───────────────────
#17 ; Belas Kasih dari Cahaya Petir, start.
───────────────────Heika melirik Kazuha yang melangkahkan kakinya ke makam Tomo. Keduanya tanpa berjanji datang bersamaan mengunjungi sahabat lama mereka yang telah berpulang ke Yang Mahakuasa.
Sejujurnya Heika masih dendam pada Kazuha yang meninggalkannya tanpa petunjuk apa-apa tentang Tomo, mana orangnya langsung pergi jauh dari Inazuma coba.
"Kamu di sini, Heika."
Heika dapat melihat dengan jelas apa yang sudah Kazuha lakukan. Dari gerak-geriknya dan sisa elemental yang ada di pakaian Kazuha, keturunan Kaedehara yang satu ini baru saja menangkap buronan yang tidak bisa Heika tangkap karena terlalu gesit berlari.
"Kazuha, akhirnya menemukan adikmu?"
"Begitulah, cukup sulit membujuknya."
Heika melihat lebam-lebam di pipi Kazuha, ia berbalik menghadap makam Tomo, "Itu tidak terlihat seperti negoisasi."
Sejujurnya Heika ingin turut memukul Kazuha namun karena sudah terwakili ya sudah. Kazuha ikut berdiri di samping Heika, memandang makam Tomo bersama-sama. Impian teman mereka sudah terkabulkan, seseorang yang berani menghadapi kilatan petir adalah Kazuha sendiri.
Kazuha menyimpan cangkang vision kosong milik Tomo di atas makamnya, keduanya memanjatkan doa untuk arwah teman mereka di keabadian sana.
❖
Walau semuanya telah membaik, tugas [Name] justru lebih membludak dari pada Raiden Shogun dan Tri-Commission itu sendiri.
"Kamu pergi?" Ei menyapanya yang akan meninggalkan Tenshukaku. Hari ini adalah hari eksekusi semua pengkhianat yang menyebabkan Inazuma dalam krisis besar. Izinnya untuk mengeksekusi telah disetujui oleh Ei sehari setelah Dekrit Perburuan Vision dicabut. Padahal permohonan tersebut sudah lama diserahkan [Name] dari jauh-jauh hari.
[Name] hanya tersenyum tipis. Ketika Ei melihat [Name] yang terjun langsung ke lapangan, ia kembali diingatkan akan masa lalu di mana ia yang turun tangan untuk Makoto. Kini keadaan telah berubah, [Name] yang merupakan ciptaan Makoto menggantikan posisinya, bukan sebagai bayangan, namun sebagai tangan kanan paling terpercayanya.
"Saya akan segera kembali. Yang Mulia bisa beristirahat selama saya menjalankan tugas."
"Aku mengerti, jaga dirimu baik-baik."
Kalimat yang cukup aneh didengar bagi sepasang pemimpin bukan manusia itu. Memangnya siapa yang mau melawan [Name]?
Ei menghembuskan napas panjang ketika gadis itu meninggalkannya. Ia bergumam, "Kamu masih terlalu lembut dibandingkan Shogun dan aku."
[Name] melangkahkan kakinya ke luar Tenshukaku, karena ada [Name], rumor Raiden Shogun yang tidak baik-baik saja dapat dihalau langsung oleh keaktifan sang Panglima.
[Name] memandang Tenshukaku dari luar, seorang pasukan yang menemaninya hanya melihatnya tanpa berani menyela. Bagi mereka, kedudukan [Name] hampir serupa dengan sang Shogun itu sendiri. Mungkin hanya sedikit di bawahnya.
"Ayo pergi."
"Baik, Nona!"
Tujuannya adalah penjara di Tenryou Commission. Kujou Sara melaporkan seluruh pengkhianat sudah mendekam di jeruji besi, tinggal menunggu titah yang menjadi hukuman mereka.
Kujou Sara merasa tidak enak, tak perlu diragukan lagi mereka yang mendekam di penjara akan mendekati ajal mereka tidak lama lagi. Ia sudah bekerja lama untuk Inazuma dan telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keputusan cepat dan tegas yang dilakukan [Name]. Meski memang keputusannya adalah yang terbaik untuk Inazuma.
"Nona, semuanya sudah siap," ujar Kujou Sara pada [Name], mendengar suara langkah kaki sang Panglima, para tahanan yang ditutup matanya sudah merinding tak karuan.
[Name] memang selalu meminta para tahanan yang dihukum mati ditutup pandangannya, dan gadis itu selalu memenggal dengan sekejap mata tanpa keluarnya sepatah teriakan dari tahanan. Bisa dibilang, ini adalah belas kasih [Name] agar tahanan itu dapat meninggal dalam keadaan terhormat.
Berbeda bukan dengan musuh di luaran sana yang menjerit-jerit terkena pedang [Name]?
"Buka penutup mata mereka."
Kujou Sara terkejut, begitu pula para prajurit yang menjadi saksi. Shikanoin Heika dan Shikanoin Heizou saling berpandangan, mereka kira akan melihat adegan berdarah yang lebih serius lagi. Apakah kejahatan mereka sudah di luar batas? Sampai-sampai [Name] tidak mau menutup mata mereka untuk dipenggal.
"Hukuman mati dibatalkan. Anggap saja dewa masih memberikan welas asih pada kalian."
Wah, tidak jadi adegan berdarah. Diam-diam semua orang di sana menghela napas lega.
"Menyinari Inazuma selamanya, terpujilah sang Cahaya Inazuma, Nona [Name]!"
Jika Scaramouche yang ada di depannya, maka pemuda itu akan menyemprotnya dengan kata-kata, "HAHA, kamu berubah. Kamu menjadi lemah, [Name]."
Untungnya saja, yang ada di depannya adalah Kamisato Ayato, yang tentunya tidak akan pernah mengucapkan kata-kata seperti itu.
Inazuma belum pulih dari krisis terakhir, memenggal kepala pengkhianat bukan keputusan yang tepat untuk saat ini. Tenryou Commission juga sedang tidak stabil, tujuan [Name] adalah menyejahterakan Inazuma, bukan menyejahterakan diri sendiri. Ia memikirkan segala akibat yang timbul dari apa yang ia lakukan.
"Nona [Name], ada yang bisa saya bantu...?"
Di hari yang tenang tiada angin tiada hujan tiba-tiba saja Yashiro Commission dikejutkan dengan kedatangan Cahaya Inazuma yang melangkahkan kaki masuk begitu saja. Kamisato Ayato yang memiliki janji perlu membatalkan pertemuan tersebut untuk menyambut kedatangan tak biasa ini.
"Aku pikir kamu punya jadwal yang cukup sibuk." [Name] menyeruput teh yang disiapkan untuknya, Ayato tersenyum bisnis, bagaimana ia melanjutkan janjinya jika orang di depannya adalah orang nomor dua terpenting di Inazuma?
"Saya punya cukup waktu untuk menemani Anda, Nona." Buset buaya bener, [Name] menyeringai kecil sembari melirik ke satu arah.
"Aku ingin mengembalikan Izumi."
"Maksud Anda?" Gak mungkin bakal dinikahin lagi sama adiknya, 'kan? Wah apa jangan-jangan [Name] nyuruh Izumi dinikahin sama Ayato langsung lagi?
Melihat keresahan Ayato, [Name] mendengus. "Ke Kuil Agung Narukami. Kamu tidak perlu menikahinya."
Ayato menghela napas.
"Izumi tidak cocok berada di Tenshukaku. Aku mau Yashiro Commission dan Kuil Agung Narukami bernegosiasi membuat acara yang cocok untuk menunjukkan posisi baru Izumi nantinya."
───────────────────
#17 ; Belas Kasih dari Cahaya Petir, —deleted scene
───────────────────Sejujurnya Heika ingin turut memukul Kazuha namun karena sudah terwakili ya sudah. Kazuha ikut berdiri di samping Heika, memandang makam Tomo bersama-sama. Impian teman mereka sudah terkabulkan, seseorang yang berani menghadapi kilatan petir adalah Kazuha sendiri.
Kazuha menyimpan cangkang vision kosong milik Tomo di atas makamnya, keduanya memanjatkan doa untuk arwah teman mereka di keabadian sana.
"Sejak kapan kamu dapat anemo vision?"
Heika jadi ingat, dia dapat vision waktu ditinggal TomoKazu sendirian di Inazuma. Wah, dendamnya dari sana belum terbalas, mumpung orangnya ada di sini...
"Pas kau ghostingin, anj*ngg!!"
Heika baku hantam sepihak dengan Kazuha yang kebingungan kena pukul. Apa salah dia?
───────────────────
#17 ; Belas Kasih dari Cahaya Petir, end.
───────────────────aku mimpi jd istrinya wanderer nih, ap yg harus aku lakukan😏
bkin book baru?.gk

KAMU SEDANG MEMBACA
Lightning's Glow || Genshin Impact ft.Reader ✓
FanfictionLahir dari sisa kekuatan Raiden Makoto dan bantuan kecil dari Dewa Waktu, Istaroth, [Name] ditemukan saat bayi oleh Yae Guuji yang membawanya kepada Raiden Ei. Tumbuh dan berkembang di dalam Plane of Euthymia membuat [Name] memiliki rasa penasaran...