Sejak pulang sekolah hingga sampai rumah Gala. Cowok itu sama sekali tak melepas tautan tangan mereka bahkan saat mereka tengah naik motor, dia selalu saja mengelus tangan Cia bahkan menggenggamnya erat.
Ada debar yang tak kunjung berhenti di dadanya, ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. Gala takut Cia pergi, Gala takut kehilangan gadis itu dia tidak mau jauh-jauh dari Cia bahkan sejengkal pun.
“Gala, kamu kenapa, tangan kamu dingin?” tanya Cia saat mereka tengah duduk di sofa.
“Gue takut, tolong jangan pergi, jangan tinggalin gue.”
“Gala, Cia di sini, Cia nggak akan kemana-mana. Kamu tenang ya,” gadis itu menggenggam tangan dingin Gala.
Namun dia merasa aneh saat tubuh Gala justru mengeluarkan banyak keringat, wajahnya pucat bahkan matanya memerah.
“Gala?”
“Gala, jawab Cia!”
Cowok itu hanya diam, dia memeluk Cia erat dengan terus bergumam.
“Jangan pergi.”
“Jangan tinggalin gue.”
“Tolong, Gala butuh Cia. Gala cuma mau Cia.”
Deg!
Badan Gala panas, dia demam. Sedangkan Cia sudah menangis memeluk lelaki itu.
“Gala, sadar.”
“Cia di sini, Gala. Cia nggak akan kemana-mana.”
Isakkan gadis itu membuat Gala menatap wajahnya.
“Ci–Cia ... Jangan, Gala takut.”
Cia mengangguk menenggelamkan kepala Gala di ceruk lehernya.
“Tenang, Cia nggak akan kemana-mana. Gala tidur ya.”
“Jangan takut, Sayang. Istirahat.”
Getaran di tangan pria itu perlahan menghilang, napasnya mulai teratur.
“Selamat tidur pahlawan.”
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
GALASKAY
Ficção Adolescente"Gala, semangat," tangan Cia terangkat mengusap rambut Gala. Membuat Gala terpaku sejenak. "Gue mau jadi pacar Lo. Tanpa sya-rat." "Gala, jangan sedih lagi ya. Sekarang ada Cia," ujar Cia mengusap pipi Gala. Kisah ini menceritakan tentang Alicia gad...
