10. Minghao dan Gyuri

56 15 5
                                        

"Ada yang mau kamu beli?" Jaehyun bertanya, setelah memperhatikan bahwa sedari tadi, Jiho hanya sekadar melihat-lihat saja.

Jiho menoleh melirik Jaehyun sebentar. "Aku ga punya uang," sahut Jiho. Ia kembali fokus melihat ke arah luar melalui jendela kaca mobil. Baru beberapa saat, Jiho kembali menoleh menatap Jaehyun. "Oya, aku dengar, kalau mau punya uang aku mesti kerja dulu."

Jaehyun melirik Jiho sebentar. "Kamu dengar dari siapa?"

"Te--Jae, berhenti!"

Refleks, Jaehyun menghentikan laju mobil. Ia menoleh menatap Jiho. "Ada apa, Jiho?"

Akan tetapi, alih-alih menjawab pertanyaan yang diajukan Jaehyun, Jiho malah langsung membuka pinti mobil, dan keluar dari sana.

Jaehyun terbelalak. Ia berdecak pelan, lalu ikut keluar dari sana.

"Jiho, hati-hati!" teriak Jaehyun kala melihat Jiho yang menyeberang jalan dengan sembarangan.

Secara mendadak, Jaehyun menghentikan langkahnya kala melihat Jiho yang baru saja menyapa seorang lelaki.

Entah mengapa, senyuman lebar yang terpatri di bibir Jiho, membuat tubuh Jaehyun terasa kaku. Jika diingat-ingat lagi, ini kali pertama Jaehyun melihat Jiho memamerkan senyuman yang seperti itu pada orang lain.

Sebentar, lelaki yang disapa Jiho itu ... benar-benar orang, 'kan?

Tanpa sadar, Jaehyun mempercepat langkahnya demi menghampiri Jiho.

"Jiho," panggil Jaehyun. Ia kian mendekati Jiho, lalu melemparkan senyuman kala Jiho melihatnya.

"Tunggu sebentar, ya, Jae. Sebentar aja," ucap Jiho.

Jaehyun mengangguk, lalu melirik sekilas ke arah lelaki yang berdiri di hadapan Jiho.

"Hao. Sering-sering ke sini, ya. Kalau ada kamu, aku merasa sedikit lebih baik," ujar Jiho.

Minghao, saltus mediocris yang juga merupakan temannya Jiho, merespons ucapan Jiho barusan dengan tawa.

"Padahal baru sebentar kamu meninggalkan Mediocris Villa. Tapi sifat kamu sudah berubah sebanyak ini," ujar Minghao.

Lebih dari apapun, Minghao sangat hafal dengan segala kelakuannya Jiho. Mereka sudah berteman selama ratusan tahun lamanya, jadi merupakan hal yang tidak mungkin jika ia tidak tahu bagaimana sifat Jiho yang biasanya.

Biasanya, Jiho jarang berbicara. Jiho juga jarang berbasa-basi. Seakan-akan, berbicara hanyalah kegiatan yang membuang-buang waktu.

Namun, tentunya akan ada beberapa pengecualian.

Jiho akan sangat banyak berbicara jika dirinya sedang merasa sebal serta lelah. Dan Minghao tahu, Jiho juga akan merubah secara keseluruhan kepribadiannya jika sedang mengalami suatu situasi sulit. Minghao rasa, hal yang dialami Jiho sekarang ini merupakan contoh yang tepat.

"Omong-omong, Mama bagaimana? Mama baik-baik saja, 'kan?" tanya Jiho.

Minghao tersenyum tipis. Lelaki itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku, lalu menyodorkannya pada Jiho.

"Itu dari Nyonya Shin," kata Minghao.

Tatapan Jiho berubah berbinar. Tangannya langsung bergerak membuka bungkusan dedaunan tersebut.

"Terima kasih, Minghao," ucap Jiho seraya memamerkan senyumannya. "Nanti kalau aku sudah kembali ke Mediocris Villa, aku janji ... aku pasti akan ikut minum teh denganmu."

Sudut bibir Minghao terangkat. Ia mengangguk beberapa kali lalu mengusap rambut Jiho sebentar. "Ya. Aku pegang janji kamu, Ji," ucap Minghao. Ia kemudian menoleh melihat Jaehyun yang berdiri di sebelah Jiho. Minghao amat menyadari, bahwa sedari tadi Jaehyun menatapnya dengan tatapan yang cukup dingin. Kendati demikian, hal itu sama sekali tidak menggangu pikiran juga perasaan Minghao.

Scintilla Amoris (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang