma Minghao saja," gumam Jiho.

"Kamu ngomong apa, Nak?" tanya Nenek.

Jiho meringis. Ia baru sadar bahwa saat ini ia sedang memijit Nenek.

Perempuan itu pun langsung menggeleng. "Enggak, Nek. Gapapa," sahutnya seraya tersenyum canggung pada Nenek.

Nenek mengangguk. "Ya, udah. Kamu tidur aja sana. Ini udah cukup larut."

"Jiho tetap pijitin Nenek aja di sini," bantah Jiho.

"Udah. Sana tidur. Nenek juga mau tidur."

Jiho mengerucutkan bibir. Ia memeluk Nenek sebentar lalu berdiri dari duduknya. "Jiho balik ke kamar, ya, Nek," pamit Jiho.

💫 💦 💫

"Jiho, ini udah larut banget. Ngapain masih di sini?"

Jiho melirik sebentar ke arah Jaehyun yang baru saja datang menghampiri.

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Jiho malah kembali memandang ke arah langit. Yang mana di sana, terdapat bulan purnama yang terlihat begitu bercahaya. Well, meski pada kenyataanya sumber cahaya bulan tersebut berasal dari bintang-bintang.

Hal tersebut persis seperti Jiho saat ini. Meski ia memiliki industria, tetap saja, sumber industria Jiho adalah Jung Jaehyun.

"Jangan ke sini, Jae. Airnya terlalu dingin. Untuk kadar manusia, bisa-bisa kamu sakit," celetuk Jiho kala menyadari Jaehyun yang hendak masuk ke kolam renang.

Dan benar saja, Jaehyun langsung meringis kala ia baru saja mencelupkan kaki ke dalam air.

Jiho mendesah berat. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Jiho benar-benar ingin kembali ke Mediocris Villa sekarang juga. Ia merindukan Mama. Ia merindukan sungai yang ada di Mediocris Villa. Dan ia merindukan para mediocris yang ada di Aquam Mediocris Domus. Yang paling penting, rencana Jiho untuk menikah dengan Kim Mingyu belum ada kemajuan sedikit pun.

Sementara itu, Jaehyun menghela napasnya. Barusan, sewaktu ia memegangi pundaknya, perasaan Jaehyun benar-benar berkecamuk. Dan Jaehyun sadar, bahwa itu bukanlah perasaan yang dirasakan olehnya. Melainkan perasaan Jiho.

Tanpa sadar, Jaehyun menceburkan diri ke dalam kolam renang. Padahal tadinya ia ingin langsung tidur.

Selain itu, Jaehyun juga sadar bahwa semakin sering Jiho menyerap industria yang ada padanya, maka akan semakin kuat pengaruh perasaan yang dirasakan oleh Jiho padanya. Bahkan terkadang, Jaehyun dapat merasakan perasaan yang sedang dirasakan oleh Jiho, tanpa harus menyentuh tanda percikan air yang ada di pundaknya.

"Jiho, kamu baik-baik aja?" tanya Jaehyun.

Jiho yang saat ini sedang mengapung di atas air kembali menoleh menatap Jaehyun.

Pada waktu yang bersamaan, warna bola mata Jiho berubah biru. Secara perlahan, Jiho pun berenang ke arah Jaehyun.

"Kamu masuk aja sana. Aku baik-baik aja," ucap Jiho. Dalam sekejap, warna bola mata Jiho kini kembali normal.

Namun, sebelum Jaehyun memberikan respons atas ucapan Jiho barusan, Jiho sudah langsung menenggelamkan diri ke dalam kolam.

"Kalau kamu beneran baik-baik aja, mana mungkin aku uring-uringan kayak sekarang ini," gumam Jaehyun. Kendati demikian, Jaehyun tetap beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Jiho sendirian di kolam renang.

Setelah beberapa saat, Jiho kembali muncul di permukaan air. Setelahnya, Jiho mengedarkan pandangan ke sekitar. Bayang-bayang tubuh Jaehyun sudah tidak ada lagi di sana. Kemudian, Jiho beralih melihat ke arah kamar Jaehyun. Yang mana lampu di kamar itu sudah taklagi menyala.

Jiho menghembus napas lega.

Perempuan itu memejamkan mata. Seketika, pakaiannya terganti dengan gaun berwarna biru. Rambutnya pun tergerai rapi. Liontin yang menghiasi leher Jiho kembali tampak bercahaya.

Air yang ada di kolam tersebut mulai beriak-riak.

Sementara itu, Jaehyun yang baru saja kembali dengan handuk tebal di kedua tangannya tampak terpukau melihat Jiho yang saat ini berada di bagian tengah kolam.

Jaehyun meletakkan handuk tebal itu di meja yang ada di pinggir kolam, lalu memperhatikan tubuh Jiho yang secara perlahan menjauhi kolam. Tubuh Jiho terangkat, hingga memperlihatkan seluruh gaun yang dibasahi air.

Di bawah cahaya bulan purnama, Jiho kian terlihat menarik bagi Jaehyun.

Namun, tiba-tiba saja tubuh Jiho terhempas jatuh ke dalam kolam.

Spontan, Jaehyun langsung berlari ke arah kolam. Cahaya kebiruan yang tadinya menyala terang pun kian meredup.

Lelaki itu langsung melompat ke dalam sana. Ia bergerak cepat menghampiri tubuh Jiho yang kian tenggelam, seakan ditarik hingga ke dasar kolam.

Jaehyun meraih tangan Jiho. Ditariknya tangan Jiho dengan sekuat tenaga, lalu dibawanya Jiho ke permukaan air.

Di sela napasnya yang tersengal, Jaehyun bertanya dengan raut wajah yang kelihatan tidak tenang. "Kamu gapapa, Ji?"

Alih-alih memberi jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Jaehyun. Jiho hanya mengangguk pelan.

Sesaat kemudian, perempuan itu menengadah--melihat ke arah bulan purnama yang tampak begitu memukau, bagi dirinya.

"Ji, kamu ...," Jaehyun membelalak. Pegangannya pada Jiho kian dieratkan kala ia melihat tubuh Jiho yang sempat tampak transparan.

Sementara itu, Jiho menumpukan kepalanya yang terasa nyeri ke dada bidang Jaehyun. "Tolong ...,"


Bersambung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bersambung ...,

Scintilla Amoris (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang