Kim Jiho merupakan seorang aqua mediocris paling lemah dalam kasta terendah di Mediocris Villa. Yang mana ia juga mendapat hukuman dari sang Kaisar karena telah melakukan berbagai tindakan pelanggaran.
Kim Jiho diasingkan ke Bumi. Ia diharuskan unt...
Sejujurnya, Jiho memiliki alasan tersendiri mengapa ia bertekad untuk bekerja di toserba. Yang mana letaknya tepat di sebelah toko bunga milik mamanya Winwin, sahabat Jaehyun.
"Ada yang bisa aku bantu, Miyeon?"
"Aku kira kamu ga bakal datang."
Jiho tertawa pelan menanggapi kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Miyeon, putri dari pemilik toserba itu.
Cho Miyeon. Dari apa yang Jiho tahu, Miyeon merupakan putri tunggal si pemilik toserba. Mengenyampingkan hal tersebut, Miyeon adalah alasan mengapa Jiho memilih untuk tetap bekerja di sana. Meski mamanya Jaehyun telah memberikan penawaran yang sangat menggiurkan.
"Karena kita cuma berdua, dan karena hari ini hari pertama kamu, kamu jaga kasir aja. Biar aku yang atur barang ini," ucap Miyeon seraya mengangkat satu kardus mie instan.
Jiho menggeleng. "Belum ada pelanggan yang datang. Jadi aku bantuin kamu aja dulu." Ia pun ikut melakukan hal yang sama dengan Miyeon.
Ingatan Jiho terputar kembali sewaktu dirinya tiba di Bumi untuk menjalankan hukuman. Jiho masih ingat, bahwa hari itu ada seorang perempuan yang memberikan jaket untuknya. Well, perempuan tersebut adalah Cho Miyeon, rekan kerjanya saat ini sekaligus putri dari pemilik toserba tersebut. Ah, apa seharusnya Jiho memanggilnya master? Bagaimana pun juga, Miyeon itu atasannya, bukan?
Selain itu, alasan mengapa Jiho tetap bekerja di sana adalah, keberadaan tenebris mediocris yang entah berapa lama telah mengikuti Miyeon. Tempo hari, sewaktu ia bertemu dengan Miyeon, tenebris mediocris itu memang sudah ada bersama Miyeon.
Jika dibandingkan dengan Gyuri, yang mana pada dasarnya Gyuri juga diikuti oleh tenebris mediocris, aura positif dalam diri Miyeon masih bisa dirasakan oleh Jiho. Hal itu jelas sangat berbanding terbalik dengan Gyuri.
"Sudah lama tidak bertemu. Kira-kira, sudah berapa tahun, ya? Seratus tahun? Ah, atau mungkin lebih dari itu?"
Jiho mengalihkan atensi ke sekitar. Usai memastikan bahwa hanya dirinya sendiri di sana, Jiho langsung berbalik.
"Jiho, aku ke depan sebentar, ya. Nanti kalau ada pelanggan, langsung kamu layani aja--eh, kamu tau cara pake mesin kasirnya, 'kan?"
Jiho mengangguk sembari tersenyum.
"Ya, udah, kalau gitu aku pergi dulu," pamitnya lalu bergegas beranjak dari sana.
Sewaktu Miyeon pergi, tenebris mediocris yang berdiri tepat di hadapan Jiho hendak ikut pergi juga. Menyadari hal tersebut, Jiho pun langsung menahan lengannya.
"Eunwoo, kamu tahu alasan kenapa kita jarang bertemu?" Jiho menyeringai. Perempuan itu bahkan menatap tenebris mediocris yang disapanya Eunwoo itu dengan tatapan sinis. "Itu karena kamu hanya berkeliaran saat malam hari tiba. Jam kerja kita sangat berbeda. Jadi merupakan hal yang wajar jika kita jarang bertemu," ujar Jiho. "Tapi, aku kira mediocris seperti kamu--"
"Kamu masih saja banyak bicara, Kim Jiho," sela lelaki itu.
"Terima kasih, Cha Eunwoo. Aku anggap itu sebagai pujian."
Eunwoo, lelaki yang mengenakan jubahnya yang berwarna hitam pekat tersebut mendegus menatap Jiho.
"Minggir. Masih banyak hal yang harus aku lakukan," ucap Eunwoo sembari mendorong tubuh Jiho ke samping. "Dan lagi, daripada mengganggu aktivitas pribadiku, bukankah lebih baik kamu mengisi industria kamu itu?" Eunwoo tersenyum mengejek pada Jiho.
Jiho berdecih.
Akan tetapi lagi-lagi, pada saat Eunwoo hendak beranjak pergi, Jiho kembali menahannya.
"Aku sempat bertemu dengan Yoohyeon."
Mendengar hal itu, Eunwoo yang tadinya hendak memaki Jiho langsung mengurungkan niatnya.
Cahaya berwarna hitam yang mengelilingi tubuh Eunwoo tiba-tiba saja terlihat, menyeruak, hingga sekelilingnya hanya dipenuhi oleh kegelapan saja.
"Kim Yoohyeon? Kamu yakin?"
Jiho terdiam sebentar lalu berdecak pelan. "Sebelum itu, tolong hilangkan itu dulu." Jiho menunjuk ke arah cahaya hitam yang mengelilingi Eunwoo. "Warna hitam benar-benar sangat tidak ramah," gumamnya.
Eunwoo menurut. Ia langsung meredam emosi yang dirasakan olehnya. Meski kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Jiho membuatnya ingin memukul Jiho saat ini juga.
"Tentu saja. Kamu tahu sendiri, bukan? Para aqua mediocris merupakan contoh teladan dalam hal kejujuran," ucap Jiho, dengan tujuan memamerkan para leluhurnya. Perempuan itu bahkan menunjukkan senyum angkuhnya pada Eunwoo. "Yoohyeon benar-benar diluar batas. Yoohyeon menanamkan tenebris navitas ke dalam pikiran dan raganya Gyuri."
"Gyuri?" Eunwoo bergumam pelan. "Maksud kamu ... Jang Gyuri?"
Jiho terdiam sebentar. Ia hanya tahu bahwa nama temannya Jaehyun itu Gyuri. Hanya itu.
"Ah, aku ingat! Aku tidak tahu nama lengkapnya apa. Tapi yang pasti, Jaehyun memanggilnya Gyul," ungkap Jiho.
Eunwoo terdiam. Lelaki itu mencoba memutar kembali ingatannya terkait beberapa hal.
"Aku kenal dia!" seru Eunwoo. "Tapi setiap kali aku melihatnya saat mampir ke sekitar sini, aku tidak pernah melihat keberadaan Yoohyeon sekali pun," ujarnya.
Jiho mengedikkan bahu tak acuh. "Mungkin karena Yoohyeon tahu bahwa tempat ini merupakan wilayahmu."
Eunwoo menghela napasnya. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku harus terus mengawasi Miyeon. Sebelum tenebris navitas menjalar ke raga, dan lebih parahnya lagi, ke jiwa Miyeon."
Jiho mengangguk lalu menggeser tubuhnya ke samping. "Andai semua tenebris mediocris memiliki sifat seperti kamu, pasti semuanya akan terasa damai."
Eunwoo tertawa pelan mendengar ujaran Jiho. "Ya. Kamu benar," sahutnya. "Dan andai saja kamu seperti anggota aqua mediocris yang lainnya, masa depanmu sebagai mediocris pasti akan tetap terjamin."
"Cha--" Jiho berdecak kala Eunwoo tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya. "Dasar, Cha Eunwoo!"
Jiho beralih memperhatikan ke arah luar. Di seberang jalan sana, ia melihat Eunwoo yang berdiri tepat di belakang Miyeon.
Ia meringis. Menyadari bahwa Eunwoo hanya dapat membantu Miyeon untuk mencegah hal-hal buruk yang ingin dilakukan oleh Miyeon. Dan diwaktu yang sama, Jiho juga sadar. Bahwa hanya aqua mediocris yang dapat menyerap tenebris navitas.
Lebih dari apapun, Jiho bersikeras untuk tidak terlalu peduli dan ikut campur dalam mengurusi urusan manusia. Akan tetapi, berpura-pura tidak peduli entah mengapa terasa sangat membebani Jiho.
Well, Jiho sudah membuat keputusan. Ia akan menyerap tenebris navitas yang tertanam di pikiran juga perasaan Miyeon. Dan sewaktu tiba di rumah nanti, Jiho akan menyerap kembali industria yang ada pada Jaehyun. Dengan begitu, tenebris navitas yang terserap ke dalam tubuhnya akan lenyap. Persis seperti apa yang dialami olehnya saat ia menyerap tenebris navitas yang ada pada Gyuri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.