.
.
.
.
.
Ares, Alta dan yang lain jelas terkejut saat Igel, Rion, Candra dan Damar pulang malam itu. Padahal pagi tadi mereka mengatakan jika mereka perlu menginap sehari disana, menunggu hingga demam Candra turun.
Ares jelas tau ada yang terjadi disana, terutama saat melihat wajah murung Rion. Adik kesayangannya itu menatap lekat padanya sebelum memilih masuk ke kamar nya.
"Gel, ada apa?" Igel tersenyum dan menggeleng kecil.
"Gak ada apa-apa bli, Rion lagi capek kayak nya." Ares menghela nafas, mengangguk meskipun dia tidak percaya.
"Apa kata mas Azka?" Igel menggeleng.
"Hasilnya belum keluar, tapi Candra udah ngerengek minta pulang." Ares tersenyum tipis.
"Ya udah sana istirahat, temenin Rion. Papa juga udah pulang, kangen ayah katanya." Igel tertawa, meskipun sudah tua, orang tua mereka masih saja bucin.
"Bli juga, sana diem aja sambil nonton tv."
.
.
.
.
.
Alta hanya bisa mengelus punggung Candra saat putra sulung nya itu minta peluk. Sebenarnya bukan hal aneh bagi Alta jika Candra melakukan itu, karena Candra memang akan manja di saat-saat tertentu.
"Mas, udah makan?" Candra hanya mengangguk. Pemuda itu meletakan kepalanya pada pundak sang bunda.
"Ibun, kangen Lintang." Alta tersenyum tipis mendengar gumaman lirih Candra.
"Ya sana telpon adeknya mas." Candra justru menggeleng saat Alta memintanya menghubungi Lintang.
"Candra kangen peluk Lintang bun, minta Lintang kesini ya?" Alta mengernyit bingung.
"Lintang kan belum libur mas, nanti kalau udah libur pasti kesini mas." Candra kembali menggeleng.
"Masih lama bun, nanti gak keburu." Alta semakin mengernyit.
"Apa nya yang gak keburu mas?" Alta menangkup pipi Candra dan menatap lekat pacah putranya yang terlihat sedikit pucat.
"Peluk Lintang." Alta yang mendengar itu beralih membelai wajah manis Candra yang serupa dengan miliknya.
"Nanti pasti bisa peluk mas." Candra hanya merengut saat mendengar hal itu.
"Ibun, perempuan kan?" Alta tersenyum tipis, ini sudah kesekian kalinya Candra bertanya soal jenis kelamin calon adiknya.
"Belum tau nak, nanti kalau ibun periksa kamu ikut ya? Biar tau perempuan atau laki-laki." Candra mengangguk. Jemari panjang Candra menyentuh perut Alta yang sudah terlihat sedikit keras.
"Adara." Alta kembali mengernyit saat mendengar gumaman Candra.
"Apa Can?" Candra beralih menatap wajah dan perut Alta bergantian.
"Kalau perempuan kasih nama Adara ya bun? Boleh?" Alta mengangguk, bersyukur karena Candra juga menerima kehamilannya ini.
"Tapi kalau kembar gimana ya bun? Pasti lucu." Alta terpaku mendengar kikikan Candra.
"Kenapa bisa kembar mas?" Candra hanya mengedikan bahu nya.
"Yanda punya silsilah kembar bun, gak menutup kemungkinan ini juga kembar." Alta kembali tersenyum, sepertinya dia harus meladeni ucapan aneh Candra.
"Memang kalau kembar mau kamu kasih nama siapa?" Alta memainkan rambut pink Candra yang sudah mulai memanjang.
"Hala sama Tara." Alta terdiam sebelum mengangguk.
"Kita keep nama nya ya, nanti biar ibun kasih tau yanda juga." Candra kali ini mengangguk antusias.
"Candra pingin punya anak kembar deh bun, tapi kayaknya gak bisa." Alta menghela nafas, dia sudah dengar dari Lintang tentang hubungan Candra dan Jojo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sang Bulan
FanfictionCandra yang baru mengenal lingkungan kampusnya, dengan Jojo yang selalu berada di sekitarnya. Hubungan manis keduanya membuat banyak sekali fans Jojo iri. Candra memang terlihat tidak peduli dengan segala hal yang mulai mencoba mendorongnya menjauh...
