Kelana mendapatkan kabar adanya bencana gempa bumi di wilayah Jawa Barat. Wanita itu sejak remaja aktif menjadi relawan, oleh karena itu segera ia menuju ke daerah itu bersama dengan rekan relawan lainnya.
Sesampainya di pengungsian Kelana membantu dapur umum bersama dengan Langit. Pria itu juga tertarik untuk ikut, dan memilih cuti dari toko roti milik Gea.
"Capek?" tanya Langit setelah mereka selesai memasak untuk makan malam.
"Lumayan pegel, tapi seneng. Hebat ya mereka, meskipun lagi kena bencana tapi masih pada bisa tersenyum." Kelana memandang ibu ibu yang sedang berkumpul dan berbincang-bincang.
"Mungkin kayak gini cara mereka menghibur diri. Tapi mata mereka engga bisa bohong, contohnya Bu Ismi. Meskipun dia berusaha kumpul dan tersenyum, kadang tatapannya sering kosong mikirin usahanya yang bener-bener ancur karena bencana ini."
Mereka berdua duduk berdua di kegelapan, agak jauh dari dapur umum. Kelana belum sempat mandi sore begitu pula dengan Leon. Rambut wanita itu dicepol, tshirt putih yang dikenakannya tadi terkena saos yang meninggalkan noda oranye kemerahan.
Tiba tiba ponsel Kelana berbunyi,
"Mampus." umpat Kelana ketika melihat nama mamanya terpampang di layar ponselnya.
"Kenapa?" tanya Langit yang melihat wajah panik temannya.
"Nyokap, gue belum bilang kalo jadi relawan dan ikut nyalurin bantuan."
"Sarap yaa, bisa-bisanya engga izin dulu."
"Engga sempet, waktu kita berangkat ortu gue lagi di luar kota juga."
Langit mencibir, "kan bisa izin lewat telpon atau chat. Percuma punya HP harga puluhan juta tapi engga tau cara gunainnya."
Kelana memutar bola matanya, memang akhir-akhir ini otak wanita itu sedang tidak beres.
"Halo Mam." dahi Kelana menyerngit ketika mendengar isakan dari seberang sambungan.
"Maa, ada apa? Kenapa nangis?"
"Papa, nak...papa."
"Papa kenapa Ma?" tanya Kelana yang mulai panik, apalagi mendengar Elizabeth yang menangis dan terbata-bata.
Jantung Kelana berdebar dengan kencang, apalagi mendengar mamanya yang menangis meraung, Kelana mendengar kegaduhan dari seberang sambungan telepon. Wanita itu memanggil-manggil mamanya tapi tidak mendapat sahutan.
"Dek? Ini Mbak, kamu di mana? Cepet pulang yaa." suara serak kakak iparnya terdengar, tapi raungan mamanya masih belum berhenti.
"Mbak papa kenapa? Mama kenapa nangis kayak gitu?"
"Pokoknya kamu cepetan pulang aja yaa, hati-hati."
Firasat Kelana tidak enak, entah kenapa saat ini matanya sudah berkaca-kaca.
"Mbak, kasih tau aja. Gue engga tenang kalo lo kayak gini!" suara Kelana bergetar.
"Papa udah engga ada Dek."
Rere sebenarnya berat memberi tahu mengenai kematian mertuanya itu pada Kelana. Karena semua orang tahu betapa dekatnya hubungan mereka, Kelana adalah Darius versi perempuan. Sedari kecil selalu bersemangat mendaki bukit atau pun berkemah berdua saja dengan Darius, karena Janu dan si bungsu yang tidak suka aktivitas outdoor.
Dariuslah yang memotovasi Kelana agar belajar bela diri, untuk berjaga-jaga karena hobinya berkegiatan outdoor dan solo travelling. Darius pula yang mengajarkan Kelana mendirikan tenda dan mengajarkan bermacam tali temali. Untuk Kelana Darius lah superhero dalam hidupnya.
Langit langsung mendekap Kelana yang saat ini jatuh terduduk, layar ponselnya masih menyala dan sambungan telepon masih belum terputus. Tatapan wanita itu kosong, air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan.
o0o
Setelah sampai di Yogyakarta, Kelana hanya diam. Wanita itu sama sekali tidak berbicara. Ia hanya menjawab gelengan atau anggukan ketika diajak berbicara. Sepanjang perjalanan menuju Yogyakarta, wanita itu terus menangis. Namun sesampainya di rumah, Kelana menahan tangisnya. Apalagi melihat betapa berantakannya Elizabeth, yang Kelana lakukan hanya terus memeluk dan merangkul mamanya.
Ola, adik bungsunya pun tidak berhenti menangis. Namun wanita itu sudah aman di dekapan suaminya yang sejak kemarin menguatkannya. Janu, wajahnya tegang matanya memerah. Namun sepertinya pria itu juga merasa sangat sedih, pria itu yang menerima tamu dan ucapan belasungkawa dari rekan bisnis Darius.
Setelah pemakaman, Elizabeth langsung menuju kamarnya. Kepergian suaminya yang tiba-tiba membuat wanita itu syok. Darius terkena serangan jantung, ketika di rumah sendirian. Kebetulan Keluarga kecil Janu sedang berada di rumahnya sendiri, Kelana menjadi relawan di luar kota, Ola memang tinggal di Jakarta bersama suaminya, sedangkan Elizabeth sedang menjenguk tetangga yang sedang masuk ke rumah sakit.
Elizabeth syok ketika menemukan suaminya terbaring di samping tangga dan sudah tidak bernapas lagi. Ia sealu menyalahkan dirinya sendiri, kenapa ia harus pergi saat itu. Jika ia tidak pergi, mungkin Darius masih bisa bertahan.
o0o
Sore itu Kelana duduk di gazebo samping rumahnya yang agak sepi. Ia menghindari saudara-saudaranya yang saat ini dengan berkumpul di rumahnya. Di tangannya sudah ada kaleng beer yang tinggal setengah, sebenarnya wanita itu ingin sekali nyebat. Namun ia tidak memiliki rokok, dan terlalu malas untuk membeli.
Bisa saja ia meminta barang sebatang kepada Janu, tapi Kelana yakin pria itu langsung mencoretnya dari daftar adiknya. Ditambah dengan omelan panjangnya. Tentu ia tidak mau memperkeruh suasana.
"Uhuk."
"Maaf" Gala merasa bersalah karena membuat Kelana tersedak beer
"Santai aja Mas," ucap Kelana meskipun hidungnya terasa perih.
Gala yang baru saja tiba di rumah duka langsungg menghampiri Kelana yang duduk sendirian di gazebo samping rumah. Gala tau betapa dekatnya wanita itu dengan papanya sejak kecil. Bahkan Kelana selalu merengek ikut ayahnya bekerja, sehingga seringkali Darius membawa putrinya itu ke pertemuan-pertemuannya.
"Are you ok?"
Kelana terkekeh, "yah kayak gini. Mama yang lebih terpukul karena tiba-tiba ditinggal suaminya."
Kelana tidak akan mau mengatakan apa yang dia rasakan, biarkan hanya dia dan Tuhan yang tahu bagaimana hancurnya dia saat ini.
"Om Darius bangga punya putri kamu. Kamu tau apa yang diceritakan beliau?" Gala tersenyum mengingat bagaimana Darius bercerita mengenai putri keduanya itu, "Kelana si pemberani, mengingat gimana kamu solo travelling, naik gunung sendirian, mampu menahlukkan Everest. Kelana itu cuek, tapi sebenarnya peduli. Kelana itu engga mudah menyerah. Dan yang paling Om Darius banggakan, Kelana itu adalah Om versi cewek."
"Kamu boleh berduka, sedih, terpukul saat ini. Tapi jangan sampai kamu menyerah. Aku juga berharap Kelana itu benar-benar seperti yang Om ceritakan."
Kelana menunduk bahunya bergetar, matanya sudah memerah menahan tangis, sepertinya papanya salah. Mungkin Kelana, tidak sepemberani itu, mungkin Kelana tidak sekuat itu. Nyatanya saat ini dirinya benar-benar tidak baik-baik saja.
Melihat bahu wanita di sampinya bergetar, Gala merangkul bahu bergetar itu. Tangannya mengelus lengan atas Kelana.
Hal yang Kelana sesalkan adalah dirinya berusaha untuk menolong orang lain, menjadi relawan. Namun dirinya tidak bisa menolong papanya sendiri. Seandainya Kelana tidak pergi, seandainya saat itu Kelana di rumah. Mungkin saat ini Darius masih bersamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KELANA (END)
Storie d'amore21 +++ 🔞 Kelana tidak peduli, ini hidupnya. Ia tidak pernah minta makan ke mereka, apa yang ia lakukan juga tidak merugikan mereka. Mereka seperti netizen maha benar yang merasa berhak mengakimi dan menghujat sesukanya. ~YUK FOLLOW DULU SEBELUM BAC...
