"I have to—kenapa kalian saling menatap begitu?"
Bariel dan Kazer buru-buru menjaga jarak saat Selden tiba-tiba berada di tengah mereka. Selden sendiri enggan ambil pusing, dia kemari untuk mengajak adik-adiknya berdiskusi. Tapi sepertinya, sebelum ini ada hal serius yang mereka bicarakan. Selden juga tidak terlalu peduli soal seberapa pucat wajah Kazer dan seberapa besar kekhawatiran yang muncul di wajah Bariel.
"Aku harus bicara dengan kalian tentang Appa," ujar Selden, ia lantas berjalan ke arah pintu lagi, "Aku tunggu di ruang tengah."
Sepeninggal Selden, Bariel senantiasa mengamati gerak-gerik Kazer; yang kikuk, yang seperti sedang berusaha mencari alasan untuk melarikan diri.
"Kau sakit apa—"
"—ayo, Selden sudah menunggu—"
"—aku bisa tanya ke Jouseff—"
"—dia tidak akan memberitahumu."
Desisan Kazer barusan semakin meyakinkan Bariel bahwa ada yang disembunyikan di sini. Kemudian, Kazer begitu saja melenggang keluar kamar, sengaja menyisakan Bariel bersama renungannya.
***
"Seoul?"
Chalfo mengangguk, tapi dia tidak mengalihkan tatapannya dari Jovar yang sedang mengamati tiket pesawat itu, "Kau berangkat malam ini. Aku juga sudah booking satu kamar hotel di dekat gedung tempat diadakannya pemilu. Kau masih ingat Yoon Jung Hyuk, ayah Selden, Bariel, dan Kazer yang pernah tinggal di rumah bawah tanahmu, kan? Ya, dia. Dia adalah targetmu. Tapi, jangan buat dia sampai mati. Cukup tembak bahunya dari bangunan seberang gedung itu. Selden juga sudah menyiapkan senjatamu."
"Kelihatannya gampang."
Chalfo mengangguk lagi, "Memang, tapi untuk orang belum berpengalaman sepertimu, misi ini bisa berakhir fatal kalau kau tidak berhati-hati. Masalahnya, kau harus melakukan ini sendiri, tidak ada orang-orangku yang akan menjagamu, tapi ada mereka para pengawal Jung Hyuk yang tersebar di setiap titik saat pemilu besok."
"Noted," tandas Jovar begitu percaya diri, "Serahkan saja padaku. Oh, jadi mereka bertiga memutuskan untuk balas dendam pada pria itu? Yah, aku setuju, sih. Ah, aku juga ingat bagaimana orang itu menyiksa istri dan anak-anaknya dulu."
"Tetap waspada."
"Tenang, aku siap mengantongi satu set belati."
"Jangan sombong."
Jovar pun terkekeh, lalu mengedarkan pandang ke seluruh penjuru markas Eager Eagle ini, "Aku baru tahu kau adalah juru bicara Xelaile. Bukannya memintaku bertemu di gudang Xelaile, tapi malah di sini?"
"Aku freelancer, aku tidak terikat dengan mereka. Tapi, asal kau tahu, aku rela dimintai bantuan karena aku juga suka uang. Jadi, jangan pernah berpikir kalau aku tidak keberatan diminta ini itu karena sebuah hutang budi atau semacamnya. Tidak sama sekali."
"Aku tidak pernah mempertanyakannya sampai sana," Jovar jadi memancing, "Uh, kecuali sebenarnya kau memang punya hal seperti itu? Kind of sesuatu selain uang?"
"Aku tidak pernah bohong, aku memang hanya butuh uang mereka untuk menghidupi anak buahku dan memberdayai Eager Eagle. Jangan sok tahu, kau ini anak baru. Memang kita sama-sama berangkat dari masa lalu mereka bertiga, tapi menetaplah di tempatmu."
Kemudian, Chalfo berdiri di sebelah kursi di mana Jovar duduk sambil menyilangkan kaki. Ia mendaratkan satu tangannya di bahu laki-laki tan itu sebelum melemparkan identitas baru seperti ID card, driving license, paspor, kartu hotel, dan bahkan kartu debit di meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Scheme [✓]
Misteri / ThrillerTiga bersaudara ini hidup dalam kegelapan. Meski tinggal seatap, tidak satu pun saling menaruh peduli. Masing-masing punya pesakitan dan penderitaan sendiri, yang disimpan rapat-rapat dalam kotak masa lalu. Meski begitu, tujuan mereka tetap berorien...
![Scheme [✓]](https://img.wattpad.com/cover/333094663-64-k851858.jpg)