22.Galaskay

1K 19 0
                                        

Terlihat Cia tengah duduk sendirian di rooftop sambil mengusap air matanya.
Namun tak lama berselang terulur sebuah tisu di depan wajahnya.

Wajah Cia mendongak menatap sosok di hadapannya.

“Mau apa lagi? Belum puas liat aku nangis. Pergi! Aku nggak mau ketemu kamu,” seru Cia pada Gala yang terlihat menundukkan wajahnya.

“Maaf.”

“Nggak, Cia nggak mau maafin Gala.”

“Mending kita putu–”

“Stop, please stop. Gue nggak mau!”

“KENAPA, hah? Bukanya kamu bisa bebas ya deket dengan siapa pun, jugaan dari awal cuma Cia yang mau jalanin hubungan ini.”

“Nggak, please maafin Gala.”

Cowok itu memeluk tubuh Cia hingga kepala gadis itu bersandar di perutnya.

“Maaf.”

“Nggak.”

“Maafin.”

“Nggak mau.”

Gala semakin mengeratkan pelukannya mendengar jawaban Cia yang enggan memaafkannya.

“Please?” rengek Gala.

“Gue nggak akan ulangi lagi, asal jangan putus.”

“Jauhin Jeni,” jawab Cia.

“Tapi dia sahaba–”

“Okey, jauhin Cia.”

“Nggak mau.” Kali ini Gala berjongkok dan menelungkupkan wajahnya di pangkuan Cia.

“Kamu egois.”

“Bukan gitu–”

“Terus apa?” sela Cia.

“Iya gue mau, tapi Lo juga harus nurutin ucapan gue.”

“Apa?” tanya Cia.

“Nggak boleh deket-deket cowok lain.”

“Tergantung kamunya.”

“Gue juga gitu, Sayang.”

Cia terpaku mendengar ucapan Gala, ada gleyer aneh di dadanya.

“Janji?”

“Janji.“

“Cium?”

“Nggak mau, aku lagi males liat muka kamu.”

Hening.

“Gue jadi nggak semangat,” keluh Gala.

Cia tersenyum menang.

Tbc

GALASKAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang