25. Hubungan Antar Mediocris dan Manusia

48 15 2
                                        

Jiho mengalihkan atensi, melihat ke arah pintu toserba yang baru saja dibuka oleh seseorang. Yang mana sosok tersebut, pernah dilihat langsung olehnya.

"Ah, maaf. Aku ga liat tanda close yang ada di pintu," ucapnya.

Jiho menoleh melirik ke arah Yoobin sebentar, lalu beranjak menghampiri perempuan yang hendak melangkah keluar.

"Eh? Lo ... bukannya perempuan yang bareng Jaehyun hari itu?"

Jiho mengangguk. "Iya." Kemudian, ia kembali melirik ke arah Yoobin, yang mana saat ini sedang sibuk mengobati luka di sudut bibir dan pelipis Miyeon.

"Dia orangnya, Ji? Yang diikuti Kim Yoohyeon?" tanya Eunwoo yang senantiasa ada di dekat Miyeon.

Mendapat respons anggukan samar dari Jiho, Eunwoo pun beranjak mendekat ke arah Gyuri. Diperhatikannya perempuan yang mengenakan dress berwarna hijau pastel itu dengan begitu saksama. "Tenebris navitas yang ada padanya memang milik Yoohyeon," ujar Eunwoo. "Kamu ajak masuk saja. Lagi pula, Miyeon cukup sering berpas-pasan dengannya."

"Hari itu kita masih belum sempat kenalan, 'kan? Aku--"

"Maaf," sela Gyuri. Perempuan itu tersenyum sungkan pada Jiho. "Kayaknya, gue datangnya disaat yang ga tepat, deh," ucap Gyuri.

"Masuk aja. Gapapa, kok. Lagian cuma ada kami aja di sini," ujar Miyeon. Yang mana sedari tadi, perempuan itu hanya sekadar memperhatikan interaksi Jiho dengan Gyuri.

Gyuri tersenyum canggung. Kala ia ingin menolak dan beranjak pergi, Jiho tiba-tiba saja meraih tangannya, dan menarik Gyuri untuk ikut duduk bersama mereka.

"Kamu ga lagi buru-buru 'kan, Gyul?" tanya Jiho.

"Gyul?" Gyuri mengerutkan dahi menatap Jiho.

"Ah, aku dengar Jaehyun waktu panggil kamu pake nama Gyul," kata Jiho.

Gyuri tertawa pelan. Ia kemudian mengangguk.

"Kita sering ketemu pas di jalan. Tapi sampe sekarang ga pernah kenalan," ujar Miyeon. Sembari memamerkan senyum cerahnya, Miyeon mengulurkan tangan ke hadapan Gyuri. "Aku Cho Miyeon. Well, mungkin kamu udah tau beberapa hal tentangku dari Winwin. Atau dari orang lain yang tinggal di sekitar sini," lanjutnya.

Gyuri segera menjabat tangan Miyeon, juga membalas senyuman Miyeon. "Jang Gyuri. Temennya Winwin ...," Gyuri menoleh melirik Jiho yang duduk di sebelahnya. "Juga Jaehyun."

Setelahnya, Yoobin ikut memperkenalkan diri. Sewaktu Gyuri mengulurkan tangan ke arahnya, Yoobin hendak menolak. Eunwoo dan Jiho memperhatikan interaksi Yoobin dan Gyuri dengan harap-harap cemas. Sementara Miyeon, tampak menautkan alisnya menatap Yoobin.

"Yoobin, kamu kenapa?" tanya Miyeon.

Yoobin terdiam sebentar. Disaat yang bersamaan, ketiga mediocris itu dapat melihat tenebris navitas yang ada pada Gyuri kian menjalar--hendak mengelilingi tubuh Gyuri.

Melihat hal itu, Eunwoo menendang kaki kursi yang diduduki oleh Yoobin.

Spontan, Yoobin pun tertawa--dengan raut wajah yang terlihat cukup datar.

Alhasil, Yoobin segera menjabat tangan Gyuri. Hanya sebentar. Benar-benar sebentar. Setelah itu, Yoobin langsung menarik Gyuri ke pelukannya. "Beneran maaf banget, Gyuri. Aku ga ada maksud apa-apa. Cuma ... kalau kenalan sama orang lain, aku lebih suka pelukan kayak gini. Daripada jabat tangan kayak tadi," ujar Yoobin lalu melepas pelukannya. "Tapi kalau sama kamu, apa aja ga masalah, sih." Yoobin mengakhiri kalimatnya dengan tertawa pelan.

Alasan mengapa Yoobin mencoba untuk menolak uluran tangan Gyuri ... itu karena tiap kali Yoobin berjabat tangan dengan manusia, ia akan melihat impian dari manusia tersebut. Dan impian itu merupakan impian yang ingin dikubur dalam-dalam oleh si empunya mimpi.

Bagi Yoobin sendiri, itu merupakan kelebihan yang lebih dianggapnya sebagai mala petaka.

Menjadi bagian dari somnia mediocris, benar-benar membuat hidup Yoobin terus terusik.

"Aku titip Miyeon dan Gyuri pada kalian sebentar," celetuk Eunwoo.

Berbeda dengan Yoobin, Jiho menoleh melirik ke arah Eunwoo sebentar.

"Aku merasakan adanya industria milik Yoohyeon. Aku rasa dia ada di sekitar sini. Bagaimanapun juga, aku harus segera menangkap Yoohyeon, dan menyerahkannya pada Kaisar," ujar Eunwoo lalu menghilang dari sana.

Sementara itu, kini Jiho dan Yoobin saling melirik. Menyadari bahwa keduanya sedang duduk di antara manusia yang sama-sama memiliki tenebris navitas.

"Omong-omong, maaf, ya ... atas kejadian yang tadi. Kalian pasti ga nyaman banget, dan makasih juga karena udah tolongin aku," celetuk Miyeon.

Respons dari Gyuri jelas terlihat berbeda dari respons yang diperlihatkan oleh Jiho dan Yoobin saat ini.

Gyuri menaikkan sebelah alisnya menatap ketiga perempuan itu secara bergantian.

Miyeon tersenyum tipis. "Gapapa. Orang-orang di sekitar sini juga udah tau, kok," ujarnya.

Usai mendengar kalimat tersebut, raut wajah Gyuri langsung berubah drastis. Bahkan tanpa perlu dijelaskan pun, Gyuri langsung tahu ke arah mana pembicaraan mereka sekarang.

"Baru kali ini, ada yang mau bantu aku ... selain Mama," ungkap Miyeon.

Tubuh Gyuri mendadak kaku. Melihat raut wajah yang diperlihatkan oleh Miyeon saat ini ... entah mengapa ia merasa seperti sedang melihat cerminan dari dirinya sendiri. Dan jika dipikir-pikir lagi, baru kali ini ada yang mau berkenalan dengannya--sebelum mereka tahu akan identitas asli Gyuri yang sebenarnya.

"Gyuri? Kok, diem aja, sih?" Yoobin menyenggol pelan lengan Gyuri. Kemudian, ia memeluk Gyuri dari samping. "Dan lagi, Miyeon ... aku sama Jiho bakalan selalu ada buat kamu." Akan tetapi bukannya kembali mengobrol dengan Gyuri, Yoobin malah mengobrol dengan Miyeon. "Gyuri juga."

Gyuri menautkan alis menatap Yoobin yang masih memeluknya.

"Kamu juga bakalan selalu ada buat Miyeon, 'kan?" tanya Yoobin.

Gyuri terdiam sebentar. Ia tersenyum canggung pada yang lainnya. Lalu, ia pun mengangguk.

"Aku, Miyeon, sama Yoobin juga bakalan selalu ada buat kamu, kok, Gyul," ujar Jiho sembari menggenggam tangan kiri Gyuri yang ada di meja.

Gyuri memperhatikan raut wajah ketiga perempuan yang ada di sekitarnya. Dan Gyuri cukup sadar, bahwa mereka memperlakukannya dengan tulus.

Sementara Miyeon, seulas senyuman tampak kian merekah di bibirnya.

Jika boleh jujur, semenjak Jiho dan juga Yoobin hadir ke dalam hidupnya, Miyeon jadi lebih sering mengisi waktunya dengan tawa.

Sebelumnya, Miyeon hanya menjalani kehidupannya sesuai rutinitas sehari-hari. Persis seperti apa yang telah direncanakan sehari sebelum ia menjalani kehidupannya. Akan tetapi, semenjak Jiho dan Yoobin datang, Miyeon bahkan tidak terlalu ingat lagi kapan terakhir kali ia membuat rencana rutinitas seperti itu.

Dan sepertinya mulai hari ini, Miyeon akan memiliki satu orang lagi--yang berharga dalam kehidupan Miyeon.

"Permisi, Kak ... tokonya buka ga?"


 tokonya buka ga?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bersambung ...,

Scintilla Amoris (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang