Memasuki pertengahan semester pasti ada saja kesibukannya. Mulai dari praktik, membuat makalah atau hasil laporan, midtem, serta mempersiapkan diri menyambut ujian final. Dan semenjak kesibukan itu menghampiri, Jasmine dan Bima hanya bertemu di malam hari. Namun, bukan berarti pertemuan mereka membosankan—karena sudah sering bertemu. Ada saja tingkah dan ide Bima menghabiskan malam bersama. Seperti menonton bioskop, makan malam di kafe ternama, berbelanja di mal, atau pergi memakan sate taichan kegemaran pria itu. Semuanya mereka lakukan bersama. Terkadang juga Bima membawa sebungkus gorengan ke kos Jasmine. Dengan berbekal sebuah gitar, mereka menghabiskan malam bersama di bawah sinar rembulan.
Bagi Bima, Jasmine adalah purnamanya—yang bersinar terang sampai kapan pun. Bagi Jasmine, Bima adalah pelengkapnya. Gadis desa yang tidak terlalu kaya itu dimanjakan dengan baik oleh Bima, sehingga hidupnya terasa lengkap. Dikarenakan Bima, sosok Jasmine yang polos dan penurut menjadi pemanja yang super bawel.
Tanpa disadari satu semester hampir berakhir. Sejak awal ujian final dimulai, Bima selalu menemani Jasmine belajar sampai larut malam. Semuanya dilakukan dengan suka rela oleh pria tersebut. Jasmine kuliah berdekatan dengannya pertanda ia harus selalu ada dan sedia pada Jasmine. Maka dari itu, ia begitu setia di sisi gadis itu saat ini. Walaupun matanya sudah terkantuk-kantuk dan kopi sudah dihabiskan bergelas-gelas, ia masih berada di sana walaupun Jasmine sudah memintanya pulang.
“Mas. Liburan nanti kita ke puncak, yuk,” ajak Jasmine yang penasaran dengan cerita temannya tempo hari perihal puncak yang sejuk.
Bima mengangguk cepat. Apa saja yang diinginkan Jasmine pasti akan dituruti. Apalagi cuma sampai puncak. Ke Aceh pun ia sanggup jika gadis itu memintanya.
“Emangnya kamu nggak pulang ke Banten, Yang?” tanya Bima yang ingat tempo hari juga Jasmine mengatakan rindu uminya.
Jasmine mengangguk. “Liburanku ‘kan satu bulan, Mas. Habisin di sini bareng kamu seminggu dulu, nanti baru deh pulang ke Banten,” jelas Jasmine yang menutup buku catatannya. “Aku sudah siap, Mas. Kamu pulang, gih. Besok aku masuk jam sembilan, ya,” sambung Jasmine yang membereskan bukunya.
Bima bangkit dari duduknya. Ia mengambil kunci motor matic milik adiknya dan juga ponsel yang dimasukkan ke saku. Ia membantu Jasmine merapikan bukunya dan meletakkannya di sisi lengan dan siku gadis itu. Ia mendekat pada Jasmine menutup jarak di antara mereka. Hal itu sudah biasa dilakukan demi memuja gadis tersebut.
“Aku pulang dulu. Kamu nggak usah tunggu aku sampai di rumah. Langsung tidur saja. Selamat malam, Cintaku,” ucap Bima dengan senyum mengembang di balik wajahnya yang sudah lelah. Ia meraih kepala Jasmine untuk mendekat padanya. Diciumnya puncak kepala gadis itu dengan penuh rasa sayang. Dan Jasmine selalu menikmati momen-momen seperti ini.
“Gih, masuk!” seru Bima yang memberi perintah. Jasmine langsung masuk dengan melambaikan tangannya. Begitu gadis itu hilang ditelan pintu yang tertutup, pemuda itu pun ikut meninggalkan taman depan kosan tersebut. Ia mengendarai motor menuju rumahnya.
Seperti itulah setiap malam sepanjang minggu ini. Ada dua hari lagi. Setelahnya mereka akan menikmati liburan di sejuknya pegunungan.
***
Setelah berdebat dengan hati dan pikirannya, Khansa akhirnya meminta Bima untuk bercerita lagi. Kali ini, ia merekamnya dengan ponsel karena malas menulis jika sedang makan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Jatuh Terlalu Dalam
RomanceKenakalan anak-anak bermain di dermaga membuat Khansa menemukan buku bersampul kulit sintetis berwarna biru laut. Ia jatuh cinta pada kisah di dalam sana. Membuat ia yakin bahwa Tuhan membawanya ke arah impiannya. Membantu Khansa ternyata menjadi pe...