8. Industria

55 16 19
                                        

"Jaehyun, tadi kamu 'kan berdua keluarnya sama Jiho. Tapi kenapa kamu aja yang balik masuk?" tanya Nenek. "Jiho mana? Masih di luar? Kenapa ga diajak masuk sekalian? Kamu berantem sama Jiho?"

Jaehyun melepas apron yang dikenakan lalu bersedekap menatap Nenek. Mendengar rentetan pertanyaan yang diajukan Nenek, entah mengapa membuat telinga Jaehyun terasa panas.

Belum juga sehari Jiho tinggal bersamanya dan juga Nenek, tapi Nenek sudah seposesif itu pada Jiho.

"Ajak Jiho masuk, Nak. Ini Nenek udah selesai masak. Kita makan bareng," ucap Nenek.

Jaehyun ingin menolak. Namun sewaktu melihat berbagai makanan yang telah ditata oleh Nenek di meja makan, Jaehyun pun berniat beranjak dari sana.

"Ya, udah. Jaehyun panggil Jiho dulu. Nenek duluan aja makannya," ucap Jaehyun lalu pergi.

Sejujurnya, ia sendiri pun merasa cukup bingung. Pasalnya, ini sudah lewat beberapa menit, tapi Jiho tidak kunjung kembali. Kendati demikian, mengingat bahwa Jiho bukanlah manusia ... hal itu sama sekali tidak menimbulkan rasa khawatir dalam diri Jaehyun.

Jaehyun berjalan ke halaman belakang rumah. Yang mana di sana terdapat kolam renang yang nyaris tidak pernah dikunjungi oleh Nenek.

Sewaktu tiba di sana, langkah kaki Jaehyun mendadak terhenti. Ia mengalihkan atensi ke sekitar, namun bayang-bayang tubuh Jiho tidak juga muncul.

"Dia ga mungkin masih ada di sana, 'kan?" gumam Jaehyun.

Lelaki itu kembali melangkah--mendekat ke arah kolam. Tepatnya, ia kembali menghampiri tempat yang sempat disinggahinya tadi.

Jaehyun melihat ke arah kolam, dan memperhatikannya dengan lebih saksama. Lelaki itu terbelalak. Hingga tanpa sadar, ia bergegas menjatuhkan tubuhnya ke dalam air.

Begitu menyelam, Jaehyun melihat Jiho yang terkulai. Sekeliling tubuh Jiho dikelilingi oleh cahaya kebiru-biruan. Persis seperti biasanya. Sementara liontin yang menghiasi leher Jiho tampak bersinar terang.

Jaehyun langsung menarik tangan Jiho. Lalu mendekap tubuh Jiho yang tak bertenaga.

Meski Jaehyun telah mencoba menepuk-nepuk pipi Jiho, tetap tidak ada reaksi apapun dari Jiho.

Jiho ... kehilangan kesadarannya.

Karena itu, Jaehyun segera menarik Jiho ke permukaan dan mengeluarkan Jiho dari dalam kolam.

Napas Jaehyun tampak terengah-engah. Tanpa memberi jeda pada diri sendiri, Jaehyun langsung menekan dada Jiho beberapa kali. Setelahnya, Jaehyun mendekatkan jarinya ke bagian bawah hidung Jiho.

Ia menghela napas pelan. Mengetahui bahwa Jiho masih bernapas, rasa khawatir yang ada dalam dirinya lambat laun mereda.

Jaehyun pun kembali menekan dada Jiho. Mengulangi hal yang sama beberapa kali, sehingga pada saat Jiho terbatuk, Jaehyun berhenti dan bertanya, "Kamu gapapa, Jiho?" Menyadari Jiho yang hendak memuntahkan air, ia langsung berinisiatif memiringkan kepala Jiho

Setelah itu, Jaehyun beralih memangku Jiho. Ia menatap Jiho dengan sorot mata penuh kekhawatiran.

"Jiho?"

Jiho hanya sekadar mengerjapkan mata, sebagai respons atas panggilan dari Jaehyun barusan.

Melihat respons Jiho yang seperti itu, Jaehyun langsung membopong tubuh Jiho.

Sementara itu, Jiho mengerahkan seluruh tenaga yang dimiliki demi mengalungkan tangannya ke leher Jaehyun. Ia memperhatikan kening Jaehyun yang tampak sedikit berkerut. Air yang ada di rambut Jaehyun pun terus menetes.

Scintilla Amoris (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang