16

17.9K 1K 41
                                        

Ada yang kangen engga????

Ya udah kalau engga ada 😞















Kelana menemukan pria terbaring di sofa apartemennya. Kelana menghembuskan napas menyaksikan satu kaki panjang pria itu menyentuh lantai, sedangkan kaki lainnya di atas lengan sofa.

Sejak tadi Kelana sudah mengingatkan pria itu untuk kembali ke hotelnya, tapi Leon beralasan ingin istirahat sejenak. Pria itu sepertinya kelelahan setelah pemotretan dan menemaninya mengunjungi kos Himalaya. Alhasil pria itu malah ketiduran. Kelana mengguncang pelan bahu Leon,

“Yon, bangun. Katanya mau balik,”

“Hmm,” pria itu hanya bergumam lalu menutup matanya dengan lengannya untuk menghalau silau lampu.

Televisi ruang tamu Kelana masih menyala menampilkan Discovery Channel, Kelana duduk di karpet memandang wajah damai Leon. Wanita itu tersentak saat lantunan musik mengalun dari ponsel yang terletak di meja.

Leon mengerang dalam tidurnya, pria itu mencoba membuka matanya untuk mencari ponselnya yang berdering. Saat matanya berhasil terbuka, pemandangan Kelana yang sedang duduk di karpet menghadap dirinya membuat senyum terbit di wajah pria itu.

Leon mencuri satu kecupan di puncak kepala Kelana sebelum meraih ponselnya di meja.

“Halo,” dengan santai Leon menarik tubuh Kelana agar ikut duduk di sofa.

Wanita itu masih membeku akibat kecupan Leon di puncak kepalanya. Setelah sadar, Kelana memelototi pria itu. Wanita itu berdiri, memilih untuk menjauh dari Leon. Namun pria itu malah menarik tangannya, sehingga tubuhnya oleng dan mendarat di sofa.

Kelana memekik, terkejut dengan gerakan tiba tiba Leon. Pria itu malah merangkul tubuh Kelana, membawanya lebih dekat dengan tubuhnya. Tangan kirinya masih memegang ponsel dan menempelkannya di telinga kirinya.

“Iya iyaa, lusa gue balik Jakarta. Emang minggu depan ya mulai syutingnya?” Kelana mencoba melepaskan diri, tapi lengan Leon kini sudah melingkari lehernya bahkan hampir mencekiknya.

Tidak kehabisan akal, Kelana menyikut rusuk pria itu.

“Aww…” Leon meringis, tapi tetap tidak melepaskan belitannya. “Pokoknya atur aja deh. Tapi habis syuting film gue mau libur panjang.”

Leon langsung melempar ponselnya ke meja, beruntung ponsel itu tidak retak ataupun jatuh ke lantai.

“Lo mau main film?” tanya Kelana penasaran.

“Hmm, maybe gue bakal sibuk kedepannya. Makannya besok temenin jalan jalan yaa, gue engga tau kapan kita bisa ketemu lagi.”

Kali ini Leon memeluk tubuh Kelana dengan kedua tangannya, wanita itu pun akhirnya pasrah merebahkan kepalanya di dada Leon.

“Emang lo mau jalan kemana?”

“Kemana aja gue engga masalah.” jawab Leon, tangan kanannya kini asik memainkan surai rambut Kelana. Napas wanita itu tercekat saat merasakan Leon menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

“Ya udah kalo gitu engga usah ke mana mana, mending rebahan.”

Kelana memberanikan diri untuk mendongak untuk menatap mata Leon. Namun pria itu malah menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Ohh kalo lo maunya rebahan bareng di kasur sih gue malah seneng. Tapi gue engga bisa jamin ntar cuma rebahan atau malah main tindih tindihan.” Leon menyeringai.

“Otak lo itu harus di cuci bersih deh kayaknya!”

“Makannya mending kita keluar jalan jalan. Dari pada di apartemen aja, malah bahaya. Kita ke Borobudur aja deh,”

KELANA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang