Clek! Pintu kamar mandi terdengar tertutup memperlihatkan Gala yang baru saja ke luar dari sana namun tanpa Gala sadari sudah ada Rezi yang menunggunya sambil bersandar pada tembok.
Gala mencoba acuh dengan terus melangkahkan kaki tapi tangan Rezi dengan cepat menariknya.
“Nyelonong aja lo.”
“Lo mau apa?” tanya Gala.
“Mau gue, mau gue Lo jauh-jauh dari Cia. Karena apa ... karena Lo itu cuma anak berandalan yang kekurangan kasih sayang dan Lo! sama sekali nggak pantes ada di samping Cia.”
“Gue nggak butuh pendapat Lo,” ujar Gala datar.
“Lo nggak berhak buat ngatur hidup gue atau pun hidup Cia. Asal Lo tau, Cia pacar gue, milik gue. Inget itu.”
Gala berlalu pergi meninggalkan Rezi yang tengah memukul tembok dengan kesal, hanya dengan gertakkan seperti itu tentu saja Gala tidak akan gentar.
“Lo tunggu aja, gue akan rebut semua milik Lo itu.”
Sedangkan di kelas Xii Cia tengah duduk di bangkunya sambil menggambar acak buku tulisnya, ada gambar Boni, gambar maca latte kesukaannya dan juga Gala.
Ya, gadis itu tengah menggambar Gala yang sedang tertidur di bangkunya sendiri dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
Gala yang sudah duduk dari tadi tampak memperhatikan Cia dalam diam. Dalam hati dia berjanji akan selalu menjaga gadis yang sudah menjadi miliknya itu.
Cowok itu beranjak dari duduknya lalu berjalan ke belakang bangku Cia. Dengan tiba-tiba Gala meraih kepala Cia lalu mendongakkannya ke atas dan ..
Cup! Dia mencium dahi gadis itu lama.
“Gala?”
“Hm.”
“Lepasin kepala Cia, pegel,” rengek gadis itu.
Sedangkan gala justru terkekeh, dia menurunkan kepala Cia. Ke dua tangannya bertumpu pada kursi sedangkan dagunya bersandar pada pundak gadis itu.
Mata Gala lekat memandang gambar yang ada di depannya sambil tersenyum, sedangkan tangan kekarnya maju membuat coretan di buku itu.
“Bulan, semakin di lihat semakin cantik kaya kamu, Alicia.”
****
Saat ini Gala tengah membujuk pacarnya ini agar mau pulang, sebab dia merajuk karena Gala tak mengizinkannya pergi ngemall.
“Cepet naik.”
“Nggak mau.”
“Nggak usah ngeyel, cepetan naik!”
“Cia bilang nggak mau, kenapa sih kamu maksa.”
“Kenapa? ... marah karena nggak di izinin main. Lagian ini baru pulang sekolah, balik ke rumah istirahat, masih ada hari Minggu kan?”
“Tapi Sella sama Tara ngemal–”
Tanpa ba-bi-bu Gala menggendong Cia dan menaikannya ke atas motor.
“Pulang, istirahat!”
Mendengar itu Cia hanya cemberut tanpa membalas ucapan Gala.
[Punya ayang stress nggak punya ayang depresot. Definisi buat hidup susah sendiri,] batin Cia ngomel sana-sini.
Gala memandang Cia yang cemberut dari kaca spionnya pun menarik tangan Cia lalu melingkarkannya di pinggang kekar miliknya.
“Pegangan biar nggak jatoh.”
Namun Cia masih tetap saja cemberut.
“Jangan cemberut terus nanti cantiknya ilang ... coba senyum dulu,” bujuk Gala.
“Kalo nggak senyum gue nggak jalan nih, biar kita nginep aja di sekolahan.”
Mendengar itu Cia pun tersenyum, “Gila aja nginep di sini, udah yuk pulang.”
Motor Gala perlahan melaju meninggalkan area sekolahan yang sudah sepi.
“Jangan marah lagi, gue nggak suka liat lo cemberut.”
Mendengar itu Cia mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Gala.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
GALASKAY
Teen Fiction"Gala, semangat," tangan Cia terangkat mengusap rambut Gala. Membuat Gala terpaku sejenak. "Gue mau jadi pacar Lo. Tanpa sya-rat." "Gala, jangan sedih lagi ya. Sekarang ada Cia," ujar Cia mengusap pipi Gala. Kisah ini menceritakan tentang Alicia gad...
