13; pelanggaran

218 29 2
                                        

Hari ini, Kazer sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Selden dan Bariel tidak di rumah, tentu saja. Tidak mungkin mereka mau repot-repot menyambutnya sedemikian rupa. Toh, dia sudah terbiasa mandiri. Kazer pun menyandarkan kruknya di dinding sebelum mendudukkan diri di sofa, lantas menghela napas berat berkali-kali.

"Eomma harusnya lihat anak-anak Eomma sekarang punya rumah sebagus ini, punya uang di mana-mana, punya aset melimpah ruah. Harusnya Eomma ikut menikmati semua ini, kan?"

Monolog Kazer barusan tersapu angin begitu saja. Tidak ada siapapun yang akan menimpali omongannya. Namun, di benak Kazer hanya tersisa potongan-potongan masa lalunya. Setiap kali ia sendirian, waktu seakan berbalik menuju serpihan luka dan pesakitan derita yang masih mengendapkan trauma di hatinya.

"Miskin. Miskin. Miskin. Hei, sekarang keluargamu bangkrut, kan?"

Kazer mengintip gerumbulan anak laki-laki yang tengah menyudutkan Bariel di sisi lapangan itu. Ia tidak berani mendekat, sejauh ini ia hanya sanggup menguping saja. Bukannya ia tidak mau menolong, tapi dia tahu diri bila mereka jauh lebih tua dan lebih besar darinya—jadi, apakah dia harus memanggil Selden? Namun, karena Selden sudah jadi murid SMP, sedangkan Bariel dan dirinya masih bocah SD, gedung sekolah mereka pun terpisah dengan jarak yang lumayan jauh, meski masih berada di satu lingkungan.

"Kau harusnya malu. Sudah miskin, masih memaksakan sekolah di sini. Kau itu tidak mampu," Salah satu dari mereka, yang badannya paling bongsor, sengaja mendorong pelipis Bariel, "Kalau miskin, harusnya putus sekolah, tahu. Ini bukan tempatmu."

Bariel diam, dia tidak melawan sebab sudah berulang kali hal itu ia lakukan dengan hasil nihil alias nol besar.

"Jadi, apakah Ayahmu sekarang seorang pemabuk dan Ibumu sekarang seorang pelacur? Yah, bagaimanapun, hidup kalian kan susah dan kebutuhan sehari-hari itu mahal, cara instan untuk mencukupinya—"

"—bicara apa mulut busukmu barusan? Hah?! Ulangi!" Karena orang tuanya disinggung, Bariel jadi tidak terima. Ia sigap mencengkeram kerah seragam anak bertopi yang baru saja mengejeknya. "Menurutmu, hidupmu sudah sempurna, hah? Menurutmu, keluargamu akan baik-baik saja sampai akhir, hah? Kau bisa mengalami seperti apa yang aku alami! Suatu saat nanti!"

"Uh, bagaimana, ya? Aku jadi takut. Hahaha! Kau pikir ancamanmu itu akan membuatku meminta maaf? Hei, justru membuatku kegelian, tahu. Lagi pula, aku kan hanya bicara fakta. Kau dan saudara-saudaramu sama-sama tidak berguna, sama seperti orang tuamu—"

BUGH!

Tanpa aba-aba, Bariel memukul wajah anak itu hingga tersungkur. Di sela napas tersengalnya, Bariel hanya bisa menurut saat seseorang menariknya mundur dari kerumunan. Baru setelah mereka sampai di tempat sepi alias di belakang gedung sekolah, Bariel menyentak pegangan Kazer di tangannya.

"Aku belum puas menghajar anak kurang ajar itu—"

"—dan Hyung mau biarkan yang barusan jadi masalah rumit di hidup kita yang sudah rumit?" potong Kazer, langsung menuju inti, "Aku tahu Hyung sakit hati, tapi kalau diladeni terus, justru akan semakin memburuk. Yah, buruk untuk semuanya."

"Lalu, apa kita harus terima-terima saja saat harga diri kita diinjak-injak begitu?"

Kazer menunduk, dia memang tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Bariel. Toh, apa salahnya membela diri dan keluarganya?

"Lalu, saat orang tua dan saudara-saudaramu dikatai begitu, kau hanya akan diam saja?"

Kazer kini mendongak, lalu menggeleng lemah, "Solusi yang diberikan guru-guru itu pasti konseling lagi. Padahal, guru konseling pun hanya bisa bilang kalau kita perlu introspeksi diri, dia menyuruh kita untuk bercermin sambil bermonolog demi menemukan apa yang salah dari kita. Gila, kan? Padahal, masalahnya ada pada anak-anak bodoh itu. Aku juga muak, Hyung. Tapi, kita bisa apa?"

Scheme [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang