Haechan ingin berangkat sendiri hari ini, tapi karena Taeil masih ada di luar kota maka Mark dan Mike menyewa satu sopir untuk Haechan, beserta mobilnya tentu saja. Rencana Haechan hari ini dia ingin menyambangi rumah, melihat dan mengingat kembali kenangan dirumah itu setelah mengunjungi kedua orang tuanya.
"Tuan kita kemana dulu?" tanya sopir,
"Ke makam, mampir dulu ke toko bunga." jawaban Haechan cukup membuat si sopir mengerti dan membawa mobil mereka menuju ke pemakaman kedua orang tua Haechan. Tak lupa Haechan membeli satu buket bunga untuk mereka,
Begitu sampai di makam Haechan langsung menuju ke makam kedua orang tuanya yang berdampingan, duduk diantara makam mereka setelah menaruh buket bunga diatas makam Ten.
"Papa pasti tidak mau bunga." Haechan terkekeh, ia teringat saat Johnny bilang secara terang-terangan saat ia memberinya bunga, "Untuk apa? Ayah bukan hantu yang memakan bunga seperti ini. Lebih baik kau membelikan Papa bir atau wine."
"Papa, Papi. Apa kalian tahu anakmu ini sudah memiliki seorang kekasih? ah...bukan, mereka mate-ku. Dan tahu tidak apa yang lebih gila? aku punya dua, dua mate. Kejadian ini kudengar sangat jarang terjadi dan bahkan mungkin ini yang pertama kali setelah 100 tahun." Haechan mulai bercerita, kedua tangannya berada disamping tubuhnya.
"Aku juga pergi ke Swedia bersama mereka, berfoto bersama di jembatan tempat Papa dan Papi bertemu pertama kali." Haechan memulai ceritanya ketika liburan di Swedia, ia sangat senang berbagi cerita kepada orang tuanya, meskipun sekarang berbeda karena dia tidak bisa mendapatkan jawaban dari Papa dan Papi-nya.
Haechan membetahkan dirinya disana, hingga jam kuliahnya akan tiba, kelas hari ini adalah kelas siang dan Haechan harus segera berangkat sekarang.
"Aku masih belum tahu apakah Mark dan Mike adalah orang baik, tapi Papa dan Papi pasti akan mengawasi dan melindungiku dari atas sana kan?" Haechan berdiri dari duduknya,
"Titip salam untuk adik kecilku, meskipun kita belum pernah bertemu aku yakin kau pasti sangat senang karena berkumpul dengan Papa dan Papi. Aku pergi dulu, nanti aku akan kembali lagi." ucap Haechan sebelum pergi meninggalkan tempat,
Sopir dan mobilnya menunggu di depan gerbang, "Tolong cepat, aku tidak mau terlambat kelas." pinta Haechan.
Di tengah perjalanan, Haechan sedang membalas pesan dari Jaemin dan beberapa temannya yang menanyakan kehadirannya di kelas karena hari ini mereka akan presentasi, oh jangan kira Haechan melepaskan tugas kuliahnya begitu saja. Tentu saja tidak. Mereka masih punya ponsel dan laptop untuk melakukan tugas.
Haechan mengangkat kepalanya, hendak meminta tolong pada supir untuk mampir membeli sandwitch, namun matanya malah menangkap mobil lain dari samping yang melaju kencang ke arah mereka.
"Awas!"
Gelap. Haechan berusaha untuk membuka matanya, samar-samar dan buram. Tubuhnya terasa sakit dan kepalanya pusing, pendengarannya secara tiba-tiba berdenging. Ia melihat kesekitar dan menemukan kalau tubuhnya masih pada kursi dengan sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya. Haechan berusaha untuk melepaskan sabuk pengamannya, ia bisa melihat seseorang berlari menghampirinya.
"Haechan! kau bisa mendengarku?" suara itu tak begitu jelas ditelinganya, penglihatannya masih buram tetapi Haechan mengenal suara itu, Jaemin.
Pemuda itu dengan paksa memasukkan tangannya pada jendela kaca yang sudah pecah untuk membuka pintu, menarik tubuh Haechan lalu menggendongnya. Dan saat itulah kesadaran Haechan kembali direnggut.
⭑∞𝕾𝖚𝖌𝖆𝖗 𝕮𝖗𝖎𝖒𝖊∞⭑
KAMU SEDANG MEMBACA
SUGAR CRIME (END)
FanfictionJatuh cinta pada Mark dan Mike adalah salah satu hal terburuk yang pernah aku lakukan. Tapi, merekalah yang membuatku tetap hidup hingga sekarang. -Haechan ----------------------------------------------------------------------------------- Mereka se...
