Doyoung membawa Dayeon berjalan jalan mengelilingi kota tua itu, "Doyoung, ada apa katanya ada yang penting?" tanya Dayeon.
"Ada yang ingin aku tunjukkan ke kamu dari dulu," lirih Doyoung.
"Apa?" tanya Dayeon.
Doyoung tersenyum membuat sebuah kotak muncul dari sihir di tangannya, walaupun Dayeon sudah berulang kali melihat ini, namun Dayeon tetap saja masih merasa terkejut saat Doyoung memperlihatkan sihir kepadanya.
Doyoung membuka kotak itu meletakkan serbuk berwarna ungu di telapak tangannya dan melumurinya ke dahi Dayeon, Dayeon sedikit bingung dengan apa yang dilakukan Doyoung, namun saat ia melihat kenangan acak itu, ia tidak bisa berkata apapun.
"Wanita itu mate kamu..."
Berhenti pada satu kalimat itu, semua ingatan yang diberikan oleh Doyoung menghilang, namun Dayeon mengingat beberapa dari ingatan Doyoung itu.
"Maksudnya?" lirih Dayeon sedikit bingung dengan ingatan Doyoung tadi.
Doyoung tersenyum, "sebenarnya aku minta kamu buat jadi pacar palsu itu, cuma pengalihan topik biar aku bisa selalu bareng sama kamu," lirih Doyoung.
Kini Doyoung yang ada di depan Dayeon, bukanlah Doyoung yang ia kenal di sekolah, Doyoung benar benar serius dengan kata katanya kini, "tapi, kenapa harus aku?" tanya Dayeon.
Doyoung menggeleng kecil, "aku nggak tau, setelah aku pikir aku juga nggak sesempurna itu buat jadi mate kamu, penyihir seperti aku, memiliki garis mate yang tidak bisa kami rubah dengan keinginan kami sendiri, tapi jika mate kami adalah seorang manusia biasa dan mau merubahnya, maka itu akan berubah."
"Walaupun kamu bakalan musnah kedepannya?" tanya Dayeon mengingat perkataan neneknya dulu.
Doyoung terkejut dengan perkataan Dayeon, namun ia tetap tersenyum di depan Dayeon, "itu ga masalah buat aku, asalkan kamu-"
"Egois banget, kalau sakit itu ngomong sakit!" seru Dayeon memukul pelan dada kiri Doyoung, "aku ga suka kalau berhadapan sama orang yang ga jujur sama aku."
"Tapi apa kamu bakalan nerima aku sebelum kamu tau aku yang sebenarnya waktu dulu?" tanya Doyoung membuat Dayeon terdiam.
"Terus, kamu maunya gimana?" tanya Dayeon.
"Aku percayakan semuanya ke kamu, kalau kamu mau merubah garis mate, aku bisa membantumu," Doyoung masih mempertahankan senyum itu di pipinya.
"Bodoh, memangnya kamu pernah berfikir atau tidak kalau aku disini mengikuti perkataanmu itu atas dasar apa?"
"Janji?" tanya Doyoung.
"Bodoh... AKU SUKA KAMU DOYOUNG!"
Perkataan Dayeon membuat Doyoung disana terdiam tanpa kata senyum tadi pudar entah kemana, "maksud kamu?"
"Kamu ini bodoh atau pura pura tidak tau, dari dulu aku suka sama kamu, aku mau kamu tetap menjadi mate-ku," kata Dayeon membuat Doyoung terkejut bukan main, senyumnya kini kembali merekah, dan Dayeon menunjukkan sesuatu untuk Doyoung.
"Kamu tau? Ayah dan ibuku sibuk bekerja sedari aku kecil, sampai aku dititipkan ke rumah nenek ayah yang rahasianya adalah ayah anak angkat nenek. Nenek memberitahuku dulu, Beliau berpesan untuk selalu menjaga liontin ungunya, karena dimasa depan aku akan bertemu dengan lelaki berdarah sama dengan beliau, penyihir."
Doyoung terkejut dengan perkataan Dayeon, "nama nenek kamu siapa kalau boleh tau?" tanya Doyoung.
"Gladys Virginia, nenek memang berasal dari Eropa, dan menetap disini," lirih Dayeon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hate This Before You
FanfictionBagaimana pendapatmu tentang makhluk mitologi? Seperti vampire, pastinya kamu beranggapan, "itu tidak nyata," bayangkan jika suatu hari makhluk mitologi itu benar benar ada, dan kamu adalah mate mereka. _______________________ 𝓢𝓽𝓪𝓻𝓽 : 22 𝓝𝓸�...
