“Enak ...,” ujar Cia mengunyah somai yang di suapakan oleh Gala.
“Lo nggak apa-apa tusuknya bekas gue?”
“Nggak apa-apa, emang kenapa?”
Belum sempat Gala menjawab tangan Cia sudah maju mengusap bibir Gala, menyapu sisa sambal yang menempel di sudut bibir cowok itu menggunakan telunjuknya dan memasukan telunjuknya sendiri ke mulut.
“Eh–” Melihat itu Gala membatu.
Deg! Deg! Deg!
[Astaga, jantung gue kenapa?] batin Gala menundukkan wajahnya sambil memegang dada karena baru saja dia melihat tingkah sensual Cia yang membuat bulu romanya auto berdiri.
“Gala, kenapa?”
“Hah? Anu–itu ... a ... a–anu .”
[Kenapa gue gagu setan! Huf santai Gala, santai.]
“Gala?” Cia mengusap kepala cowok itu dan mengangkat dagunya agar bisa melihat wajah Gala namun dia terkejut saat melihat dengan cukup dekat, ternyata wajah serta telinga Gala memerah.
“Gue ... Nggak kenapa-kenapa,” jawab Gala memalingkan wajahnya.
“Pulang, gue anter.”
“Naik apa?” tanya Cia.
“Itu kan ada sepeda, pake sepeda Lo lah.”
Cia hanya mengangguk lalu menaiki sepeda dengan berdiri di belakang Gala.
“Cereboh,” gumam Gala karena merasakan benda kenyal yang menempel dipunggungnya.
[Kalau sama cowok lain kaya gini juga gimana, sumpah kagak ikhlas gue.]
“Gala, ngomong apa?”
“Em ... ternyata Lo pendek ya.”
Cia langsung cemberut dan menggembungkan pipinya.
“Gala turun aja.”
“Kenapa?”
“Nggak usah pulang naik sepeda Cia.”
Cowok itu menghela napas dan menghembuskannya perlahan menyadari Cia yang ngambek.
“Dada Lo nempel punggung gue.”
Deg!
Cia langsung menutup matanya dengan satu tangan dan menjauhkan diri dari tubuh Gala.
“Cepet jalan,” ketus Cia malu.
****
Keesokkan paginya Gala tengah berfikir kenapa dia selalu mengantuk saat jam pelajaran tiba, penjelasan guru bagaikan dongeng pengantar tidur yang merdu di telinganya.
Saat ini dia sedang menahan kantung agar tidak tertidur di kelas sebab di sampingnya ada waifu mimin yang siap mengomelinya setiap waktu.
Namun saat Gala menengok ke samping ternyata ....
“Lah , dia tidur.”
Cowok itu terus memandangi wajah polos milik Cia hingga ingatannya kembali pada hari kemarin saat dia menghabiskan waktu dengan gadis itu.
Gala sempat heran saat melihatnya tertidur karena tidak biasanya Cia akan tidur saat jam pelajaran seperti ini dan yang lebih membuatnya terkejut adalah tiba-tiba saja gadis itu menggeliat dan menidurkan kepalanya di meja sambil menatap Gala.
“Pagi, Ayang.”
“Hah?” Gala yang terkejut di sapa begitu pun dengan cepat menghadap ke depan namun matanya sesekali masih melirik Cia yang tengah senyum-senyum sendiri.
“Alicia!”
“Ya sensei!” Cia bangun dari tidurnya cepat saat sang guru memanggilnya, saking besar suaranya hingga para murid pun menatapnya aneh.
“Kerjakan soal nomor 3.”
“Eh–”
Dengan wajah cengar-cengirnya Cia berjalan ke depan. Karena dia sama sekali tak paham akhirnya dia meminta bantuan Gala yang ada di sampingnya dengan berbisik.
“Mohon bantuannya, A–yang,” bisik gadis itu sambil tersenyum.
Mendengar itu Gala pun memutar bola matanya malas, lalu menunjukkan jawaban nomor 3 yang sudah ia kerjakan.
Saat Cia maju ke depan tak sengaja Gala mencium wangi gadisnya itu. Hingga tanpa dia sadari dirinya tengah senyum-senyum sendiri.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
GALASKAY
Teen Fiction"Gala, semangat," tangan Cia terangkat mengusap rambut Gala. Membuat Gala terpaku sejenak. "Gue mau jadi pacar Lo. Tanpa sya-rat." "Gala, jangan sedih lagi ya. Sekarang ada Cia," ujar Cia mengusap pipi Gala. Kisah ini menceritakan tentang Alicia gad...
