"Kenapa ga kasih tau aku pas kamu ke Jepang?"
Mendapat pertanyaan yang tak terduga begitu, membuat Gyuri terdiam selama beberapa saat. Ia kemudian mencondongkan badannya ke arah Jaehyun. Dalam jarak yang cukup dekat, perempuan itu memperhatikan raut wajah Jaehyun.
"Kamu sendiri yang ga pernah tanya tentang aku. Jadi aku rasa, ini bukan hal penting yang harus aku kasih tau ke kamu." Gyuri menaikkan sudut bibirnya. Ia kembali duduk seperti semula usai melihat Jaehyun yang baru saja mendengus. "Tentang kejadian dua tahun yang lalu ... aku mau minta maaf. Padahal waktu itu pun, aku tau kalau perbuatanku itu bukan hal yang benar. Tapi aku bakalan tetap lebih milih mereka--orang-orang yang ngaku sebagai temen aku. Ya, walaupun ... pas tau kalau keluargaku masih jauh di bawah keluarga kamu, mereka malah langsung menganggap aku sebagai musuh." Gyuri mengakhiri kalimatnya dengan tawa pelan.
Tiap kali Gyuri teringat akan kejadian dua tahun yang lalu, Gyuri selalu saja meringis. "Aku yang dulu beneran bodoh banget 'kan, Jae? Padahal, aku sedikit pun ga suka sama kamu. I mean ... sebagai seorang perempuan." Gyuri memicingkan mata menatap Jaehyun. Ia kemudian menangkup sebelah pipinya dengan tangan, memperhatikan Jaehyun dengan saksama. "Mungkin karena kita udah barengan terus dari kecil, ya, Jae? Jadi secara ga sadar, aku udah anggap kamu kayak kakak aku sendiri. Beda kalau sama Winwin. Sampai sekarang pun, aku masih menganggap dia sebagai temen yang bisa diandalin kapanpun. Kalau kamu, sosok yang aku bisa temuin dalam kegelapan tanpa harus mengharapkan apapun ... tapi itu dulu. Karena semenjak kejadian dua tahun yang lalu, pas aku lebih milih ngikutin apa kata mereka, yang nyuruh aku buat nembak kamu di auditorium, kamu mulai berubah." Gyuri tersenyum masam.
Perempuan itu kini beralih mengaduk minumannya.
"Ya ... wajar banget, sih, sebenernya. Aku kalau jadi kamu, pasti bakalan kemusuhan seumur hidup," ujar Gyuri lalu tertawa pelan. Ia kemudian meneguk air minum pesanannya, lalu kembali menoleh menatap Jaehyun. "Soal kejadian pagi itu ... pas kita ketemu di depan Bar, itu sebenarnya aku terpaksa ke sana."
Gyuri menarik napasnya dalam-dalam, dan mengembusnya perlahan.
"Sebenarnya selama ini, Bunda selalu semena-mena ke aku. Kejadian hari itu, aku lagi-lagi dijadiin korban sama Bunda. Bunda bohong ke aku. Bunda bilang, Bunda mau ajak aku ke Jepang. Ketemu Ayah ...," Gyuri menjeda kalimatnya. Sembari mengetuk-ngetuk meja, perempuan itu tertawa pelan. "Padahal aku udah tau banget karakter Bunda kayak gimana. Tapi aku masih aja percaya. Aku bahkan sampe kemasin barang-barang."
Gyuri kembali menghela napas. Ia kemudian memegang erat-erat gelas berisi susu cokelat pesanannya.
Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jaehyun, Gyuri kembali berujar, "Rupanya Bunda lagi-lagi ngejual aku ke orang lain, Jae. Dan kejadian yang kayak gini, bukan yang pertama kalinya buat aku." Dengan perasaan yang penuh rasa sangsi, Gyuri kembali menatap Jaehyun. "Sebenarnya, aku udah lama dipake sama orang lain ...."
Jaehyun bergeming. Dunianya serasa runtuh saat itu juga.
Gyuri, perempuan yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri itu, kini menatapnya dengan tatapan bergetar.
Selama ini, Jaehyun selalu menjaga Gyuri dengan baik. Bahkan meski Gyuri telah melakukan hal yang paling tidak disukai oleh Jaehyun, seperti kejadian dua tahun yang lalu pun, Jaehyun masih memperlakukan Gyuri dengan baik. Tanpa menyimpan rasa dendam sedikit pun.
Jaehyun langsung berdiri dari duduknya. Ia mengambil tas milik Gyuri yang ada di meja, lalu menarik--menggenggam tangan Gyuri dengan erat.
"Mulai hari ini kamu tinggal sama aku aja. Kita tinggal di rumah Nenek. Kata Jiho, sekarang kalian udah punya temen sepergaulan sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Scintilla Amoris (Completed)
FantasyKim Jiho merupakan seorang aqua mediocris paling lemah dalam kasta terendah di Mediocris Villa. Yang mana ia juga mendapat hukuman dari sang Kaisar karena telah melakukan berbagai tindakan pelanggaran. Kim Jiho diasingkan ke Bumi. Ia diharuskan unt...
