34!

422 25 9
                                        

Dan sekarang waktunya, Juna telah mengumpulkan anak laki lakinya beserta keponakan ke dalam ruangan khusus kerja Juna. Mendengar kabar ini cukup membuat Juna terkejut tapi masih bisa bersikap tenang walaupun dalam hatinya Juna sudah harap harap cemas memikirkan kemungkinan hal itu terjadi. Walaupun hal seperti ini tidak mudah dilakukan dengan tergesa gesa pastikan akan dipikirkan dan dipersiapkam sebaik mungkin oleh Juna.

Kini anak anaknya tengah duduk di sofa ruangan dengan Juna yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kursi tempat kerjanya. Sebenarnya Juna sama sekali tidak membutuhkan bantuan mereka, Juna bertemu hanya ingin mendengar pendapat anak anaknya tanpa harus menerima bantuan dari mereka karna apa? Juna sendiripun bisa melakukannya. Hanya mencari biodata lengkap beserta riwayat hidup dari seseorang akan sangat mudah bagi Juna. Tapi Juna ingin melihat kegigihan para anak anak nya untuk menjaga Aca adik bungsu mereka.

"Masih lama?" dingin Juna sedari tadi belum ada perwakilan dari mereka untuk segera berbicara dengan Juna. Sedangkan Juna masih terus menunggu pernyataan dari anak anaknya.

"Sabar pa," balas Alkana.

"Lah kayak kamu aja yang paling sibuk."

"Emang aku yang paling sibuk, mereka juga pesuru--

Pletakk..

Dengan tanpa perasaan Bima menjitak dengan keras kepala Alkana, karna Bima pasti tau arah bicara dari Alkana ini.

"Apaan sii bang? Sakit ini kepala gua, kalo kepala gua sakit nanti gak bisa lanjutin ini gimana?"

"Bodo,"

"Oh gitu yaudah gak usah gua lanjutin aja."

"Berarti lo gak sayang Aca, itu aja sii kesimpulannya."

"Apaan kek gitu?!"

"Jangan teriak!" sentak Juna.

"Maaf,"

"Bawa sini apa aja yang kalian dapatkan, perwakilan ngomong sama saya." tegas Juna.

"Yang pasti bang Bima tuh," tunjuk Aldo.

"Iyaa dong, sini laptop lo." ucap Bima.

"Pa, Alka yang bantu banyak di sini kenapa malah abang Bima yang jelasin?" protes Alkana.

"Dua duanya kesini, dan satu persatu ngomong, paham Alka?!" balas Juna.

"Iyaa paham pa."

Alkana dan Bima duduk bersampingan yang langsung berhadapan dengan Juna yang hanya berbatasan meja saja.

"Mulai Bima!" titah Juna.

"Kemarin sore Sultan itu ke rumah, nanyain papa. Karna Bima udah kesal bisanya di masuk kawasan rumah kita dan yang jelas Bima tolak. Dia gak maksa, tapi langsung nyampaiin keinginan untuk lebih dekat sama Aca dalam ikatan yang sah, bukan sekedar pacaran. Dan itu dia akan persiapkan dari sekarang untuk sekitar 3 4 tahun depan. Makanya dia mau ketemu papa untuk meminta restu atau apalah," jelas Bima.

"Berani banget dia!" dingin Juna.

"Bima heran juga pa, dia gak tau apa yaa siapa papanya Aca. Jadi Bima harus gimana pa?"

"Larang Aca temanan sama teman baru nya itu, papa mau liat Aca berontak lagi atau gak. Dan untuk teman yang ini papa yakin dia orang baik dan abangnya juga orang baik."

"Jangan bilang papa setuju kalo Aca bakal nikah sama tuh orang?!"

"Berpikir dengan cermat Bima! Saya tidak akan melepaskan Aca untuk beberapa tahun ke depan. Kalo dia emang menunjukan keseriusannya saya bisa pertimbangkan. Dan ingat tidak untuk 5 tahun kedepan.

Salsabila🌻Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang