Gala terlihat berjalan-jalan mengelilingi sekolah mencari tempat yang pas agar bisa memakan bekalnya dengan aman.
Saat dia sudah duduk di pinggir lapangan yang sepi dan siap memakan bekalnya tiba-tiba ..
“Gala?”
“Eh–”
Suapan itu menggantung di udara karena belum sempat dia makan dan secara tidak terduga ..
Aaa'amm ...
Cia justru melahap bekal di tangannya dengan wajah mendongak menatap Gala yang sekitika membuat cowok itu membatu.
“Enak.”
“Hah?”
Melihat ekspresi Gala yang terkejut Cia justru mengambil garbu di tangan kiri Gala, menusuk sosis dan memasukkannya dalam mulut cowok itu.
Tanpa Cia sadari Gala sedang kesusahan menelan salivanya apa lagi saat gadis itu ikut menggigit sosis yang ada di bibir pemuda itu.
Hembusan napas hangat Cia terasa menerpa wajahnya yang memanas.
Tanpa menunggu lama Gala dengan cepat memutus sosis itu agar Cia tidak semakin dekat dengan bibirnya.
Cia tersenyum kecil menyadari wajah Gala yang memerah.
“Lagi malu ya?” tanya Cia dengan tersenyum.
“Lagi laper,” jawab Gala.
“Ya udah buruan di makan bekalnya.”
Gala menggerutu dalam hati, bagaimana dia bisa makan dengan tenang saat Cia justru ada di hadapannya bertopang dagu sambil senyum-senyum sendiri menatap dirinya yang tengah menyuap makanan.
Gala menghela napas pelan.
[Gimana bisa makan kalau di liatin kaya gitu terus?]
******
Setelah selesai memakan bekalnya Gala terlihat bangkit dari duduknya hendak pergi ke perpustakaan, sedangkan Cia dia sudah pergi lebih dulu saat seorang guru memanggilnya.
Bukan tanpa sebab Gala pergi ke perpustakaan karena semalam Ayahnya mengancam jika nilainya tidak baik di UAS kali ini maka dia akan merampas semua game Gala termasuk PS juga seperangkat komputer miliknya.
Namun saat Gala sudah duduk dan membuka bukunya dia terlihat terkejut karena dia sama sekali tak memahami pelajaran yang dia tulis.
Tanpa di duga-duga di saat di tengah kebingungan Cia datang sambil membawa setumpuk buku dan menekan perut Gala hingga Gala terkejut.
“Hua!”
“Shut ... Gala. Di perpustakaan harus diem.”
“Lagian lo ngapain ngagetin. Hampir aja jantung gue copot.”
Mendengar itu Cia hanya tersenyum.
“Kamu ngelamun sih, jadi nggak tau ada Cia, kan,” jawab Cia melirik buku yang ada di meja.
“Gala lagi belajar?”
“Nggak, lagi tidur.”
“Bisa aja bercandanya.”
Gala memijat pelipisnya.
“Sini Cia ajarin.”
“Mau nggak?”
Gala sempat ingin menolak tawaran itu, karena dia khawatir Cia hanya akan menertawai kebodohannya. Namun cowok itu kembali teringat gamenya di rumah, jika dia tidak belajar sudah pasti gamenya akan di sita sang Ayah karena mendapati nilai UAS nya merah.
“Nggak mau ya udah. Cia pergi aja,” ucap gadis itu.
“Iya mau.”
“Oke, tapi ada bayarannya.”
“Sama pacar sendiri perhitungan amat,” keluh Gala memutar bola matanya malas.
“Harus dong.”
“Gala nggak punya duit, Cia ....”
“Bukan pakai uang, Cia cuma minta liburan nanti kita jalan ke pantai.”
[Sama aja itu mah pakai uang Mimin] batin Gala.
“Ya udah deh iya, nanti tapi Gala nabung dulu.”
“Semangat ya nabungnya, xixixxi”
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
GALASKAY
Novela Juvenil"Gala, semangat," tangan Cia terangkat mengusap rambut Gala. Membuat Gala terpaku sejenak. "Gue mau jadi pacar Lo. Tanpa sya-rat." "Gala, jangan sedih lagi ya. Sekarang ada Cia," ujar Cia mengusap pipi Gala. Kisah ini menceritakan tentang Alicia gad...
