24. Galaskay

1K 19 0
                                        

Gala mendongak menatap wajah gadis kesayangannya.

“Cantik.”

“Hm?”

“Rambut lo berantakan, biar gue kuncir.”

Gala bangkit tak menghiraukan wajah heran Cia.

[Sejak kapan Gala pakai gelang kuncir kaya gitu?] batin Cia heran melihat gelang  hitam polos di tangan Gala yang ternyata kuncir rambut.

Tangan Gala perlahan merapihkan rambut Cia dan mengumpulkannya jadi satu, namun pergerakannya terhenti kala hidungnya mencium aroma apel menenangkan diri leher gadis itu.

Cia terkejut tak kala merasakan hembusan napas hangat Gala menerpa lehernya.

Cowok itu tengah menghirup aroma tubuhnya dengan sangat dekat membuatnya geli sendiri.

“Gala, kamu ngapain sih geli tau nggak.”

“Nggak nggapa-ngapain, lo wangi, enak.”

Cia memutar bola matanya malas. [Modus nih cowok, dasar buaya.]

Tiba-tiba pengeras suara di sekolah mereka berbunyi, mengumumkan sesuatu.

[Pengumuman, kepada para siswa di mohon untuk membawa ke luar barang-barang pribadinya dari dalam kelas karena kelas akan segera di bersihkan untuk UAS besok dan silakan mencatat jadwal yang sudah tersedia di papan pengumuman. Terimakasih]

“Kayaknya kita bakalan pulang cepet,” ujar Gala yang tengah menguncir rambut Cia.

“Kalo beneran, asik dong. Aku bisa nonton Drakor di rumah.”

“Nggak, Lo pulang ke rumah gue.”

“Nggak mau, Cia males ketemu Jeni.”

“Nggak akan ketemu dia, gue juga nggak punya temen di rumah. Ayah pasti ke restoran.”

“Mau ngapain, Gala.”

“Nonton, katanya lo mau nonton?”

Mendengar itu mata Cia berbinar dia mengangguk cepat.

Setelah selesai menulis jadwal Gala pun meminta Cia menunggunya di depan gerbang sekolah karena dia harus mengeluarkan motornya dari tempat parkir yang tengah ramai dengan remaja laki-laki.

Cia menurutinya dan menunggu di trotoar, sesekali kakinya dia ayun-ayunkan ke tepi jalan menendangi batu kecil.

Dari kejauhan Gala melihat ada motor yang melaju sangat cepat, dia tergesa-gesa turun dari motornya dan berlari menuju gadis itu.

Wus!

Grep!

Gala menarik dan mendekap Cia erat, sedangkan tubuh Cia menjadi kaku karena kejadian barusan.

Deg! ... Deg! ... Deg! ....

“Jangan ... jangan ulangi lagi. Gue nggak mau lo kenapa-napa.”

“Gue takut,” ucap Gala memeluk Cia erat.

Tbc


GALASKAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang