08; rencana balas dendam

254 31 8
                                        

Keluarga Yoon terpaksa pindah sebab satu-satunya rumah mereka harus disita Bank mengingat pinjaman yang tak mampu dilunasi Jung Hyuk. Kini mereka berlima tinggal di rubanah alias rumah bawah tanah, menumpang pada keluarga Kim yang hanya terdiri dari sepasang suami istri dan anak laki-laki lebih muda setahun dari Kazer. Jung Hyuk tidak pernah pulang, sehingga Yoo Hui mencari uang untuk mengisi perut anak-anaknya dengan menjadi pelayan di sebuah bar.

Malam ini, mereka duduk melingkar berempat saja di depan meja bulat; yang terbuat dari besi dan tampak bisa rapuh kapan saja.

Beruntungnya, Bariel sudah membaik. Ia tak perlu kursi roda lagi.

"Makan ini, Bae Won," Yoo Hui mengangsurkan telur mata sapi hanya untuk Bariel, sedangkan Selden dan Kazer hanya bisa memandanginya, "Kalau kurang, Eomma buatkan lagi, ya?"

Bariel canggung menoleh pada saudara-saudaranya, ia tahu Selden menggenggam tangan Kazer di bawah sana.

"Nanti kalau aku punya uang, aku akan membelikanmu Jjajangmyeon, Kyu Jun," Selden sengaja menyindir, "Bayaran dari teman-teman yang tugasnya aku kerjakan lumayan, kok."

Bariel menunduk, dia sungguh serba salah di sini. Ia tidak begitu menginginkan kasih sayang ibunya yang hanya tertuju untuknya, tapi dia tak memungkiri kalau dia juga menyukai perubahan ini.

"Mm, aku tidak terlalu ingin makan Jjajangmyeon, Hyung," Kazer lantas meraih sumpitnya dan mulai melahap nasi putih yang hanya ada setengah mangkuk itu, "Ini cukup."

Yoo Hui tidak begitu menaruh peduli, dia tetap memandangi cara Bariel makan dengan senyuman sumringah. Ia biarkan kedua anaknya yang lain tetap di sana, sementara perhatiannya tak akan luput dari Bariel.

Namun, sekejap itu, pintu rumah ditendang hingga menjeblak lebar, ada suara keras disusul erangan orang mabuk—mereka sudah tahu kalau itu ulah Jung Hyuk. Jung Hyuk tampak amburadul; ia menumbuhkan kumis dan jenggotnya, ia sudah seperti gelandangan lusuh. Ia akhirnya berdiri di dekat keluarganya yang segera mencari tempat aman untuk menyelamatkan diri. Yoo Hui memeluk Bariel, sementara Selden menggandeng Kazer.

"Ey, kenapa—hik—takut?" Jung Hyuk cegukan saat ia menenggak habis isi botol soju di tangannya, "Lanjutkan makan malam kalian, pasti menyenangkan karena tanpa aku, kan?"

PRANG! Jung Hyuk tiba-tiba saja melempar botol soju itu ke dinding hingga pecahan belingnya tercecer di lantai.

"Aaaa!" Yoo Hui reflek berteriak, ia semakin mendekatkan Bariel padanya, "Apa-apaan, sih, Jung Hyuk?!"

Selden dan Kazer otomatis meringkuk ketakutan. Mereka sama sekali tak berani mendongak sampai akhirnya Jung Hyuk berjongkok di depan keduanya. Kemudian, telunjuk Jung Hyuk mendorong masing-masing kening Selden dan Kazer.

"Kalian punya uang?"

Selden menggeleng tegas, "Umurku masih belum legal untuk kerja paruh waktu di minimarket atau di restoran."

"Hm, benar juga, ya."

Kazer diam saat dagunya tahu-tahu saja diangkat, "Lalu, kenapa kau tidak ikut berlindung di pelukan Ibumu, hah?"

Entah mengapa, bagi Jung Hyuk mendapati wajah polos Kazer bisa membuat ia darah tinggi, lain hal ketika ia menatap dua pasang mata milik Selden atau Bariel. Maka, dia selalu lebih tertarik melampiaskan kekesalannya, dari yang kaya raya bergelimang harta untuk tiba-tiba jadi miskin tanpa adidaya, kepada Kazer dibanding kakak-kakaknya. Jung Hyuk marah karena perusahaannya terpaksa gulung tikar sebab hasil akhirnya selalu minus.

"APPA!"

"DIAM!"

Selden berteriak supaya Kazer tidak Jung Hyuk seret lagi ke tengah ruangan. Tapi, ketika ia menoleh pada Bariel, ia hanya mendapat kedipan darinya, entah bagaimana Selden bisa mengintepretasikan itu sebagai larangan untuk menolong.

Scheme [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang