Holaaa kawaandd👋👋
apa kabarr?
harus baik ya!
Semangatt dari Naiz
Semangat berjuang melawan rasa sakit, apapun sakit yang diderita entah badan maupun mental semoga lekas sembuh dan kembali baik-baik saja. Tunggu ya cahaya kebahagiaan akan segera menghampiri kalian sebentar lagi🤗🤗
Naiz bawa part selanjutnya nih semoga kalian suka yaa hehe.
-♥Happy Reading Riiz♥-
*...*
Kepala Luna terasa sangat sakit, bahkan untuk bangun saja tubuhnya tak mampu. Gadis itu memegang keningnya yang menghangat, matanya mengerjap menyamarkan cahaya matahari yang memasuki lentera matanya.
"Argghh kenapa sakit itu nggk enak," gumam Luna menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Eh anak mama sudah bangun." Rosa datang dengan senampan soup hangat dan juga susu, tak lupa beberapa tablet penurun panas dan vitamin ketahanan tubuh.
"Mamah, sekarang jam berapa?" tanya Luna mengusap hidungnya menggunakan jari telunjuknya.
"Jam 6 lebih, kenapa?"
"Luna sekolah ya, takut ketinggalan pelajaran nanti," pintanya membuat Rosa menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Mamah nggk izinin. Kamu itu lagi sakit Na. Sudah sama seperti papah kamu aja hobi banget belajar, nggk mau kalau sampai ketinggalan satu pelajaran pun." Wanita paruh baya itu membuka satu persatu tablet obat lalu menaruhnya di atas nampan.
"Papah selalu ingin belajar, belajar dan belajar tak peduli usia sudah tua sekalipun, tingkah kamu mengingatkan mamah kepada mendiang papah kamu." Mata Rosa menyorot luka yang terpendam, menerawang masa lalu yang telah hilang. Bayangan sosok Guntur hadir menemuinya meskipun dalam sebuah ketidaknyataan.
"Mah." Gadis itu menggenggam tangan yang hampir kusut milik mamahnya, mencoba menyalurkan energi kepada sang malaikatnya. Kini perasaan bersalah Luna muncul, seharusnya ia tidak membahas mengenai pelajaran dan ketekunan.
"Papah mungkin udah nggak ada, tapi perjalanan hidupnya akan selalu ada meski hanya dalam benak kita Mah." Luna tersenyum lalu memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Rosa membalas pelukannya kemudian menyudahinya dan segera meminta putrinya untuk menghabiskan makananya.
Meskipun sudah berumur 40 lebih Rosa masih terlihat muda, kakinya berjalan pelan menuju gorden lalu menyibaknya agar sinar mentari memasuki ruangan bernuansa putih milik Luna.
Beberapa bingkai foto tersusun rapi di setiap dinding kamar Luna, terlihat kebahagiaan pada salah satu foto keluarga ketika masih lengkap.
Akibat kecelakaan naas sang papah telah merenggut jantung dari keluarganya. Dunianya hancur berantakan seperti serpihan kaca yang terkena sapuan angin, meski tidak tahu arah tetapi harus tetap menerima kemana takdir akan membawanya.
Luna tersenyum lalu mulai melahap makananya, Tak banyak ia hanya memakan beberapa sendok lalu meneguk setengah susunya. Setelah itu menelan beberapa tablet yang di berikan oleh mamahnya.
"Luna sekolah ya mah?" pinta gadis itu sekali lagi.
"Istirahat!" Bukan Rosa melainkan Langit, cowok bertubuh tegap itu tengah berdiri di ambang pintu dengan seragam yang lengkap dan rapi tidak lupa wajah garangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGITNYA LUNA
RomantikHOLAA SELAMAT DATANG!! Maiza Aluna, gadis ceria yang selalu mencoba membendung rasa cintanya kepada Langit Angkasa akibat perasaan ragu. Masa lalunya yang hadir menjadi salah satu penyebab keraguannya hingga menjadi ketakutan terbesar gadis itu. Si...
