17. Tentang Perpisahan

1.2K 95 13
                                        

Sudah 7 hari lamanya Sakura banyak merenung. Dia tidak banyak berbicara bahkan untuk sekadar beristirahat di rumah pun ia enggan.

Ia tetap terjaga untuk menemani ayahnya yang sedang mengalami koma semenjak beberapa hari yang lalu.

Sasuke yang melihatnya pun turut bersedih. Lantas sudah berapa kali ia berbicara dan menawarkan apapun untuk istrinya tersebut. Namun Sakura tak mengubris dirinya sama sekali.

Sekali lagi, perasaan Sasuke terluka.

Namun ia tahu, yang saat ini lebih terluka adalah Sakura. Melihat sesosok ayah yang paling disayangi jatuh sakit adalah hal yang sangat menyakitkan. Dan Sasuke turut merasakan betapa sakitnya menjadi Sakura.

Rasanya ia ingin terus mengucapkan kata maaf beribu kali pada Sakura untuk apa yang sudah terjadi tempo hari lalu. Untuk semua ucapan jahat yang menyakiti hatinya, Sasuke benar-benar merasa bersalah.

Namun melihat Sakura yang bahkan mengabaikan keberadaannya membuat ia mengurungkan niatnya. Sasuke paham, Sakura hanya sedang ingin fokus menunggu ayahnya bangun kembali.

"Sakura... kita makan ya?"

Sakura menoleh sejenak, kemudian menggeleng pelan dan kembali termenung.

"Nanti kamu sakit jika tidak makan." Sahut Sasuke sembari mengusap rambut berwarna merah muda itu dengan penuh rasa sayang. Ia semakin tak tega melihat Sakura yang terluka seperti ini.

"Apa mau aku suapi makan?"

Tak ada jawaban sama sekali. Sasuke menghela napas lelah. Seperti ini kah rasanya diabaikan? Seperti ini kah rasanya menjadi Sakura dulu?

Tidak dipedulikan sama sekali ketika berbicara adalah hal yang sangat menyakitkan.

Dan lagi-lagi Sasuke merasa amat bersalah pada Sakura.

Namun Sasuke masih terus mengusap rambut Sakura dengan perlahan. Berharap gadis itu mendapatkan kenyaman dan kekuatan dari belaian kasihnya.

"Mau ku belikan susu?" Tawar Sasuke sekali lagi. "Katamu susu sangat baik untuk kesehatan kan? Jadi, kamu mau meminumnya kan jika aku belikan?" Lanjutnya sembari berharap Sakura mau berbicara padanya. Ia sangat mengingat sekali bahwa Sakura dulu pernah memberi tahu padanya manfaat susu yang sangat baik bagi kesehatan.

Mengingat betapa antusiasnya dulu Sakura ketika menjelaskan itu padanya membuat hati Sasuke kembali remuk.

Ia merasa sakit ketika mengingat betapa acuhnya dia saat itu. Dan betapa jahatnya setiap lontaran kata yang keluar dari bibirnya.

Seperti angin yang berhembus, hanya terdengar suara alat-alat kesehatan yang terpasang di tubuh Kizashi, ayah Sakura.

Namun tiba-tiba suara alat itu berubah menjadi seperti sebuah peringatan keras, membuat Sakura dan Sasuke terperanjat kaget.

"Apa... apa yang terjadi..." lirih Sakura. Air matanya mendadak tumpah dengan derasnya. Wajahnya berubah semakin pucat pasi. "Kenapa... kenapa berbunyi..." paraunya.

Sasuke tidak tinggal diam. Ia segera memencet tombol darurat untuk memanggil dokter dengan cepat.

"Mohon maaf, tapi kalian bisa keluar ruangan terlebih dahulu." Sahut dokter dan suster yang tiba-tiba saja sudah menangani Kizashi dengan cepat.

"Papah... tolong jangan pergi..."

Dengan berat hati, Sasuke membawa Sakura keluar dari ruangan sesuai dengan arahan dokter. Walau sempat memberontak, namun Sasuke dengan perlahan mencoba memberikan pengertian pada Sakura dengan memeluknya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Uchiha Hills '20 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang