Kim Jiho merupakan seorang aqua mediocris paling lemah dalam kasta terendah di Mediocris Villa. Yang mana ia juga mendapat hukuman dari sang Kaisar karena telah melakukan berbagai tindakan pelanggaran.
Kim Jiho diasingkan ke Bumi. Ia diharuskan unt...
"Masakan Nenek ga enak, ya, Nak? Atau ini bukan selera kamu? Dari tadi Nenek perhatikan, kamu cuma ngaduk nasi yang ada di piring itu aja," ucap Nenek, sembari menatap Jiho dengan tatapan prihatin.
Jiho menoleh. Ia mendadak tersadar--juga menyadari akan hal apa yang dilakukannya sekarang.
Perempuan itu langsung tersenyum canggung pada Nenek. Kemudian, ia mulai menyuap beberapa sendok nasi ke dalam mulutnya, dengan sedikit terburu-buru.
"Mungkin Jiho masih belum ada selera makan, Nek. Jiho 'kan masih belum sembuh total," celetuk Jaehyun.
"Jadi begitu?" Nenek bergumam pelan. Wanita tua tersebut kembali memperhatikan Jiho. Kali ini, dengan jauh lebih saksama lagi. "Jiho, ada makanan yang mau kamu makan?" tanya Nenek.
Jiho menggeleng cepat. Sementara mulutnya saat ini, penuh dengan makanan.
"Pelan-pelan makannya, Nak," kata Nenek sembari mengusap punggung Jiho. "Kalau memang lagi ga selera, jangan dipaksa. Karena kamu udah makan beberapa suap, kamu boleh berhenti. Kalau dipaksa terus, takutnya nanti malah muntah."
Jiho mengangguk beberapa kali. Perempuan itu kemudian meneguk air minum yang ada di hadapannya.
"Nek, Jiho izin masuk ke kamar, ya?"
Nenek tersenyum menanggapi. "Iya. Kalau ada yang kamu perluin langsung kasih tau Nenek. Bilang ke Jaehyun juga gapapa," ujar Nenek.
Jiho mengangguk lalu berterima kasih pada Nenek. Setelah itu, Jiho pun langsung beranjak dari ruang makan menuju kamarnya.
"Jiho kenapa, Jae? Tadi ada kamu gangguin, ya?" Nenek menatap Jaehyun dengan tatapan skeptis.
Jaehyun yang tadinya sedang memperhatikan langkah Jiho, langsung beralih menatap Nenek. Lelaki itu menggeleng dengan cepat. "Serius, Nek. Jaehyun ga apa-apain Jiho," jawabnya.
Nenek terdiam sebentar. "Jadi kenapa Jiho mendadak jadi pendiam banget, ya, Jae? Perasaan, kemaren Jiho udah akrab dan manja banget sama Nenek. Sekarang kenapa malah keliatan murung kayak gitu?"
Jaehyun menaikkan bahu. Sejujurnya, ia pun merasakan hal yang sama. Akan tetapi Jaehyun rasa, sikap Jiho berubah drastis usai mereka bertemu dengan Gyuri.
"Nenek udah selesai makan. Nanti kalau ada sisa tolong kamu masukin ke dalam kulkas, ya, Jae," ucap Nenek sembari berdiri dari duduknya.
Jaehyun mengangguk mengiyakannya. "Piringnya biar Jaehyun aja yang cuci. Nenek istirahat aja."
"Cuma ke rumah sebelah. Bukan ke komplek sebelah, Jaehyun," ujar Nenek. "Kamu jangan pergi keluyuran. Tetap di sini jagain Jiho. Awas aja kalau Jiho sampai kenapa-napa."
💫 💦 💫
Jiho memijit pelipisnya yang terasa amat nyeri. Lebih dari apapun, Jiho benar-benar tidak menyangka bahwa tenebris navitas yang diserapnya dari Gyuri, meninggalkan efek yang seperti ini.
Semenjak pagi tadi, Jiho terus merasa murung. Jujur, itu seperti bukan dirinya sendiri.
Meski merupakan mediocris paling lemah di antara para aqua mediocris, dalam kasta paling rendah pada kasta Mediocris Villa, Jiho selalu berpikiran baik tentang dirinya sendiri. Karena itulah, ia dapat bertahan hingga sekarang ini. Bahkan di saat dirinya difitnah, alih-alih merasa terpuruk, Jiho lebih memilih untuk memikirkan jalan keluarnya. Jiho bahkan terkadang memikirkan cara untuk membalas dendam, demi membayar amarahnya akan tuduhan yang tidak berdasar.
Namun, usai tenebris navitas terserap ke dalam pikiran dan raganya, Jiho jadi berpikiran negatif terus. Ia bahkan menyalahkan diri sendiri, atas apa yang dialami olehnya saat ini. Andai saja ia tidak selemah itu ... semuanya pasti akan tetap baik-baik saja. Ia pun bisa membuat mamanya bangga. Akan tetapi, bahkan hingga saat ini, Jiho masih saja terus menyusahkan Mama, menyusahkan keluarganya--para aqua mediocris yang tinggal di Aquam Mediocris Domus, juga menyusahkan Minghao, seorang saltus mediocris yang kastanya satu tingkat lebih tinggi darinya.
Selain itu, tenebris navitas yang terserap ke dalam raganya membuat ia merasa amat kelelahan. Luar biasa lelah. Hingga rasanya, Jiho tidak akan pulih hanya dengan tidur seharian.
Dan jika dipikir-pikir lagi, ini merupakan pengalaman pertama Jiho menyerap industria milik tenebris mediocris, setelah selama 490 tahun ia hidup.
"Jiho, aku boleh masuk?"
Jiho mengalihkan atensi, melihat ke arah pintu kamar yang baru saja diketuk oleh Jaehyun.
"Boleh."
Dengan sisa tenaganya yang tidak seberapa itu, Jiho berusaha untuk duduk. Kemudian, ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur.
Sewaktu pintu terbuka, ia melihat Jaehyun yang berjalan ke arahnya, lalu duduk di bagian tepi tempat tidur.
"Kamu kenapa?" tanya Jaehyun. Alih-alih bertanya karena khawatir, ekspresi Jaehyun saat ini lebih terlihat seperti sedang menginterogasi.
Jiho menautkan alis menatap Jaehyun.
"Pulang dari rumah Gyuri, kamu mendadak diam begini. Apa Gyuri ada ngelakuin sesuatu ke kamu?" tanya Jaehyun.
Jiho menggeleng dengan cepat.
"Aku cuma agak capek aja hari ini," jawab Jiho.
Jaehyun terdiam sebentar. Lelaki itu menatap Jiho dengan skeptis.
Menurut Jaehyun, itu merupakan hal yang tidak masuk akal. Bukankah kemarin ia dan Jiho baru saja berciuman?
Well, Jaehyun sama sekali tidak mengetahui fungsi Jiho melakukan itu untuk apa. Akan tetapi menurut terkaannya, itu pasti memiliki kaitan erat dengan kekuatan Jiho.
Dan hal yang cukup mengganggu pikiran Jaehyun adalah sikap Jiho yang berbeda dari biasanya. Meski baru sebentar mengenal, Jaehyun amat menyadari bahwa Jiho kerap kali mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Jaehyun, besok aku mau ke tempat tadi. Tempat aku ketemu sama Minghao. Tolong anterin aku ke sana besok, ya," pinta Jiho.
Raut wajah Jaehyun berubah datar usai mendengar permintaan dari Jiho barusan.
"Maaf. Besok aku ada urusan," ucap Jaehyun, masih dengan raut wajahnya yang datar.
Jiho terdiam sebentar. "Ya, udah. Kalau gitu aku pergi sendiri aja besok. Oya, aku sekalian mau--"
"Kamu mau balik ke tempat asal kamu bareng dia--maksudku, Minghao?" Jaehyun menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia kemudian berdiri dari duduknya. "Kalau memang iya, aku bakalan sempatin waktu buat anterin kamu."
Jiho mendadak terdiam. Begitu pun dengan Jaehyun yang tidak mengucapkan kalimat apapun lagi.
Atmosfer di antara keduanya terasa benar-benar dingin.
Hingga pada akhirnya, Jiho berceletuk, "Jaehyun, kamu marah?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.