Gala mencoba mengabaikan dokter yang ia lihat tengah membeli obat di apotek namun baru saja dia menaiki motornya terlihat seorang suster membawa banyak belanjaan dan tak berapa lama kemudian datang mobil menjemput mereka.
“Rezi?” gumam Gala.
Merasa aneh dengan kejadian itu secara diam-diam Gala pun mengikuti ke mana mobil itu pergi. Hingga perlahan dia berhenti saat mobil itu memasuki sebuah vila dengan dua penjaga di gerbangnya.
“Sejak kapan Rezi tinggal di vila, setau gue dia di apartemen?”
Semakin kesini, Gala semakin penasaran dengan tingkah pemuda itu yang menurutnya misterius.
Clek, pintu kamar salah satu vila itu terbuka memperlihatkan nuansa putih dan crem yang menghiasi dinding.
Denting suara monitor turut memecah kesunyian membuat Rezi berjalan pelan menuju ranjang di mana ada seorang gadis yang tengah terbaring lemah di sana.
“Sekarang lo milik gue, karena nggak ada yang bisa nolak keinginan gue termasuk Lo, swety” ujar Rezi memegang dan mencium rambut panjang gadis itu.
Ya, gadis itu adalah Alicia. Gadis yang dinyatakan meninggal tempo hari ternyata masih hidup dan ada di villa Rezi.
Tanpa sepengetahuan semua orang Rezi sudah lebih dulu datang ke rumah sakit, dia bergerak cepat saat membaca logo RS.Kasih Ibu di kaca ambulance itu.
Dengan uang dia bisa melakukan segalanya menyuap dokter dan suster termasuk juga menukar jenazah yang ada di dalam peti mati dan membawa gadis yang telah membuatnya terobsesi itu pergi bersamanya.
*****
“Lokasinya terlacak, motor itu ada di sebuah vila nggak jauh dari tempat tabrak lari,” ujar seorang polisi.
“Tetap pantau, saya dan tim akan meluncur ke sana.”
Mendengar itu Gabriel mengambil ponselnya dan menghubungi Gala.
[Halo, Gala. Om sudah menemukan lokasi penabrak dia ada di sebuah vila nggak jauh dari TKP.]
[Ya, kita ketemu di sana.]
Disisi lain Gala justru kaget karena lokasi yang Gabriel kirim kini ada di depan matanya.
Dia turun dari motor dan berjalan cepat menuju gerbang yang terdapat dua penjaga di sana lalu memukulnya dengan balok kayu yang dia pungut di pinggir jalan.
Bug!
Bug!
Brug!
Dua penjaga itu roboh seketika, masih dengan balok di tangannya Gala berlari memasuki area vila itu dan mendobrak pintu masuk sambil berteriak-teriak.
“Rezi!”
“Rezi, ke luar Lo brengsek!”
Karena tak ada jawaban Gala pun memasuki kamar tempat di mana Cia berada.
Klek!
Hening.
Hanya tatapan Gala yang seakan tak percaya bahwa sekarang Cia ada di hadapannya.
“Cia?”
Bug!
Satu pukulan mendarat di punggung Gala membuatnya terhuyung ke depan.
“Berani-beraninya Lo masuk ke kamar gadis gue!” seru Rezi.
“Lo , Lo gila. Kenapa Lo sembunyiin Cia di sini hah?”
“Nggak usah banyak bacot, lebih baik gue segera kirim Lo ke neraka.”
Rezi maju melayangkan pukulan di wajah Gala namun cowok itu bergerak gesit hingga dapat menghindarinya.
Di tengah-tengah perkelahian itu, mata Cia perlahan mengerjap dan terbuka sempurna.
“Gala?”
Gala menoleh ke arah gadis itu.
Dor!
“Argh ...”
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
GALASKAY
Fiksyen Remaja"Gala, semangat," tangan Cia terangkat mengusap rambut Gala. Membuat Gala terpaku sejenak. "Gue mau jadi pacar Lo. Tanpa sya-rat." "Gala, jangan sedih lagi ya. Sekarang ada Cia," ujar Cia mengusap pipi Gala. Kisah ini menceritakan tentang Alicia gad...
