[SUDAH TERBIT]
Hyunsuk yang dijual oleh adiknya kepada seorang ketua mafia kejam.
Awalnya Jihoon membeli hyunsuk hanya untuk memuaskan hasrat membunuh pada dirinya saja, namun semua itu sirna saat melihat tatapan memohon dari pria manis itu.
"Kenapa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tuan Park melemparkan selembar kertas putih diatas meja, sedangkan Jihoon, Jaehyuk, Haruto, dan Junkyu hanya diam menunggu pria tua itu berbicara.
Mereka saat ini ada di kantor Jihoon.
Entahlah, Jihoon juga tidak tau tujuan papanya meminta bertemu dengannya dan teman-temannya.
"Itu surat tanah yang kamu mau," Ucap papanya.
Jihoon tersenyum lebar, lalu mengambil kertas itu untuk dibuka.
"Seperti yang kamu mau, papa sudah membelikan mansion yang luas untuk kamu dan taman-taman kamu tinggalin"
Jihoon tersenyum puas melihat hasil yang ada di kertas tersebut. dia mendongak menatap papanya.
"Terimakasih pa"
Papanya mengangguk, "bukan seberapa, Lagi istri kamu ada-ada aja ngidamnya."
Ya, Jihoon dan Hyunsuk sudah menikah 1 bulan yang lalu. dan kemarin, Hyunsuk tiba-tiba ngidam ingin tinggal berkumpul bersama sahabatnya satu atap.
Agak lain emang.
Jihoon yang memang sudah bucin angkut, mana bisa menolak?
Tuan Park mengecek jam tangannya, lalu membenarkan jasnya. "Papa harus pergi sekarang"
"Sekarang banget?"
Tuan Park mengangkat bahunya acuh, "Papa harus mengirim Johnny dan Ten kerumah sakit jiwa"
Setelah mengatakan itu, tuan Park pergi dari ruangan Jihoon.
Sedangkan Jihoon mengangguk mengerti, dan membiarkan papanya pergi.
Ngomong-ngomong tentang orang tua angkat Hyunsuk, mereka tidak jadi dibunuh. tuan Park lebih memilih mengirim mereka kerumah sakit jiwa, agar psikisnya diobati.
Tuan Park tahu, kalau mereka berdua sebenarnya baik, hanya saja karena terlalu obsesi menciptakan robot hingga membuat mereka gila.
Jihoon menatap ketiga temannya dengan tatapan datar, "Apa kalian sudah membicarakan hal ini kepada pasangan kalian?"
Ketiganya spontan menggeleng, dan Jihoon terkekeh kecil.
"Sudah aku duga, besok bicarakan ini kepada mereka"
Dan mereka bertiga langsung mengangguk kecil.
Haruto membuka pintu ruang kerja Jeongwoo pelan, dia tersenyum melihat Jeongwoo fokus dengan komputernya.
Haruto mendekat, lalu tanpa aba-aba memeluk tubuh Jeongwoo erat.