DIS-14-In Two Minds

17.6K 2K 270
                                        

Adelia's.



"Untuk presentasi selanjutnya dilanjutkan minggu depan, ya. Ini presentasinya kurang 3 kelompok, kan?" Pertanyaanku barusan disahuti bebarengan oleh seisi kelas. "I'll see you next week. Have a wonderful day!"

Setelah mendengarkan presentasi dari 4 kelompok, aku akhirnya membubarkan kelas Curriculum and Material Development untuk hari ini.

Aku mengulas senyum sembari membalas uluran tangan beberapa mahasiswa yang menyalami tanganku sebelum mereka keluar dari kelas. Beberapa dari mereka ada yang meminta saran dariku untuk presentasi minggu depan, mengambil kursi dan menyejajarkannya di depan meja yang kutempati.

Berbeda dengan image yang dimiliki dosen-dosen lain—atau yang kumaksud di sini adalah Nana ketika dia masih mengajar di sini—aku dikenal ramah oleh mahasiswa-mahasiswa di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di UGS ini. I purposefully created that image, agar sosokku dikenal baik oleh banyak orang di sini.

Sebisa mungkin aku akan bersikap ramah dan hangat di mata mahasiswa dan dosen-dosen di sini. Dalam keadaan apa pun. I want them to know who I am and to think highly of me.

Seperti sekarang ini contoh kecilnya. Harusnya sekarang aku sudah bersiap-siap untuk pulang, bukan memberikan bimbingan dadakan salah satu mahasiswa bimbinganku. Aku harusnya bisa menolak permintaannya saat menghalangi langkahku yang akan keluar dari kelas.

Tapi, tentu hal itu tidak akan mungkin aku lakukan. Tidak jika berada di bawah tatapan iba mahasiswa-mahasiswa lain yang melihat bagaimana teman, senior mereka tengah memohon kepadaku untuk melakukan bimbingan singkat dengannya di dalam kelas.

"Mimpi apa coba dia dapat dosen pembimbing kayak Miss Adelia begitu?"

"Bisa nggak, sih, nanti dosen pembimbingku Miss Adelia aja? Gila, baik banget!"

Gumaman-gumaman pelan yang aku dengar dari luar kelas begitu aku menerima ajakan bimbingan singkat ini mampu membuatku mengulum senyum.

"Gimana, Miss? Apa saya perlu ganti theory lagi?" tanya Caca—mahasiswi yang memaksaku memeriksa skripsinya—sambil memandangku takut-takut.

Mataku dengan teliti membaca lembar-lembar skripsi milik Caca, sebelum memberikannya kembali ke gadis muda itu. "Nggak perlu. Pakai yang itu saja," jawabku singkat, membuat Caca bisa bernapas lega.

"Berarti saya bisa lanjutkan ke bab pembahasan, 'kan, ya, Miss?" tanyanya lagi dengan mata penuh binar.

Kepalaku bergerak mengangguk, sementara tanganku mulai membereskan lembar-lembar skripsi milik Caca—mengumpulkannya menjadi satu bagian dan meletakkannya tepat di depan hadapan Caca.

Gadis muda itu ikut menganggukan kepala, dengan senyum yang lebar ia ikut membereskan barang-barangnya di atas meja. "Terima kasih banyak, ya, Miss!"

Setelah menanyakan beberapa poin lain, Caca akhirnya sadar diri dan pamit untuk pulang karena hari sudah malam. Diam-diam, aku juga ikut bernapas lega karena akhirnya bisa pulang juga.

"Loh, Miss Adelia, kok, belum pulang?" Baru saja keluar dari lift, sosok Miss Lusi dan Pak Felix menyapaku.

Langkahku yang seharusnya lurus menuju ruangan dosen terpaksa beralih ke tempat Pak Felix dan Miss Lusi berdiri. "Tadi ada mahasiswa yang minta bimbingan sebentar, Miss, Pak," jawabku setelah menghampiri mereka.

Kening Pak Felix berkerut, "Bukannya untuk bimbingan ada batas jamnya, ya?"

Aku dan Miss Lusi sama-sama menganggukan kepala. "Sampai jam 5 sore memang, Pak," sahut Miss Lusi yang berdiri bersebelahan dengan Pak Felix.

DISCONNECTED (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang