"Industria yang ada di liontin Kak Jiho hampir terisi penuh."
Refleks, Jiho memegangi liontin yang berbentuk butiran air itu dan memperhatikannya.
"Tapi Yeojin perhatiin, kenapa Kak Jiho keliatan biasa aja?" Yeojin menatap Jiho dengan saksama, ia berusaha keras--mencoba menganalisis arti dari raut wajah Jiho. Taktanggung, Yeojin bahkan beranjak, berdiri di hadapan Jiho yang duduk di sofa. "Kak Jiho?" Yeojin memiringkan kepala, kembali mengamati ekspresi Jiho yang tengah menunduk melihat liontin itu.
Tidak kunjung mendapat respons dari Jiho, Yeojin pun memutuskan untuk duduk di sofa kembali.
Merasa bosan, Yeojin kemudian melirik ke arah Mama yang seakan takpernah bosan memandang wajah yang terbaring itu. Melihat Mama yang tersenyum ketika mengusap rambutnya, Yeojin langsung membuang muka. Padahal, yang mendapat usapan tersebut adalah tubuh Yeojin yang tak berdaya. Tapi entah mengapa, Yeojin seolah dapat merasakan usapan itu juga.
Gadis itu menghela napas. Hingga pada akhirnya, Yeojin memutuskan untuk tidur di pangkuan Jiho.
Jiho sempat tersentak. Akan tetapi beberapa saat kemudian, Jiho tersenyum, dan mengusap rambut Yeojin.
"Mama juga lagi elus-elus rambut Yeojin," ucapnya.
Spontan, Jiho menoleh ke arah Mama. Yang mana saat ini, Mama duduk di sebelah ranjang pasien sembari melakukan hal yang sama dengannya.
"Bu, semua barang-barangnya sudah saya bawa ke sini."
Mama dan Jiho, kompak menoleh ke arah ambang pintu kamar rawat inap.
Saat itu pula, Yeojin menyingkirkan tubuhnya dari pangkuan Jiho.
"Maaf karena Mama ngerepotin kamu, ya, Nak," ujar Mama, sembari menghampiri Jiho yang baru saja berdiri dari duduknya.
Jiho menggeleng pelan. Seulas senyuman tampak menghiasi bibir perempuan itu. "Sama sekali ga ngerepotin, kok, Ma. Jiho malah seneng bisa temenin Yeojin."
Tangan Mama bergerak mengusap rambut Jiho. Kemudian, Mama menarik Jiho ke pelukannya.
"Nanti selesai anterin Mama ke bandara, Mama bakalan nyuruh Jaehyun supaya langsung ke sini," ujar Mama seraya melepas pelukan tersebut.
Jiho mengangguk.
"Kamu ga perlu khawatir, Jiho. Nenek ... ada Kakak yang urus," ucap Yuri sembari menepuk pelan pundak Jiho.
Lagi, Jiho mengangguk.
Lalu, Mama pun berpamitan pada Jiho. Sebelum benar-benar keluar dari ruang rawat inap itu, Mama menoleh sekali lagi ke arah ranjang pasien. Yang mana di sana, Yeojin masih terbaring tak berdaya.
Setelah memastikan majikannya keluar dari sana, Yuri kembali menghampiri Jiho. Perempuan itu memegangi kedua pundak Jiho, dan menatap Jiho dengan tatapan serius.
"Ingat, Jiho ... kalau ada apa-apa, langsung kasih tau Kakak. Tengah malam sekalipun, sama sekali ga masalah. Nanti kalau Jaehyun ga datang-datang juga, langsung telpon Kakak. Atau kalau Jaehyun telat, kamu omelin aja langsung. Jangan takut sama Jaehyun. Ngerti, 'kan?"
Jiho tertawa pelan. "Ngerti, kok, Kak," sahutnya sembari mengangguk.
Pada akhirnya, Yuri pun ikut beranjak keluar dari ruang rawat inap.
Jiho kembali duduk di sofa. Dan Yeojin kembali menempatkan kepalanya di pangkuan Jiho.
"Kak Jiho kalau sama Yeojin pasti kayak ngeliat bayi raksasa, 'kan?" Yeojin tertawa pelan. "Umur Kak Jiho 'kan 490 tahun. Sedangkan Yeojin masih 15 tahun."
KAMU SEDANG MEMBACA
Scintilla Amoris (Completed)
FantasyKim Jiho merupakan seorang aqua mediocris paling lemah dalam kasta terendah di Mediocris Villa. Yang mana ia juga mendapat hukuman dari sang Kaisar karena telah melakukan berbagai tindakan pelanggaran. Kim Jiho diasingkan ke Bumi. Ia diharuskan unt...
